Spilt Milk | EoS 2025

Spilt Milk adalah film drama produksi Irlandia yang diarahkan oleh Brian Durnin. Film ini telah diapresiasi tinggi pada beberapa ajang festival, di antaranya Irish Film and Television Awards  2025 yang meraih nominasi untuk sutradara, naskah, kostum, hingga film terbaik. Film ini dibintangi Cillian Sullivan, Naoise Kelly, Danielle Galligan, Laurence O’Fuarain, serta Pom Boyd. Beruntung, film ini diputar dalam edisi Europe on Screen 2025 kali ini dan sang sineas bahkan hadir dalam acara pemutaran di IFI Jogjakarta kemarin sore.

Kisahnya berlatar di Kota Dublin pada era 1980-an di kala seri televisi produksi AS mendominasi. Bobby (Cillian Sullivan) adalah seorang bocah yang mengemari seri detektif Kojak yang dibintangi Telly Savalas. Ia terobsesi untuk menjadi seorang detektif bersama sobatnya, Nell (Naoise Kelly). Problem mulai mencuat ketika sang kakak, Oisín, yang berseteru dengan sang ayah tidak jua kembali ke rumah. Bobby mengajak Nell untuk mencari sang kakak, bermodal sebuah petunjuk kecil, geretan api milik sang kakak. Investigasi Bobby, tanpa disadari berujung pada persoalan pelik yang terjadi pada orang-orang di seputar lingkungannya.

Awal kisahnya mengesankan seperti film-film anak lazimnya. Sang bocah yang terobsesi dengan idolanya, selalu menganggap sebuah kejanggalan kecil adalah sebuah kasus, yang tentu bagi orang dewasa dianggap berlebihan dan konyol. Faktanya memang ya. Spilt Milk bukan film investigasi anak-anak/remaja murni, macam seri Nancy Drew atau Scooby Doo yang plotnya mengarah ke sisi misteri dan mencari petunjuk demi petunjuk. Bisa jadi penonton mengharapkan ini, namun rupanya plotnya memberi kejutan besar dengan kedalaman kisah yang di luar ekspektasi. Olah naskahnya sangat membumi dan mampu bicara lebih dalam, menyoal bagaimana proses seorang anak memahami dunia orang dewasa. Bobby mengetahui semua dengan caranya sendiri dan bahkan mampu menyikapi dan menyelesaikannya secara bijak. Pencapaian naskah yang amat cerdik dan brilian.

Kisahnya memang terasa personal. Sang penulis naskah dan sineas mengemas “aksi detektif” sebagai pelajaran hidup yang kental dengan problem sosial yang terjadi di lingkungan kala itu. Pembuat film seolah bernostalgia dengan masa ciliknya dan segala sesuatu yang dihadapi masa itu. Ini rupanya diamini sendiri oleh sang sineas dalam sesi tanya jawab. Perspektif cerita, selalu konsisten disajikan melalui mata dan pikiran anak-anak. Secara sadar kita sebagai penonton pun di bawa ke dunia anak yang polos, dan kita menyadari betul bahwa orang-orang  dewasa di sekitarnya hanya menutupi fakta sesungguhnya. Gangster, pesta remaja, alkohol, hingga heroin, terlihat sebagai realitas horor mengerikan yang mampu kita rasakan betul dari perpektif Bobby dan Nell.

Satu capaian mengesankan diperlihatkan oleh dua talenta ciliknya yang menjadi kekuatan terbesar film ini. Mereka tampil begitu natural sekaligus ekspresif dalam semua momen. Cillian Sullivan yang bermain sebagai Bobby adalah bukan peran yang mudah. Namun sang bintang mampu menekelnya dengan performa yang sangat brilian. Transisi perubahan sang bocah menjadi lebih dewasa bisa kita rasakan betul sejak awal hingga pertengahan kisah melalui beberapa pengadeganan yang emosional. Ini berbeda dengan Naoise Kelly yang bermain meledak-ledak sebagai Nell dan tampil lebih ekspresif dalam banyak pengadeganannya (penampilan sang bintang mengingatkan pada Emma Watson dalam seri awal Harry Potter). Chemistry di antara mereka berdua bisa kita rasakan kuat sepanjang film.

Spilt Milk adalah film drama brilian yang memadukan sisi petualangan, drama keluarga, sekaligus isu sosial melalui naskah solid serta dukungan dua kasting ciliknya yang tampil memikat. Beberapa aspek lain yang mendukung tentu saja set, kostum, properti, dan tata rias yang menjadi konsekuensi dari drama periodik era 1980-an. Tak ada yang istimewa, namun cukup untuk mendukung kisahnya. Satu lagi yang menarik adalah tone warna gambar yang kecoklatan, sementara lazimnya di film-film produksi AS, latar cerita era 1980-an selalu menggunakan warna kekuningan (soft).

Sulit untuk mencari sisi lemah film ini, namun terdapat satu hal yang kurang menggigit. Motif seri Kojak yang menjadi idola Bobby terasa kurang kuat dan membekas dalam rutinitasnya. Poster Kojak di kamarnya belumlah cukup (mengapa pula poster seri Airwolf terpasang di kamar, dengan beda genre kontras?). Seorang fans berat, lazimnya berusaha menjadi seperti sosok idolanya, melalui gestur, dialog kutipan, atau properti (topi Kojak baru muncul di akhir). Saya pun mengalaminya sendiri sebagai fans berat seri Mac Gyver di akhir dekade 1980-an.

Satu hal yang mengganjal selama pemutaran justru pada faktor lain di luar filmnya. Ruang screening untuk event sebesar ini, jauh dari standar ruang bioskop yang layak. Ruang serba guna IFI (dulu LIP) sejak puluhan tahun memang tidak banyak perubahan. Mungkin ini bukan masalah untuk acara pentas pertunjukan, seminar, atau diskusi, namun untuk pemutaran film, jauh dari kata nyaman. Tata suara yang tidak memadai, gambar proyektor yang kurang tajam, bangku penonton yang tidak nyaman untuk pemutaran berdurasi panjang, hingga AC yang terlalu dingin, sangat menganggu kenyamanan penonton yang terbiasa menonton di bioskop reguler. Ya, ini bisa dimaklumi, namun tentu bisa mengurangi minat penikmat film untuk datang, dan tentu para pembuatnya mengharapkan filmnya dapat ditonton di ruang pemutaran terbaik. Anggap saja, pemutaran ini sebagai “spilt milk”. Yang telah berlalu ya sudah, jadikan sebuah pelajaran berharga untuk bisa lebih baik di masa mendatang.

 

 

The post Spilt Milk | EoS 2025 appeared first on montasefilm.

​Spilt Milk adalah film drama brilian yang memadukan sisi petualangan, drama keluarga, sekaligus isu sosial melalui naskah solid serta dukungan dua kasting ciliknya yang tampil memikat.
The post Spilt Milk | EoS 2025 appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link