Verity adalah drama erotik thriller yang digarap oleh Michael Showalter dengan naskah oleh Nick Antosca. Kisahnya diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya Colleen Hoover. Film ini dibintangi nama-nama besar, sebut saja Anne Hathaway, Dakota Johnson, serta Josh Hartnett. Naskahnya dikembangkan sejak 2018, tetapi baru pada 2025 filmnya mulai diproduksi. Bermodal USD 40 juta dan bintang-bintang besar, akankah film ini mampu memenuhi ekspektasi?
Lowen Ashleigh (Johnson) adalah seorang novelis thriller yang masih meniti karier. Suatu ketika, ia mendapat tawaran dari Jeremy Crawford (Hartnett), suami Verity Crawford (Hathaway), seorang penulis novel terkemuka. Verity mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya lumpuh sehingga tak mampu lagi bergerak dan berbicara. Lowen diminta meneruskan novel yang tengah ditulis Verity dengan mendapat akses penuh untuk membaca semua catatan miliknya. Lowen pun harus tinggal bersama mereka di rumah yang besar dan unik. Beberapa kejadian aneh mulai terjadi. Lowen mendapati Verity seolah-olah bisa bergerak dan berjalan, bak hantu yang tengah mengintainya.
Premisnya memang menarik, walau arah kisahnya tak sulit diduga. Bak film horor dengan jump scare-nya, kisah ini memiliki sejumlah momen intens yang cukup menakutkan. Terlebih, suasana rumah yang sepi dan besar sangat mendukung. Tentu saja, saya belum membaca novelnya sehingga tidak memahami betul apa yang menjadi kekuatan sumber aslinya. Situasi semacam ini sudah tidak lagi baru dalam genre horor maupun thriller, ketika protagonis tidak bisa membedakan antara ilusi dan realitas. Sayangnya, eksposisi karakter Lowen kurang digali lebih dalam sehingga situasi psikologis yang mengganggunya kurang terasa menggigit. Penonton cenderung percaya bahwa bukan Lowen yang sebenarnya bermasalah.
Catatan menarik adalah penggambaran beberapa penggalan “cerita” dari catatan yang dibuat Verity. Visualisasi adegannya dibuat begitu gamblang, layaknya sebuah montage panjang melalui narasi sang penulis. Entah mengapa, semua informasi ini justru membuat kisahnya semakin predictable bagi penikmat film sejati. Satu atau dua hal juga bisa dipertanyakan dan terasa agak dipaksakan, tetapi ini terhitung minor. Antara kisah fiktif dan kenyataan seolah dikaburkan, tetapi arahnya sudah terlalu jelas dan tegas. Ketika sebuah twist terjadi, semuanya justru tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Sisi “horornya” juga sesungguhnya memiliki potensi untuk lebih menggigit. Beberapa momen jump scare cukup mengejutkan, terutama dengan iringan musik yang sangat mengagetkan. Jangan lantas membayangkan jump scare ala seri The Conjuring, tetapi apa yang ditawarkan film ini sudah cukup efektif. Hanya saja, intensitas dari adegan ke adegan tidak terasa semakin kuat, melainkan justru menurun. Jika membahasnya lebih detail, jelas tidak mungkin dilakukan dalam ulasan ini. Intinya, segalanya terasa antiklimaks. Entah apakah plotnya benar-benar setia pada sumber aslinya, tetapi jika hanya seperti ini, filmnya lebih terasa sebagai karya “medioker”.
Bermodal para pemain bertalenta dan popularitas novelnya, Verity adalah sebuah erotic thriller bernuansa horor yang eksekusinya kurang menggigit dan tak sulit diantisipasi. Hathaway, Johnson, dan Hartnett bermain biasa saja, mereka semua pernah tampil dalam peran yang jauh lebih berbobot. Subgenre ini juga membuat mereka harus tampil sedikit berbeda dengan mempertontonkan cukup banyak adegan dewasa. Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang baru bagi Johnson, khususnya bagi penikmat seri Fifty Shades of Grey. Untuk sebuah tontonan thriller, ini bukan salah satu contoh terbaik. The Housemaid, yang juga tidak terhitung istimewa, masih terasa jauh lebih baik daripada Verity.
The post Verity | REVIEW appeared first on montasefilm.
Bermodal para pemain bertalenta dan popularitas novelnya, Verity adalah sebuah erotic horor thriller yang eksekusinya kurang menggigit serta tak sulit diantisipasi.
The post Verity | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




