“Ya uwis. Mulai sekarang kita harus fokus jaga Ibu. Dia beda kok disini. Semoga aja keputusanmu gak menghambat aku.”
-Yuda (Tumbal Proyek, 2026)-
Setelah berjibaku beberapa bulan ini dengan tulisan kompetisi, akhirnya penulis menyempatkan waktu untuk mereview kembali film-film lokal yang baru rilis di medium Netflix. Sejujurnya, ada beberapa opsi platform yang bisa diulas, namun mata batin penulis melirik film Jeropoint, yang kita tahu bersama kisah genre horor yang selalu ditawarkannya.
Tumbal Proyek (2026) rilis pada 13 Mei 2026 di bioskop sebelum akhirnya mendarat di Netflix. Film ini harus berbagi jatah layar dengan Silent Dance (2026), Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan (2026), dan Semua Akan Baik-Baik Saja (2026). Di saat perilisannya, penulis hanya menonton Semua Akan Baik-Baik Saja (2026) karena memiliki premis dan trailer yang menarik hehehe.
Film produksi Dee Company ini mengisahkan perjuangan sebuah keluarga membongkar misteri kematian sang ayah di tengah pembangunan jembatan berskala besar. Yuda (Kiesha Alvaro), bersama ibunya, Martha (Karina Suwandi), dan adiknya, Laras (Callista Arum), mencurigai kematian tersebut bukan sekadar kecelakaan kerja. Demi menemukan bukti, mereka menyusup ke perusahaan Surajaya Construction: konstruksi yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Penyelidikan itu membawa mereka pada serangkaian kejadian aneh dan desas-desus tentang praktik ilmu hitam serta tumbal yang dipercaya digunakan untuk menjamin kelancaran pembangunan. Ketika kecelakaan dan kematian misterius terus terjadi, Yuda dan keluarganya semakin dekat dengan rahasia besar yang berusaha disembunyikan oleh pihak perusahaan, sekaligus harus menghadapi ancaman supranatural yang mulai mengincar mereka.
Secara cerita, kisah ini ditulis naskahnya secara kolektif oleh Jeropoint, Sandika Gusti, dan Shinta Puji. Membawa konsep horor gore, tentu ekspektasi penulis kisah dan cerita yang akan disajikan semakin solid. Tapi, jangan berharap banyak, hukum kausalitas di sini isinya nol besar. Entah logika kisah dan plot macam apa yang dibawakan. Contohnya, mengapa kematian ayah Yuda tidak mendapatkan kompensasi? Sedangkan kita tahu perusahaan proyek nasional skala besar semacam itu selalu ada pertanggungjawabannya.
Lalu, kisah bergulir 5 tahun kemudian dengan sakit yang diderita Martha. Dan anehnya, Yuda serta Laras bekerja di tempat yang sama dan mengharuskan mereka tinggal di rusun sekeluarga, tempat dahulu ayahnya bekerja. Di sinilah logika nalar manusia normal harusnya dipakai. Gagalnya ritual, matinya Intan, dan nyaris seluruh penghuni rusun, tapi dibiarkan begitu saja. Seolah semua kejadian itu wajar terjadi. Lalu, untuk apa harus tumbal orang lagi? Apa tidak cukup korban manusia sebanyak itu?
Yang aneh lagi, unsur hantu atau iblis mana yang sebenarnya mencari tumbal? Untuk apa semua sesaji itu dipakai? Hanya untuk satu tiang pancang kah? What the hell is going on? Di lain sisi, dendam apa yang dibawa Yuda, sehingga harus menghabisi semua orang yang menyakitinya. Tumbal anak-anak juga misalnya, saat persembahan anak dari hasil penculikan gagal karena dibebaskan Yuda cs. Lalu, segampang itulah kabur? Bukankah harusnya berdarah-darah dahulu. Bahkan ending-nya, jujur sangat membagongkan untuk sebuah horor lokal.
Sejauh pengalaman penulis menonton puluhan film horor, konsep tumbal itu dipakai untuk melancarkan usaha atau sebuah pekerjaan. Biasanya, tumbal tidak disajenkan oleh manusia secara langsung, namun sang iblis yang akan menjemput dengan caranya. Tapi di sini, kisah tidak diolah demikian, sering kali sang penulis skenarionya mengabaikan logika sebab dan akibat.
Unsur dialog juga demikian, banyak dialog membuang-buang durasi di sepanjang filmnya. Penggunaan logat ke Jawa-Jawaan, lagi-lagi sangat dipaksakan. Seolah semua harus pulen Jawanya. Perdebatan antara Yuda dan Laras tidak ubahnya seperti debat kucing dengan tikus. Misalnya, “Mas, ibu gak ada. Ibu gak ada!“, “Laras, kok bisa, ibu tidak ada? Di mana Ibu?“, “Mana aku tahu Mas. Kan aku pulang bareng sama kamu. Terus ibu kemana mas?” Hah? Mengapa dialog semacam ini ada di perdebatan, yang bahkan gak ada faedahnya untuk kedalaman ceritanya. Repetisi ini terus berulang di dialog-dialognya di sepanjang film. Jujur, menjengkelkan, dan tidak mendukung unsur visualnya.
Sisi sinematik, mungkin aspek ini sedikit menolong akan kisah yang entah bagaimana konsepnya. Visual biru kehijauannya menambah unsur seram. Bahkan dominasi merah oranye di scene tertentu, menunjukkan bahwa ritual sedang dijalankan. Tidak ada hantu kodian yang lazim muncul di sepanjang film. Tapi, logika akan mayat zombie yang berserakan sebanyak itu, tapi tidak ada awareness dari petugas, atau bahkan Yuda dan Laras sendiri untuk melaporkan ke pihak berwajib. Walau kita tahu, di dialog juga dijelaskan bahwa percuma lapor aparat, karena tidak akan ditanggapi. Tapi, apa iya se-hopeless itu?
Konsep editing sejujurnya cukup mulus, namun tidak dengan beberapa bagian yang sangat memaksa. Bisa dibayangkan, misalnya unsur opening menumbalkan ayah Yuda, lalu kematian itu dikabarkan ke keluarganya di kampung. Saat di kampung, Yuda, Laras, dan Martha kaget. Dihentak dengan flashback masa kecil bahagia dengan segala dar-der-dor musik pengiringnya, tapi, tidak ada feel sama sekali akan konsekuensi dramatiknya. Penulis jujur tidak merasakan, bahwa itu benar-benar sebuah kehilangan yang bisa dirasakan di batin penontonnya. Dan hal seperti itu juga muncul beberapa kali di sepanjang filmnya.
Memang di sisi make up, cukup menyeramkan menyaksikan banyak yang ditusuk dengan besi beton, di geprek layaknya ayam crispy dengan buldozer, disembelih, bahkan dipreteli kaki dan tangannya dengan tali pancang: akhirnya dicor di pondasi tiang pancang. Ini film horor, apa sinetron azab? Pun penggunaan simbol salib dan doa-doa yang dibawakannya, rasanya sangat useless dan tidak menambah bobot dramatisnya. Entah apa tujuan semua konsekuensi yang ditawarkan sang sineasnya.
Untuk masalah akting, Kiesha cukup menggambarkan semua detail karakter Yuda yang awalnya mencari kematian sang ayah menjadi dendam yang tidak masuk di otak dengkul saya sebagai penulis. Mengapa dia dinisbatkan dengan cara seperti itu? Dan adiknya Laras, yang diperankan oleh Callista Arum, seharusnya menjadi antitesis dari kelakuan kakaknya, namun tidak demikian. Karina Suwandi sebagai Martha juga tampil cukup baik, walau harus diakui, tidak sebaik dan senatural di film lain yang pernah diperankannya.
Melihat riuhnya review internet di platform seperti Letterboxd dan Threads, tampaknya penulis tidak sendirian. Warganet ramai mengkritik dialognya yang kaku layaknya ChatGPT, CGI kasarnya, hingga repetisi jumpscare murahan. Meski beberapa memuji totalitas gore-nya yang brutal dan performa penyelamat dari Karina Suwandi, sentimen publik sepakat bahwa naskahnya berlubang parah.
Tumbal Proyek (2026) jauh lebih buruk secara kisah daripada karya sang sineas sebelumnya. Bahkan cenderung menurun, utamanya plot dan narasi yang dibawakan. Walau menyajikan gore dan slasher yang tidak manusiawi, film ini masih bisa ditonton jika sudah tidak memiliki list film di akhir pekan ini.
Platform Tayang: Netflix
Judul: Tumbal Proyek | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 46 Menit | Sutradara: JeroPoint | Penulis: JeroPoint, Sandika Gusti, dan Shinta Puji | Produser: Dheeraj Kalwani, Faisal Helmy, dan Leesha Kalwani | Rumah Produksi: Dee Company | Negara: Indonesia | Pemeran: Callista Arum, Kiesha Alvaro, Karina Suwandhi, Edward Manalu, Fuad Idris, Agus Firmansyah, Adi Sudirja, Rendy Khrisna, Raffan Al Aryan, Cetul Leatherart, Stella Bodea, Cinta Dewi, Ayu Inten, Kanaya Tsabitah, Rohman, Romas Natakrishna, Stevan Ragol, Ridwan, Arul Bastian, Widian Nanto, Andi Toyoso, dan Eddy.
The post Tumbal Proyek | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Ya uwis. Mulai sekarang kita harus fokus jaga Ibu. Dia beda kok disini. Semoga aja keputusanmu gak menghambat aku.” -Yuda (Tumbal Proyek, 2026)- Setelah berjibaku beberapa bulan ini dengan tulisan kompetisi, akhirnya penulis menyempatkan waktu untuk mereview kembali film-film lokal yang baru rilis di medium Netflix. Sejujurnya, ada beberapa opsi platform yang bisa diulas, namun
The post Tumbal Proyek | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm



