“Akhirnya Yoshua dimakamkan dengan kehormatan yang patut untuk didapatkan.”
-Irma Hutabarat (General Mayhem: The Killing of Brigadier J, 2026)-
Masih ingat dengan kasus jenderal polisi yang menghabisi anak buahnya saat masa-masa Covid-19 lalu? Jika iya, kali ini kita akan mengikuti kembali kehidupan kelam dan salah satu sejarah paling mengerikan tentang keadilan di Indonesia. Penulis sejujurnya ingin menonton film ini dengan mengosongkan pikiran terlebih dahulu. Pasalnya, kasus tersebut masih begitu segar dalam ingatan. Persidangannya bahkan sempat menyita perhatian seluruh penjuru tanah air, bahkan dunia.
Rilis di Netflix pada 18 September 2026 dengan judul General Mayhem: The Killing of Brigadier J (2026), kita disajikan rangkuman investigasi dari racikan sang sineas spesialis dokumenter, Rob Sixsmith. Jika kalian masih ingat dengan Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso (2023), kalian akan menemukan konsep penceritaan yang hampir serupa. Sebuah kasus yang telah menjadi konsumsi publik dirangkai kembali melalui arsip, wawancara, dan penelusuran terhadap berbagai fakta yang mengiringinya.
Lalu, apakah sang sineas menawarkan sudut pandang lain dari kisah paling bombastis kala itu? Apa yang dibongkar dengan menggandeng wartawan Tempo kali ini? Mari kita simak.
General Mayhem: The Killing of Brigadier J (2026), atau yang dikenal Skenario Sang Jenderal, menyoroti kembali peristiwa berdarah di Kompleks Polri Duren Tiga pada Juli 2022. Narasi film dimulai dari laporan awal yang mengatakan “baku tembak” akibat dugaan pelecehan seksual pada ibu PC yang menyeret nama Brigadir J dan Bharada E. Namun, digadang menjadi sekadar laporan kriminal biasa, dokumenter ini bergerak cepat membongkar bagaimana institusi kepolisian terjebak dalam pusaran kebohongan struktural.
Dengan kolaborasi bersama jurnalis investigasi Tempo Media, film ini membedah proses runtuhnya skenario palsu tersebut: mulai dari intimidasi keluarga korban, manipulasi serta penghilangan rekaman CCTV, hingga tekanan politik luar biasa yang memaksa pengungkapan kebenaran di level tertinggi.
Gaya bertutur Rob Sixsmith di sini terasa seperti sebuah political thriller yang berjalan di atas realitas objektif. Seperti halnya dalam Ice Cold (2023), Sixsmith mengandalkan teknik montase wawancara silang (cross-cutting interviews) antara pihak keluarga korban (seperti Rosti Simanjuntak), mantan petinggi Polri, Kompolnas, hingga jurnalis senior Tempo yang memegang data mentah investigasi majalah mereka.
Kekuatan utama narasi dokumenter ini terletak pada kemampuannya menjaga tensi dan objektivitas, meskipun publik sudah tahu akhir dari persidangannya. Penggunaan sudut pandang jurnalis Tempo memberikan sudut pandang “orang ketiga” yang krusial, berfungsi sebagai kompas moral dan pemandu logika penonton di tengah simpang siur distorsi informasi yang sengaja diciptakan oleh jejaring kekuasaan Sambo.
Namun, bagi penulis dan mungkin penonton yang mengikuti kasus ini dari hari ke hari lewat televisi, paruh pertama film mungkin akan terasa seperti repetisi informasi yang usang. Film baru benar-benar menggigit ketika mulai menguliti aspek psikologis para pelaku dan dampak sistemik obstruction of justice terhadap para bintara dan perwira muda yang kariernya hancur seketika akibat loyalitas buta. Jujur, hanya segelintir informasi baru yang penulis dapatkan dari film ini: utamanya siapa sosok Sambo ini sebenarnya.
Secara sinematik, General Mayhem: The Killing of Brigadier J (2026) didominasi oleh palet warna biru yang dingin, kelam, dan minim cahaya (low-key lighting): mencerminkan atmosfer “ruang gelap” kekuasaan tempat skenario-skenario jahat tersebut dirumuskan. Sutradara memanfaatkan teknik reka adegan (re-enactment) secara subtil—bukan untuk dramatisasi murahan—melainkan untuk mengilustrasikan ruang dan jarak di TKP berdasarkan rekonstruksi resmi, yang dieksekusi dengan pergerakan kamera dinamis namun cerdas.
Pilihan untuk menampilkan visualisasi grafik alur komunikasi telepon antar-pelaku memberikan kejelasan visual yang memikat. Sementara itu, departemen suara dan scoring musik digarap dengan sangat dominan; dentuman bass yang konstan dan aransemen string (dissonant) sukses membangun kecemasan intens sejak menit pertama, mengiringi rekaman-rekaman audio asli persidangan serta wawancara eksklusif yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Tapi, banyak juga informasi yang tidak ditampilkan, seperti jejak digital handphone sang korban yang justru jadi misteri.
General Mayhem: The Killing of Brigadier J (2026) bukan sekadar dokumenter tentang sebuah pembunuhan berencana. Film ini adalah sebuah studi kasus yang mengerikan tentang bagaimana hukum dan kekuasaan bisa dengan begitu mudahnya dibengkokkan oleh ego absolut seorang figur sentral. Di bawah arahan Rob Sixsmith dan sokongan data Tempo, dokumenter ini berhasil menjadi sebuah monumen visual yang berharga di masa mendatang.
Platform Tayang: Netflix
Judul: General Mayhem: The Killing of Brigadier J | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 29 Menit | Sutradara: Rob Sixsmith | Penulis: Rob Sixsmith | Produser: Jessica Lee Chu En, Nana Riskhi, Budi Setyarso, dan Rob Sixsmith | Rumah Produksi: Beach House Pictures | Negara: Singapura, Indonesia | Pemeran: -.
The post General Mayhem: The Killing of Brigadier J | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Akhirnya Yoshua dimakamkan dengan kehormatan yang patut untuk didapatkan.” -Irma Hutabarat (General Mayhem: The Killing of Brigadier J, 2026)- Masih ingat dengan kasus jenderal polisi yang menghabisi anak buahnya saat masa-masa Covid-19 lalu? Jika iya, kali ini kita akan mengikuti kembali kehidupan kelam dan salah satu sejarah paling mengerikan tentang keadilan di Indonesia. Penulis sejujurnya
The post General Mayhem: The Killing of Brigadier J | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




