Ritus ‘Topeng Monyet’ dan Jerat Jalan Pintas Harga Diri di Samsara (2025)

Purwoko Ajie – Montase Film Independen 

“Kemiskinan dan penderitaan membuat orang mencari kekayaan lewat cara supernatural.”

-Act 2 (Samsara, 2025)-

Di ujung persimpangan lampu merah kota-kota besar, kita sering kali menyaksikan atraksi topeng monyet. Seekor primata dipakaikan kedok mainan, dipaksa berjalan tegak meniru gerak-gerik manusia, dan melompat riang di bawah pecutan pawang demi sekeping koin. Ironisnya, monyet itu mungkin merasa dirinya sedang menjadi “makhluk yang berharga” karena berhasil menarik perhatian dan sorak-sorai penonton. Ia tidak menyadari ada rantai besi yang mencekik leher atau kakinya dari belakang. Tragisnya, sirkus jalanan prasejahtera semacam ini adalah cermin paling jernih untuk membaca Samsara (2025), eksplorasi sinema paling radikal arahan sineas kondang Garin Nugroho.

Sebagai penikmat literatur sejarah, ingatan saya seketika melompat pada sebuah kenangan personal yang teramat intim. Saat menyaksikan Samsara (2025), ingatan saya dilemparkan pada lembar-lembar awal autobiografi klasik K’tut Tantri yang bertajuk Revolt in Paradise (1960). Buku bersampul tebal dan kertas isi berwarna kuning itu adalah pemberian dari almarhum Ayah saya, sebuah oleh-oleh yang ia bawa saat melakukan perjalanan ke Jember sekitar tahun 2007 silam.

Membaca buku Tantri belasan tahun lalu memberi saya bayangan visual tentang Bali dekade 1930-an yang eksotis di permukaan, namun menyimpan ketegangan kasta yang kaku dan dehumanisasi terselubung di akar rumput. Menonton Samsara (2025) terasa seperti memasuki “wahana” hidup dari apa yang pernah ditulis oleh Tantri. Garin Nugroho secara jenius mengejawantahkan dualitas romantis sekaligus getir dari “surga yang bergolak” itu ke dalam layar perak. Lewat film ini, Garin bergerak melakukan kritik kebudayaan yang teramat tajam mengenai bagaimana manusia modern—secara meyakinkan, sadar, dan sukarela—memakaikan “topeng” kepalsuan pada dirinya sendiri demi memburu status sosial dan pengakuan materi yang semu. Itukah kita?

Next: Kontrak Mistis Raja Monyet dan Jebakan Kelas Sosial

The post Ritus ‘Topeng Monyet’ dan Jerat Jalan Pintas Harga Diri di Samsara (2025) appeared first on montasefilm.

​Purwoko Ajie – Montase Film Independen  “Kemiskinan dan penderitaan membuat orang mencari kekayaan lewat cara supernatural.” -Act 2 (Samsara, 2025)- Di ujung persimpangan lampu merah kota-kota besar, kita sering kali menyaksikan atraksi topeng monyet. Seekor primata dipakaikan kedok mainan, dipaksa berjalan tegak meniru gerak-gerik manusia, dan melompat riang di bawah pecutan pawang demi sekeping koin.
The post Ritus ‘Topeng Monyet’ dan Jerat Jalan Pintas Harga Diri di Samsara (2025) appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *