Sengkolo: Petaka Satu Suro | REVIEW

“Nyai saya mohon, lakukan cara apapun sekali lagi. Saya sudah kehilangan anak dan suami saya beberapa bulan lalu. Saya cuma punya anak ini sekarang.”

-Rahayu (Sengkolo: Petaka Satu Suro, 2026)-

Tak terasa sudah berada di bulan ke-9 di tahun ini. Tiga bulan lagi kita sudah berganti tahun, tetapi hiburan tanah air tentu tidak akan jauh berbeda. Ada yang berharap bisa menonton konser, menghadiri festival, jalan-jalan, bahkan sekadar menonton film di bioskop. Nah, tetapi sekali lagi, penulis sementara waktu masih fokus dengan berbagai kegiatan di luar perfilman duniawi. Walau begitu, sesekali penulis tetap menyempatkan diri menulis review untuk film-film terbaru yang baru dirilis di platform OTT.

Tentu bukan barang langka jika membicarakan film horor Indonesia dari tahun ke tahun. Kali ini, ada film karya sineas Deni Saputra yang melenggang di layar perak. Rilis di bioskop tanah air pada 22 Januari 2026, film ini harus bersaing dengan Esok Tanpa Ibu (2026) dan Sebelum Dijemput Nenek (2026). Film ini adalah sekuel dari Sengkolo: Malam Satu Suro (2024), dan setidaknya berdasarkan catatan Cinepoint di masa edarnya berhasil mengantongi 208.280 penonton. Namun, penulis baru menyempatkan diri menontonnya di platform Netflix pada tanggal perilisannya, 17 September 2026. Dengan mengusung horor kedaerahan, mampukah Sengkolo: Petaka Satu Suro (2026) meneror penontonnya?

Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan desa di perkampungan pesisir Sukowati, awalnya menjalani kehidupan harmonis bersama keluarganya. Namun, kedamaian tersebut hancur seketika ketika tragedi memilukan menimpanya. Sang suami dan anak laki-lakinya tewas mengenaskan akibat kecelakaan saat melaut. Mengalami guncangan psikologis berat dalam kondisi hamil tua, ujian hidup Rahayu ternyata belum berakhir. Ketika malam persalinan tiba bersamaan dengan badai besar, bayi perempuan yang dilahirkannya justru terlahir dalam keadaan tidak bernyawa.

Didera rasa duka yang mendalam, sahabat karibnya, Marni (Agla Artalidia), membujuk Rahayu untuk mendatangi seorang dukun bernama Nyai Badriah (Lisa Raminten). Lewat ritual terlarang Lintu Jiwo, sang bayi berhasil dihidupkan kembali. Namun, tanpa disadari, tindakan menggunakan ilmu hitam tersebut justru menjadi pemantik kutukan berdarah yang mulai mengintai kehidupan mereka.

Seiring berjalannya waktu, petaka gaib mulai meneror seluruh desa Sukowati dan mencapai puncaknya setiap kali malam keramat Satu Suro semakin dekat. Ketakutan massal melanda warga karena rentetan kematian mistis secara beruntun mulai menyasar para perempuan yang sedang hamil di desa tersebut. Teror supranatural, penampakan mengerikan, hingga serangan fisik dari kekuatan iblis membuat situasi desa semakin mencekam. Kondisi tersebut juga memicu kemarahan warga yang mulai bertindak main hakim sendiri demi mencari dalang di balik kutukan.

Film horor berdurasi 01 jam 44 menit ini cukup menarik dan membawa penulis hanyut pada sebuah kisah mitos malam keramat, Satu Suro. Fokus ceritanya berada pada kehidupan Rahayu, seorang bidan di desa pesisir Sukowati yang harus berhadapan dengan rentetan tragedi setelah kehidupan harmonis bersama suaminya, Cipto (Dimas Aditya), dan anak laki-lakinya, Bayu (Yehezkiel Fabian Gumilar), berakhir menjadi petaka. Kematian suami dan anaknya, disusul kehilangan bayi yang baru dilahirkan, membuat bagian awal film ini terasa lebih dekat dengan drama psikologis ketimbang horor konvensional.

Penulis justru menikmati fase tersebut karena Sengkolo: Petaka Satu Suro (2026) tidak buru-buru memperlihatkan sosok menyeramkan hanya untuk mengejar efek kejut. Menariknya, langkah awal penceritaan yang naskahnya ditulis oleh Maruska Bath dan disunting oleh Alim Sudio ini justru berhasil membuat penulis terpikat. Alur klausalitas yang cerdas, siapa antagonis dan protagonis, semuanya tersusun dan disajikan dengan rapi. Jarang rasanya penulis menonton film horor lokal dengan cara penyajian seperti ini.

Kesedihan Rahayu juga diberi ruang untuk tumbuh, sementara kehadiran Marni (Agla Artalidia), Ratih (Cindy Nirmala), dan Nyai Badriah (Lisa Raminten) perlahan membuka pintu menuju persoalan supranatural yang lebih besar melalui ritual terlarang Lintu Jiwo. Sayangnya, ketertarikan tersebut mulai goyah ketika film memasuki paruh berikutnya. Setelah membangun atmosfer pesisir yang begitu menjanjikan, cerita perlahan terjebak dalam formula horor yang sering penulis sebut kodian.

Kehadiran makhluk gaib, dukun, ritual, balas dendam, hingga warga yang mulai bertindak anarkis main hakim sendiri, akhirnya bergerak seperti rangkaian kewajiban dalam sebuah film horor Indonesia. Padahal, bagian awal sudah memberikan fondasi yang jauh lebih menarik. Penulis bahkan sempat berharap film ini berani mempertahankan kesunyian, kesedihan, dan atmosfer pesisirnya lebih lama. Namun, harapan tersebut justru harus berhadapan dengan jumpscare murahan yang datang berkali-kali dan perlahan menggerus ritme drama yang sebelumnya sudah terbangun dengan cukup baik.

Masalahnya bukan semata-mata karena film ini menggunakan jumpscare dengan angle extreme close-up. Horor tentu sah saja membuat efek penontonnya terkejut dan takut. Persoalannya, beberapa kemunculan tersebut terasa seperti jalan pintas untuk menciptakan ketegangan. Ketika hampir setiap beberapa menit penonton kembali diberi kejutan melalui suara keras atau kemunculan sosok iblisnya, rasa takut yang seharusnya berkembang dari atmosfer justru berubah menjadi antisipasi terhadap kapan suara berikutnya akan muncul. Penulis akhirnya lebih sibuk menebak mekanisme film daripada benar-benar larut dalam terornya, wkwk.

Naskahnya pun semakin kehilangan pijakan ketika beberapa konflik mulai berkembang secara tidak logis. Kehadiran Ustaz Ilham (Miqdad Addausy) yang seharusnya dapat memperkaya pertarungan antara keyakinan masyarakat, tradisi lokal, dan persoalan gaib: justru terasa seperti tempelan. Padahal, konsep Satu Suro dan Lintu Jiwo sebenarnya menyediakan eksplorasi yang cukup besar untuk membicarakan bagaimana masyarakat Jawa memaknai batas antara dunia manusia dan dunia yang tidak kasatmata. Sayangnya, kesempatan tersebut tidak sepenuhnya dimanfaatkan. Film lebih memilih bergerak menuju penyelesaian horor dengan ruqiah yang familiar sehingga beberapa gagasan menarik yang muncul di awal akhirnya hanya menjadi angin lalu.

Dari sisi sinematik, penulis tetap menemukan beberapa hal yang patut diapresiasi. Deni Saputra di debut penyutradaraannya, bersama sinematografer, Fahmy J. Saad, berhasil membangun lanskap pesisir yang melankolis melalui hamparan laut berombak, rumah-rumah kayu tua, jalan tanah, serta atmosfer desa yang terasa begitu autentik. Rasanya seperti sedang diajak masuk ke sebuah tempat yang tenang, kembali ke masa 2000-an awal, tetapi sejak scene pembuka sudah menyimpan sesuatu yang tidak beres.

Tata musik arahan Fajar Ahadi cukup efektif membangun suasana yang mencekam. Desir angin, suara lingkungan pesisir, bisikan gaib, hingga lantunan ritual terasa memiliki ruangnya masing-masing. Pada beberapa adegan, desain suara justru lebih berhasil menciptakan ketegangan dibandingkan visual hantunya sendiri. Begitu pula dengan keberanian film dalam menampilkan adegan gore dan darah. Sayangnya, kualitas efek CGI pada perwujudan makhluk gaib masih terasa kurang halus. Kesan mengerikan yang sudah dibangun melalui atmosfer dan tata suara, justru runtuh ketika sosok tersebut benar-benar diperlihatkan.

Kesuksesan film ini, rasanya layak penulis sandingkan dengan Qorin 2 (2025) dan satu klik dibawah Qodrat Universe. Sedikit kritik untuk editing, ini kenapa karakter Bayu justru tidak ada di credit scene? Sebenarnya karakter yang diperankan Yehezkiel Fabian Gumilar itu Bayu atau Bagas? Walau terkesan remeh, tapi penonton menjadi sedikit kebingungan.

Urusan akting, Aulia Sarah menjadi alasan lain mengapa bagian awal film ini terasa begitu kuat dan hidup. Penulis menyukai cara ia memainkan Rahayu sebagai seorang ibu yang sedang berada dalam kondisi kehilangan dan psikologis yang terguncang. Ia tidak harus berteriak untuk memperlihatkan kehancuran karakter tersebut. Tatapan, gestur, dan ekspresi wajahnya sudah cukup menunjukkan bahwa Rahayu sedang berusaha bertahan dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa takut. Menurut penulis, peran dia jauh lebih solid daripada saat dia menjadi Badarawuhi di KKN di Desa Penari (2022).

Namun, kualitasnya kembali diuji ketika karakter Rahayu memasuki fase kerasukan dan berubah menjadi sosok iblis. Penggunaan prostetik dan riasan horor yang terlalu dominan justru membuat ekspresi Aulia Sarah semakin sulit dinikmati. Karakter yang sebelumnya terasa manusiawi akhirnya lebih banyak bergantung pada tampilan visual untuk menciptakan kengerian.

Di sisi lain, jajaran pemeran pendukung tetap memberikan energi yang cukup untuk menjaga konflik berjalan. Agla Artalidia, Sharon Jovian, Diaz Ardiawan, Ence Bagus, hingga Annisa Hertami memiliki perannya masing-masing dalam memperkuat dinamika antartokoh. Meski tidak semuanya mendapatkan ruang yang sama besar, kehadiran mereka membantu membuat kehidupan masyarakat Sukowati terasa lebih ramai sebelum perlahan berubah menjadi ruang penuh kecurigaan dan ketakutan.

Sengkolo: Petaka Satu Suro (2026) adalah debut film yang manis bagi sineasnya. Keberhasilannya dalam mengolah rasa kehilangan dan lepas dari cerita irasional: patut diapresiasi. Sayangnya, gagasan tentang kehilangan dan penerimaan takdir tersebut terkesan tenggelam ketika film terlalu sibuk mengejar teror jumpscare. Sengkolo pun divisualisasikan bukan sekadar petaka dari dunia gaib, tetapi konsekuensi dari manusia yang belum mampu berdamai dengan kehilangan.

Platform Tayang: Netflix

Judul: Sengkolo: Petaka Satu Suro | Tahun Produksi: 2024 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 44 Menit | Sutradara: Deni Saputra | Penulis: Maruska Bath dan Alim Sudio | Produser: Raam Punjabi, Anita Whora, Albert Limboro, dan Rakhee Punjabi | Rumah Produksi: MVP Pictures dan Folago Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Aulia Sarah, Agla Artalidia, Cindy Nirmala, Sharon Jovian, Dimas Aditya, Diaz Ardiawan, Miqdad Addausy, Ence Bagus, Febry Rency Setiawan, Yehezkiel Fabian G, Lisa Raminten, Septiadi Wibowo, Bhurhanudin Baharsyah, Bara Delzunero, Annisa Hertami, Bayu Romli, Ayu Prasiska, Yogi Heri Nurdi, Refani Anggraeni, Kurnia Setiawan, R.A. Andariesta Putri Pramesti, Danu Irsam, Isma Imung, Abdul Aziz, Fira Novelany, Ipe Azzahra, Aurora Gendhis, Anindya Maheswari Brilliant, Afrena Aghniya, Kurniawan Hasnajaya, dan Aditya Kurniawan Cinta Perdana.

The post Sengkolo: Petaka Satu Suro | REVIEW appeared first on montasefilm.

​“Nyai saya mohon, lakukan cara apapun sekali lagi. Saya sudah kehilangan anak dan suami saya beberapa bulan lalu. Saya cuma punya anak ini sekarang.” -Rahayu (Sengkolo: Petaka Satu Suro, 2026)- Tak terasa sudah berada di bulan ke-9 di tahun ini. Tiga bulan lagi kita sudah berganti tahun, tetapi hiburan tanah air tentu tidak akan jauh
The post Sengkolo: Petaka Satu Suro | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link