“Aku dan teman-temanku bisa selamat dari kejadian ini. Semua sudah paham risiko mengambil jalan pintas.”
-Bagas (Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, 2026)-
Memasuki Minggu ke-4 bulan September tahun ini, rasanya belum ada gebrakan yang ciamik di bulan ini. Kompetisi dan beberapa pekerjaan yang penulis ikuti pun banyak gagal, tidak membuahkan hasil. Tapi, begitulah proses hidup. Kadang di bawah, kadang di bawah banget, wkwkw. Sekali lagi, pelipur lara paling mudah adalah: menonton film.
Netflix selalu menghadirkan apa yang telah tayang di bioskop tanah air, tak jarang juga merilis film-film buatan mereka sendiri. Setelah beredar di bioskop domestik pada 27 Mei 2026, akhirnya Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) mengudara di platform ini. Berdasarkan data Cinepoint, film ini meraup pundi-pundi dari 2.125.006 penonton di masa edarnya. Meski belum mampu melampaui pencapaian film pertamanya yang menembus 2,5 juta penonton, angka tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa formula horor komedi khas Bayu Skak masih sangat bertaji dan mendapatkan tempat di hati pencinta sinema tanah air.
Ya, tayang di Netflix pada 24 September 2026, film ini adalah sekuel dari pendahulunya, Sekawan Limo (2024). Jika sebelumnya mendaki Gunung Madyopuro, lalu apakah yang ditawarkan 5 pendaki ini di Gunung Klawih? Atau, ini adalah sarkasme dari ritual pesugihan yang sedang viral saat itu? Mari kita tonton bersama.
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) berkisah tentang kelanjutan petualangan mistis lima sekawan yang terdiri dari Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Juna (Benidictus Siregar), Andrew (Indra Pramujito), dan Dicky (Firza Valaza). Tiga tahun berlalu setelah kejadian di Gunung Madyopuro, persahabatan mereka yang semakin erat tiba-tiba diuji oleh kabar buruk saat berkumpul merayakan ulang tahun Angel (Ellea Candice), putri Andrew. Mereka dikejutkan oleh kenyataan pahit bahwa keluarga Andrew sedang terancam bahaya besar akibat menjadi target tumbal pesugihan. Demi menyelamatkan nyawa sang sahabat dari kutukan maut tersebut, mereka berlima akhirnya sepakat melakukan pendakian nekat menuju Gunung Klawih demi memutus ikatan pesugihan gaib itu.
Namun, perjalanan mendaki Gunung Klawih ternyata jauh dari kata mudah dan justru menjadi malapetaka baru. Situasi berubah menjadi sangat mencekam dan kacau ketika Juna tiba-tiba menghilang secara misterius karena tersesat dan terseret masuk ke dalam dimensi alam gaib tempat para demit bersemayam. Di tengah kepungan teror mistis yang mengancam nyawa, kelompok ini harus berjuang ganda dalam sisa waktu yang mereka miliki: menghentikan ritual pesugihan yang mematikan sekaligus mencari cara untuk membawa pulang Juna hidup-hidup ke dunia nyata.
Setelah kesuksesan film pertamanya yang mengejutkan jagad box office, Bayu Skak kembali membawa formula horor komedi lokalnya. Jika film sebelumnya masih bermain dengan mitos pendakian gunung, kali ini ceritanya mencoba melangkah lebih jauh dengan membawa persoalan pesugihan dan realitas sosial yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Bagi penulis, keberanian tersebut tentu menarik untuk diikuti. Namun, apakah perluasan cerita ini mampu berjalan beriringan dengan penyajiannya?
Dari sisi cerita, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) memang terasa ingin memberikan sesuatu yang lebih besar dibanding film pertamanya. Sayangnya, semakin banyak persoalan yang dimasukkan, semakin sulit pula film ini mengatur semuanya agar tetap berjalan dengan rapi. Ada persoalan tumbal yang menimpa keluarga Andrew, hubungan Bagas dan Lenni yang mulai merenggang, hingga perjalanan Juna seorang diri di alam gaib. Masing-masing sebenarnya memiliki ruang untuk dikembangkan, tetapi ketika semuanya harus berjalan bersamaan, paruh pertama film terasa cukup lambat dan bertele-tele dalam mencari pijakannya. Penulis sampai berpikir, ini dari tadi sebenarnya mau mendaki gunung atau menyelesaikan semua persoalan terlebih dahulu?
Di sisi lain, niat Bayu Skak untuk menyelipkan kritik mengenai mentalitas manusia yang gemar mengambil jalan pintas justru menjadi salah satu hal yang menarik perhatian penulis. Apalagi ketika film ini hadir di tengah fenomena Gunung Kawi yang sempat ramai di media sosial, lengkap dengan berbagai cerita dan bahkan rate card yang ikut beredar. Pesugihan akhirnya tidak hanya menjadi bumbu mistis, tetapi juga digunakan untuk membicarakan keinginan manusia mendapatkan sesuatu secara instan.
Sayangnya, setelah memasuki paruh kedua, cerita justru terasa seperti sedang mengejar waktu. Berbagai persoalan yang sebelumnya dibangun mulai diselesaikan secara terburu-buru. Akibatnya, kelucuan yang menjadi kekuatan film pertama tidak selalu hadir serapat sebelumnya, sementara teror horornya beberapa kali harus berbagi ruang dengan subplot lain yang membuat fokus pendakian menjadi semakin kabur.
Secara visual, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) sebenarnya membawa ambisi yang lebih besar. Dunia demit yang ditampilkan tidak sekadar menjadi tempat untuk menakut-nakuti penonton, tetapi memiliki ruang dan aturan sendiri. Alam gaib tersebut terasa lebih kreatif, lebih luas, bahkan cukup masuk akal dengan logika paralel yang dibangun film. Bagi penulis, bagian ini justru menjadi salah satu perkembangan menarik dibandingkan film sebelumnya.
Persoalan kemudian muncul dari penyuntingan gambar dan tata suara. Beberapa perpindahan adegan terasa begitu tiba-tiba sehingga alurnya seperti melompat dari satu tempat ke tempat lain tanpa memberikan napas yang cukup kepada penonton. Coba ingat lagi ketika mereka sedang mendaki Gunung Klawih, lalu tiba-tiba sudah berpindah ke set yang lain. Penulis beberapa kali dibuat bertanya, “Lho, kok sudah di sini?”. Untungnya, tata suara dan efek audio atmosferik masih cukup membantu membangun ketegangan. Suara-suara yang muncul dari ruang di sekitar karakter mampu memberikan sedikit nyawa pada horornya, terutama ketika jumpscare yang digunakan sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Kalau ada satu hal yang membuat film ini tetap menyenangkan untuk diikuti, jawabannya adalah para pemainnya. Chemistry kelima pemeran utama masih terasa kuat, natural, dan tidak dibuat-buat. Benidictus Siregar sebagai Juna bahkan kembali menjadi salah satu tulang punggung dan sumber kelucuan terbesar dalam film ini. Ada kalanya Juna tidak perlu melakukan banyak hal. Ekspresi diamnya saja sudah cukup membuat penulis tertawa, wkwkw.
Kehadiran komedian lintas generasi seperti Cak Kartolo dan Marwoto juga memberikan warna tersendiri. Keduanya mampu mencairkan suasana ketika cerita mulai terasa berat. Sementara itu, Joshua Suherman sebagai konsultan komedi cukup berhasil menjaga punchline agar tetap terasa segar. Kekonyolan para karakter dieksploitasi dengan takaran yang menurut penulis masih cukup pas, terutama ketika situasinya sudah semakin chaos. Menariknya lagi, para pemeran dari luar Jawa Timur juga mampu membawa logat ala arek Malang tanpa terasa terlalu dipaksakan. Tidak perlu semuanya dibuat menjadi Jawa medhok agar terasa Jawa Timuran.
Hal lain yang cukup menarik adalah keberanian film ini membawa persoalan kerusuhan 1998 dan etnis Tionghoa ke dalam cerita. Persoalan tersebut tidak sekadar ditempelkan sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari pembicaraan yang ingin disampaikan film mengenai jalan pintas, ketakutan, dan bagaimana sebuah keyakinan dapat tumbuh dari persoalan sosial yang nyata. Bagi penulis, keberadaan bagian ini membuat Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) memiliki lapisan yang sedikit lebih luas dibandingkan film horor komedi pada umumnya.
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) tetap menjadi sebuah sekuel yang menghibur dan berani membawa kritik sosial ke dalam formula horor komedinya. Namun, ambisi untuk memperluas cerita justru membuat beberapa persoalan tidak tertangani dengan serapi yang seharusnya. Ragam subplot membuat struktur ceritanya terasa penuh, sementara penyuntingan gambar yang beberapa kali melompat membuat pengalaman menontonnya sedikit melelahkan. Film ini juga sudah tidak sepenuhnya menjadi sinema petualangan pendakian gunung seperti pendahulunya. Kali ini, pendakian hanya menjadi pintu masuk menuju cerita pesugihan yang kemudian dibungkus dengan komedi absurd khas Bayu Skak. Meski demikian, bagi pencinta humor Jawa Timuran, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) masih cukup layak menjadi pelipur lara ketika sedang gabut dan membutuhkan tontonan yang tidak terlalu serius di layanan streaming.
Platform Tayang: Netflix
Judul: Sekawan Limo 2: Gunung Klawih | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 02 Jam 02 Menit | Sutradara: Bayu Skak | Penulis: Nona Ica | Produser: Mithu Nisar, Riza, dan Chand Parwez Servia | Rumah Produksi: StarVision Plus, Skak Studios, dan Legacy Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Bayu Skak, Nadya Arina, Benidictus Siregar, Firza Valaza, Indra Pramujito, Jihane Almira, Joshua Suherman, Elsa Japasal, Cak Kartolo, Ning Tini, Audya Ananta, Ellea Candice, Cak Ukil, Ferry Salim, Gisella Anastasia, Marwoto, Devina Aureel, Brandon Salim, Tutus Thomson, Irwan Pramujito, Yongky Setiabudi, Rensia Sanvira, Furry Setya Raharja, Dayu Wijanto, Leona Zhen, Zoe Levana, Dandy Syahputra, Eunike Unik, dan Andy Sugar.
The post Sekawan Limo 2: Gunung Klawih | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Aku dan teman-temanku bisa selamat dari kejadian ini. Semua sudah paham risiko mengambil jalan pintas.” -Bagas (Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, 2026)- Memasuki Minggu ke-4 bulan September tahun ini, rasanya belum ada gebrakan yang ciamik di bulan ini. Kompetisi dan beberapa pekerjaan yang penulis ikuti pun banyak gagal, tidak membuahkan hasil. Tapi, begitulah proses hidup.
The post Sekawan Limo 2: Gunung Klawih | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




