Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? | REVIEW

“Ayah. Sialnya aku lebih dekat waktu Ayah sudah tidak ada.”

-Dira (Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?, 2026)-

Dua hari terakhir ini, penulis meluangkan waktu penuh untuk menonton film-film lokal yang tayang secara bersamaan. Bukan karena pekerjaan, tapi memang tidak ada hal lain yang dikerjakan untuk saat ini, wkwk. Maka, tidak mengherankan jika menonton dan me-review-nya tepat waktu, ya.

Dari judulnya saja, sudah mudah ditebak, sangat panjang dan retoris. Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2026) merupakan adaptasi novel karya Khoirul Trian dengan judul lengkap yang sama. Diangkat menjadi film layar lebar, film ini dirilis pada 9 April 2026 dan kemudian diedarkan secara OTT di Netflix pada 13 September 2026. Film ini juga beredar bersamaan dengan film lainnya seperti Yohanna (2026) dan Warung Pocong (2026).

Kesuksesan tayang di bioskop domestik dibuktikan melalui data yang dihimpun Cinepoint, dengan capaian setidaknya 1.667.159 penonton. Lalu, apa yang ditawarkan dari kisah tentang Ayah oleh Kuntz Agus dalam membedah fenomena ketidakhadiran emosional seorang Ayah kali ini? Mari kita kuliti bersama.

Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2026) bercerita tentang perjalanan emosional Dira (Mawar de Jongh) bersama adiknya, Darin (Rey Bong), yang tumbuh besar di sebuah rumah sekaligus warung bernama “Soto Bu Lia”. Di balik keharmonisan luar yang tampak hangat, keluarga ini sebenarnya menyimpan bom waktu akibat sang Ayah, Yudi (Dwi Sasono): mengalami ketidakhadiran emosional. Ia ada, tetapi tidak pernah benar-benar merangkul dan memberikan arah hidup bagi anak-anaknya. Sementara itu, sang Ibu, Lia (Unique Priscilla), harus bekerja tanpa henti untuk menutupi tumpukan utang dan luka keluarga agar semuanya tetap terlihat normal.

Konflik cerita memuncak tatkala insiden tragis akibat kebocoran kompor gas melukai sang Ibu secara parah. Kejadian tersebut otomatis meruntuhkan pertahanan finansial keluarga sekaligus membongkar berbagai rahasia yang selama ini tersembunyi. Keadaan pelik itu memaksa Dira sebagai anak perempuan sulung mengambil alih tanggung jawab keluarga, melupakan pendidikan kuliah magister di Inggris, dan rela menjadi tulang punggung baru demi merawat adiknya. Ia dipaksa melangkah dan berjuang sendirian di tengah kepedihan serta krisis emosional, tanpa petunjuk atau arahan dari sosok yang paling ia rindukan: Ayahnya sendiri.

Secara naratif, film ini cukup mudah diikuti karena struktur tiga babaknya cukup jelas. Perjalanan dari sudut pandang anak pertama perempuan menjadi suara batin yang menceritakan keseluruhan kisah Ayah. Konflik muncul ketika wisuda Dira yang seharusnya dihadiri seluruh anggota keluarga justru berlangsung tanpa kehadiran Yudi, sang Ayah. Foto bersama pun tidak terjadi dengan alasan ia sedang sibuk bekerja. Seiring berjalannya waktu, kepingan demi kepingan alasan mengapa Ayahnya berperilaku demikian mulai terjawab. Penulis skenario, Oka Aurora yang berkolaborasi bareng Kuntz Agus, cukup paham bagaimana mengatur ritme cerita secara perlahan, namun sayangnya tidak terlalu efektif dalam menyimpan misteri.

Menurut penulis, persoalan semacam ini sangat mudah ditebak sejak awal. Yudi sebagai orang tua pasti selalu menyimpan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dipikirkan anak-anaknya. Hal ini terbukti dari bagaimana ia selalu menghadapi masalah. Contohnya, adegan ketika ia pulang bekerja membawa gulai untuk makan malam, tetapi makanan tersebut justru dibuang oleh Lia dengan alasan terkena air hujan. Kemarahan dan pertengkaran antara Ibu dan Ayah pun tidak terhindarkan. Tapi, apakah Ayah melawan? Tidak. Sehingga, posisi Ayah di sini tidak ubahnya seperti bayang-bayang semu.

Apakah Ibu tidak tahu masalah yang dihadapi Ayah? Tahu. Buktinya, ia memberikan sejumlah uang hasil berutang untuk berobat, bukan? Scene lain juga menunjukkan hal serupa. Saat kondisi ekonomi sedang carut-marut, ternyata Ayah memiliki utang Rp45 juta di koperasi. Ketika diinterogasi sang anak, jawabannya justru sangat klise dan pada akhirnya akan terjawab di bagian akhir film.

Konsep bercerita dan plot twist semacam ini rasanya sangat mudah sekali ditebak. Bahkan boleh penulis katakan, kepergian Ayah adalah akumulasi dari segala hal yang dipendamnya seorang diri. Posisi Ayah yang nyatanya dianggap “pasif” oleh anak-anaknya ternyata tidak sepenuhnya benar. Tapi, logika apa yang dipakai dalam karakter Ayah ini? Ia gagal menjadi sosok Ayah untuk anak kandungnya, tapi justru disuruh menjadi sosok Ayah yang sempurna untuk anak orang lain, Damar (Azami Syauqi)? Waduh.

Jika boleh sedikit memberi masukan, cara bertutur melalui flashback justru jauh lebih mudah dicerna dan tidak mudah ditebak. Mengapa? Karena kita sudah tahu kondisi Ayah yang sejak awal diperlihatkan sakit, mengonsumsi obat tertentu, tidak mendapatkan perhatian, bahkan cenderung disudutkan dalam rumah tangga. Semua insan di rumah itu maunya dimengerti, tapi tak mau mengerti. Misalnya, ketika terjadi ledakan akibat kebocoran gas, boleh saja Ayah meninggal dalam kejadian tersebut. Dengan begitu, paralelitas cerita akan lebih mudah dicerna, termasuk konflik-konflik yang kemudian terjadi dan muncul setelahnya.

Unsur sinematik cukup baik diterjemahkan dari kisah novel menjadi sebuah karya film oleh sang Sinematografer, Fahrul Tri Hikmawan. Walau kita tahu, keberhasilan dunia imajinasi pembaca dengan imajinasi sinema jelas merupakan dua alam yang berbeda. Warna-warna tegas digunakan sepanjang film untuk menunjukkan tekanan batin dari masing-masing karakternya. Properti seperti radio, foto cetak, hingga mobil yang digunakan dengan pelat AB menunjukkan posisi geografis masyarakat Jogja dan sekitarnya yang cenderung pelan, kalem, dan sabar. Hal ini terbukti dari karakter gaya bicara, tone film yang soft, serta editing pace yang pelan: seolah menunjukkan karakter sosiologis daerahnya.

Urusan sound juga cukup efektif digunakan sepanjang film. Tidak ada hal-hal yang mengganggu sepanjang penulis menonton. Walau perlu diakui, musik penutup berjudul Ayah yang dibawakan Callista Lokhevara yang sangat memorable dan sudah jamak dipakai. Pun suara Ayah dalam rekaman kaset sebagai epilog film menunjukkan bahwa transisi Dira yang kemudian dijawab oleh Yudi merupakan ide yang menarik: walau penulis kurang menemukan resonansinya sampai ke relung batin terdalam.

Urusan akting, Mawar de Jongh berhasil menghidupkan karakter Dira yang sangat vokal, berpendidikan, peduli dengan keluarga, dan memikirkan masa depan. Lalu adiknya, Darin, yang diperankan Rey Bong, adalah bentuk karakter anak yang cenderung ugal-ugalan, reaktif terhadap suasana, mudah terprovokasi, namun tetap sayang kepada keluarga.

Kemudian sosok Ibu, Lia, yang diperankan Unique Priscilla juga menunjukkan karakter yang sama kuatnya: penyayang, pekerja keras, menjadi tulang punggung utama keluarga, namun selalu menutupi berbagai masalah yang dihadapi keluarga. Dan lagi-lagi Dwi Sasono sebagai Yudi, karakter Ayah yang pasif dan selalu disalahkan atas segala hal yang dilakukannya. Semuanya diolah dengan baik, walau benturan permasalahannya tidak menunjukkan plot twist yang berarti.

Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2026) memang tidak menawarkan kebaruan cerita di semesta drama keluarga. Plot twist-nya pun relatif mudah ditebak. Nihilnya peran Ayah yang dianggap “pasif” nyatanya dapat diantisipasi dan terlihat sejak awal hingga ending filmnya. Adaptasi seharusnya menunjukkan sesuatu yang unik dan tidak sekadar melodramatik semata, tetapi juga relatable dengan zaman dan generasi penonton saat ini.

Platform Tayang: Netflix

Judul: Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? | Tahun Produksi: 2025 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 43 Menit | Sutradara: Kuntz Agus | Penulis: Oka Aurora dan Kuntz Agus | Produser: Ody Mulya Hidayat dan Soemijato Muin | Rumah Produksi: Five Elements Pictures, IFI Sinema, A&Z Films, Leo Pictures, dan Kults | Negara: Indonesia | Pemeran: Mawar de Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Dinda Kanyadewi, Kiara Mckenna, Azamy Syauqi, Bambang Paningron Astiaji, Retno Soetarto, Shinta Devi, Haniv Hawakin, Elissa Knapp, Saras, Elnathan Christian, Laluna, Aldo Wohon, Rafael Rindang Arga, Hammam Aufa, Indrasati Rumluan, Nasarius Sudaryono, Noel Kefas, Sukaptinah, Fredy Amin, Bayu Aji, Alicia Nayla, Maulana Harun, Khalied Rafsnan, Angela Dorothy, Kessya Anjani, dan Uri Hidayat.

The post Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? | REVIEW appeared first on montasefilm.

​“Ayah. Sialnya aku lebih dekat waktu Ayah sudah tidak ada.” -Dira (Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?, 2026)- Dua hari terakhir ini, penulis meluangkan waktu penuh untuk menonton film-film lokal yang tayang secara bersamaan. Bukan karena pekerjaan, tapi memang tidak ada hal lain yang dikerjakan untuk saat ini, wkwk. Maka, tidak mengherankan jika menonton dan me-review-nya
The post Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link