Horornya Fenomena Industri Film Indonesia Hari Ini: Kritik untuk Kritik

Judulnya provokatif? Kurang wawasan film? Atau penulis ini asbun? Ya, bisa jadi itu satu dari ribuan pertanyaan yang sering penulis dapat ketika mengkritik sebuah film, atau bahkan ketika kritik tersebut mulai menyenggol industrinya sendiri. Kritik film memang punya posisi tawar yang agak lucu. Ia dibutuhkan, tetapi sering kali tidak disukai. Ia dianggap penting untuk membangun diskusi tentang film, tetapi pada saat yang sama dapat diperlakukan seperti musuh yang datang hanya untuk membuat sebuah karya terlihat hina di mata penonton.

Sudah bukan barang haram gelagat semacam itu terjadi. Kalau menengok sejarah perfilman Indonesia yang selalu dinamis, ditambah pula kebiasaan kita yang kadang lebih senang mengikuti arus (FOMO) daripada mempertanyakan ke mana arus tersebut membawa kita: tidak mengherankan jika kritik dan industri film kerap memiliki hubungan yang pasang surut. Padahal, kritik film tidak semestinya ada untuk mencari siapa yang salah. Kritik seharusnya menjadi wadah untuk membicarakan film secara lebih panjang setelah lampu bioskop menyala dan penonton meninggalkan kursinya.

Penulis sendiri mulai aktif menulis kritik sejak 2019 sebagai bagian dari Kerja Profesi saat S1 (Internship). Menonton film sebenarnya sudah jauh lebih lama, sejak usia sekitar sembilan tahun ketika televisi masih rajin menyuguhkan film dengan embel-embel film box office. Namun, baru ketika mulai menulis kritik penulis menyadari bahwa menonton dan mengkritik ternyata dua kehidupan yang berbeda. Menonton dapat dikatakan selesai ketika layar menjadi gelap, sementara kritik justru baru dimulai setelahnya. Semakin lama menulis, penulis semakin sadar bahwa permasalahannya bukan hanya mengapa filmmaker terkadang tidak menyukai kritik. Kritik film itu sendiri nyatanya juga perlu dikritik.

Next: Ketika Kritikus Menjadi Musuh

The post Horornya Fenomena Industri Film Indonesia Hari Ini: Kritik untuk Kritik appeared first on montasefilm.

​Judulnya provokatif? Kurang wawasan film? Atau penulis ini asbun? Ya, bisa jadi itu satu dari ribuan pertanyaan yang sering penulis dapat ketika mengkritik sebuah film, atau bahkan ketika kritik tersebut mulai menyenggol industrinya sendiri. Kritik film memang punya posisi tawar yang agak lucu. Ia dibutuhkan, tetapi sering kali tidak disukai. Ia dianggap penting untuk membangun
The post Horornya Fenomena Industri Film Indonesia Hari Ini: Kritik untuk Kritik appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *