Baru minggu lalu, Runner berkisah tentang seorang kurir pengantar barang yang dikemas melalui aksi komedi. Kini, Resident Evil juga mengambil sosok kurir, tetapi melalui horor yang dibalut nuansa komedi. Resident Evil digarap oleh sineas berbakat Zach Cregger, yang sebelumnya menyutradarai dua film horor berkualitas tinggi, Barbarian dan Weapons. Walau masih bersumber dari gimnya, kisah film ini tidak memiliki relasi dengan film-film sebelumnya yang lebih didominasi aksi. Kali ini, ceritanya mengambil latar yang merujuk pada gim Resident Evil 2 (1998).
Film berbujet USD 80 juta ini dibintangi secara solo oleh Austin Abrams, yang tampil nonstop sejak detik awal hingga akhir. Lantas, apakah sang sineas mampu memberikan sesuatu yang segar dan berkelas bagi genre sekaligus serinya?
Bryan (Abrams) adalah seorang kurir pengantar barang yang tengah mengantarkan paket ke sebuah rumah sakit. Di sana, ia mendapat order untuk mengantar sebuah donor organ ke rumah sakit di Raccoon City. Dalam kondisi cuaca buruk dan bersalju, ia tanpa sengaja menabrak seorang perempuan. Dalam kondisi luka parah, Bryan berniat membawanya ke rumah sakit. Namun, situasi justru berubah drastis ketika perempuan tersebut, tanpa disadarinya, telah terinfeksi virus yang menyebar di seluruh Raccoon City.
Dua poin besar menjadi catatan utama film ini: popularitas serinya serta sosok sang sineas yang kini mendapat perhatian besar setelah kesuksesan Weapons. Dari sisi seri, Resident Evil (2002–2016) tercatat sebagai film aksi yang bersumber dari video gim dan selama ini menggunakan tokoh utama Alice (Milla Jovovich), karakter yang justru tidak ada dalam gimnya, meski tetap menyelipkan sejumlah karakter gim seperti Jill, Chris, Claire, hingga Leon. Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021) dimaksudkan sebagai reboot yang lebih loyal terhadap gimnya, tetapi gagal secara komersial. Resident Evil terbaru ini kembali menjadi percobaan reboot yang kedua.
Apakah kali ini filmnya kembali loyal terhadap gim? Sama sekali tidak, bahkan bisa dibilang jauh dari itu. Kisahnya tidak menampilkan tokoh-tokoh ikonik dari gim, melainkan seorang kurir pengantar barang yang bahkan sama sekali tidak bisa menggunakan senjata api. Ini tentu bisa menjadi poin minus bagi penonton yang berekspektasi pada sajian aksi heboh seperti film-film sebelumnya, terlebih bagi para penggemar gimnya. Satu-satunya hal yang berhubungan langsung dengan plot gim adalah lokasi cerita, Raccoon City, yang disajikan melalui visual yang sangat mengagumkan.
Dari perspektif cerita, terlepas dari tipikal seri ini, kisahnya terasa segar karena mengikuti tokoh baru yang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di Raccoon City. Plot memperlihatkan bagaimana Bryan berusaha bertahan hidup sembari memahami berbagai hal tak masuk akal yang terus dihadapinya. Ia hanyalah orang biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa. Sisi horor, aksi, dan komedi berpadu cukup seimbang, ditopang penampilan kuat Austin Abrams. Momen-momen terbaik film ini justru hadir pada separuh awal kisah, sebelum cerita berpindah lokasi ke Raccoon City.
Poin kedua tentunya adalah sang sineas, Zach Cregger. Ekspektasi tinggi muncul karena dua karya sebelumnya dituturkan dengan cara yang tidak lazim. Resident Evil justru bertolak belakang dengan menampilkan plot linier, bahkan nyaris tanpa jeda, dari awal hingga akhir. Permainan waktu dan multi-plot brilian yang menjadi ciri khas sang sineas sama sekali tidak terlihat. Walau Cregger masih menunjukkan talentanya dalam membangun ketegangan, aksi, dan jump scare, bagi saya, ini merupakan pencapaian dari sisi penulisan yang mengecewakan, meski bukan berarti filmnya buruk.
Resident Evil merupakan eksplorasi yang cukup segar terhadap plot tipikal serinya. Namun, bagi sang sineas, film ini terasa inferior dibandingkan dua karya terbaiknya. Entah apa motif Cregger mengambil project franchise besar ini dengan penulisan naskah yang begitu kontras dengan dua karya sebelumnya. Resident Evil bukanlah karya yang buruk, tetapi sang sineas justru melewatkan kesempatan untuk menggunakan kisah dari seri populer ini sebagai medium untuk memberikan stempel artistik yang selama ini menjadi cirinya.
Bagi para penggemar serinya, bersiaplah untuk kecewa. Namun, bagi penggemar horor, film ini tetap merupakan sajian yang intens dan menghibur melalui aksi nonstop serta perpaduan horor dan komedi yang cukup solid.

The post Resident Evil I REVIEW appeared first on montasefilm.
Resident Evil merupakan eksplorasi yang cukup segar terhadap plot tipikal serinya. Namun, bagi sang sineas, film ini terasa inferior dibandingkan dua karya terbaiknya.
The post Resident Evil I REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




