Heart of the Beast | REVIEW

Film-film yang menampilkan seekor anjing sebagai bintang utama memang terhitung langka. Heart of the Beast adalah film aksi survival arahan sineas kawakan David Ayer. Film ini dibintangi oleh Brad Pitt, J.K. Simmons, Anna Lambe, serta sang bintang utama, seekor anjing bernama Uber. Ayer dan Pitt juga duduk di bangku produser. Bermodal bintang dan sineas ternama, akankah film berdurasi 101 menit ini mampu menawarkan sesuatu yang segar?

James Belmont (Pitt), seorang eks-militer, dan anjingnya, Odin (Uber), mencoba mencari ketenangan di wilayah pegunungan terpencil di Alaska. Dengan menggunakan pesawat amfibi, James mencari lokasi yang nyaman untuk berkemah bersama anjingnya. Odin rupanya adalah anjing terlatih yang mengalami trauma akibat kejadian perang hingga kakinya terluka dan harus diamputasi. Dalam perjalanan pulang, James mengalami serangan jantung sehingga ia terpaksa melakukan pendaratan darurat. Sekalipun keduanya selamat, mereka harus berjalan sejauh 90 kilometer untuk mencapai jalan raya terdekat, melewati alam ganas serta berbagai binatang liar yang siap melumat mereka.

Film tentang anjing yang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) memang bukan yang pertama. Sebut saja Max (2015) dan Dog (2022). Sayangnya, penggambaran PTSD yang dialami Odin tidak dieksplorasi secara maksimal, kecuali melalui satu adegan mimpi buruk di awal yang divisualisasikan dengan apik. Kilas balik yang disajikan pun tidak banyak membantu. Kita tidak mendapatkan gambaran yang kuat mengenai mengapa dan bagaimana Odin mengalami kondisi tersebut, maupun bagaimana proses pemulihannya setelah perang. Padahal, aspek ini sesungguhnya merupakan poin penting yang menjadi akar kisahnya. Akibatnya, kisah survival-nya terasa datar dan nyaris tanpa persoalan berarti yang berkaitan dengan kondisi mental Odin.

Satu catatan menarik adalah panorama alam liar yang menjadi latar kisahnya. Lokasinya tidak hanya indah, tetapi sekaligus menjadi ancaman besar bagi keduanya sepanjang film. Tidak banyak adegan aksi menarik di sini. Kita sudah puluhan kali melihat adegan seseorang terbawa arus sungai dalam berbagai film, dan adegan serupa di sini juga bukan sesuatu yang membekas. Salah satu adegan yang cukup menarik adalah ketika James dan Odin menghadapi sekelompok serigala. Adegan tersebut tampaknya melibatkan rekayasa digital, tetapi hasil akhirnya tetap terlihat meyakinkan.

Satu catatan besar justru datang dari penampilan sang bintang, bukan Pitt, melainkan Uber. Kita tahu, bukan hal yang mudah mengarahkan seekor anjing untuk mengikuti tuntutan naskah. Namun, dalam seluruh adegannya, sang anjing terlihat mampu beraksi secara natural. Bahkan dalam beberapa momen, kita sebagai penonton dapat menangkap trauma masa lalunya melalui ekspresi matanya. Relasi Pitt dan sang anjing juga terasa seperti hubungan yang telah terjalin lama, dan hal tersebut tampak jelas dalam filmnya. Mulai dari siulan untuk memanggil hingga kode tertentu untuk diam dan bergerak.

Dalam satu adegan, Pitt terlihat terlelap sementara sang anjing bersiaga penuh menjaga sekelilingnya. Sulit membayangkan betapa tidak mudahnya membuat adegan semacam ini karena di depan mereka tentu terdapat kamera dan kru produksi yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan dalam beberapa adegan, sang anjing mampu memperlihatkan simpati terhadap penderitaan majikannya melalui ekspresi mata, gestur, dan aksi-aksinya. Ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang mengingatkan kita pada Benji (1974), yang nyaris bermain dan beraksi seorang diri sepanjang filmnya.

Bermodal panorama alam liar dan penampilan menggugah sang anjing, Heart of the Beast pada akhirnya hanyalah film survival yang tipikal, tanpa banyak mengeksplorasi sisi trauma yang menjadi akar persoalannya. Bagi Pitt maupun David Ayer, ini jelas bukan salah satu film terbaik mereka. Naskahnya pun tidak terasa membekas, baik dalam subgenre survival maupun film bertema trauma. Namun, bagi penikmat film survival dan pencinta anjing, film ini rasanya merupakan tontonan wajib karena menghadirkan salah satu penampilan seekor anjing terbaik dalam medium film.

Selamat menonton!

The post Heart of the Beast | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Bermodal panorama alam liar dan penampilan menggugah sang anjing, Heart of the Beast pada akhirnya hanyalah film survival yang tipikal, tanpa banyak mengeksplorasi sisi trauma yang menjadi akar persoalannya.
The post Heart of the Beast | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link