Terakhir kali sang sineas menggarap film kaliber Oscar adalah The Revenant, yang diproduksi lebih dari satu dekade lalu. Digger adalah film drama satir sci-fi bencana yang digarap dan ditulis oleh sineas kawakan Alejandro G. Iñárritu. Film ini dibintangi sederetan bintang besar, yakni Tom Cruise, Riz Ahmed, John Goodman, Sandra Hüller, Michael Stuhlbarg, serta Jesse Plemons. Bermodal sentuhan sang sineas, para pemain kelas atas, serta bujet raksasa USD 160–189 juta, akankah film ini menambah deretan film berkelas karya sang sineas?
Untuk membuat ringkasan cerita film ini bukanlah hal yang mudah. Dikisahkan seorang pengusaha minyak yang telah uzur, Digger Rockwell (Cruise), bersekongkol dengan Presiden AS, Compson (Goodman), untuk melakukan pengeboran di wilayah Alaska dan Greenland. Rupanya, tindakan tersebut berdampak sangat besar terhadap lingkungan karena bongkahan es superraksasa yang pecah bergerak menuju Eropa. Permukaan air laut meninggi dan membanjiri Eropa. Dunia berada di ambang kehancuran, dan semua orang menuding Digger sebagai biang keladinya. Segala kekacauan pun bermula.
Digger bukan tontonan mudah dan membutuhkan kesabaran tinggi untuk mengikuti plotnya. Sekitar separuh durasinya, kita disajikan adegan demi adegan yang demikian absurd dan seolah tidak jelas arahnya. Setting terus bergerak dan berpindah lokasi di sebuah ruangan raksasa. Hal ini semakin membingungkan karena setting yang semula tampak nyata rupanya bukan seperti yang kita pikirkan. Ternyata semua itu adalah panggung pertunjukan, dan hampir semua yang kita lihat merupakan proses latihan atau gladi resik. Sedikit demi sedikit, kita mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi dan dapat membedakan mana yang “fiksi” dan mana yang “realitas”. Ibaratnya, separuh durasi film ini hanyalah eksposisi bagi kisah sesungguhnya yang disajikan dalam bentuk sebuah pertunjukan teater modern.
Kemasan satir macam ini bukan hal baru dalam medium film. Digger mengingatkan kita pada beberapa film, sebut saja Dr. Strangelove (1964), Mother! (2017), hingga Don’t Look Up (2021). Namun, topik ekologis menjadi landasan kuat bagi Digger. Senada dengan film-film tersebut, konfliknya sengaja dilebih-lebihkan untuk memberikan efek katarsis yang luar biasa di penghujung. Satu hal yang membedakan Digger dengan film-film tersebut adalah bungkusnya dan bagaimana sang sineas mengemas keseluruhan gagasannya.
Kecerdikan terbesar Iñárritu terletak pada bagaimana seluruh kegilaan tersebut dibangun melalui naskah. Alih-alih langsung memberikan penjelasan mengenai siapa Digger, apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa dunia berada di ambang kehancuran, plotnya sengaja menyesatkan penonton terlebih dahulu. Informasi diberikan sedikit demi sedikit, sementara batas antara pertunjukan, latihan, dan realitas terus dibuat kabur. Struktur semacam ini memang berisiko membuat separuh awal film terasa melelahkan, tetapi ketika potongan-potongannya mulai tersusun, kita menyadari bahwa kebingungan tersebut memang bagian dari permainan naratifnya. Iñárritu mengajak penonton mengalami sendiri kekacauan dunia yang sedang ia sindir. Ketika seluruh lapisan cerita akhirnya terbuka, berbagai adegan yang sebelumnya terasa tidak masuk akal justru memperoleh konteks dan makna baru.
Satu hal yang membuat Digger begitu menarik adalah bagaimana isu ekologis tidak sekadar ditempatkan sebagai latar bencana, melainkan menjadi sumber utama konflik sekaligus sasaran satire. Keserakahan manusia terhadap sumber daya alam, kepentingan ekonomi, dan keputusan politik yang mengabaikan konsekuensi lingkungan dipadatkan menjadi sebuah krisis global yang absurd. Perubahan iklim dan mencairnya es tidak digambarkan melalui pendekatan realistis, melainkan dibesar-besarkan hingga terasa seperti sebuah lelucon. Namun, justru melalui absurditas tersebut, kisahnya memperlihatkan betapa absurd pula cara manusia memperlakukan alam ketika kepentingan ekonomi dan kekuasaan ditempatkan di atas keberlangsungan lingkungan.
Digger bukan sekadar film bencana tentang dunia yang sedang menuju kehancuran, melainkan sebuah eksperimen sinematik yang menggunakan bencana, panggung pertunjukan, satir, dan absurditas untuk berbicara tentang manusia modern. Iñárritu tampak tidak tertarik membuat tontonan bencana konvensional dengan formula kehancuran kota dan perjuangan menyelamatkan umat manusia. Ia justru membangun sebuah panggung raksasa tempat manusia mempertontonkan keserakahan, kepanikan, kekuasaan, dan kebodohannya sendiri. Hasilnya memang tidak selalu mudah diikuti, bahkan bisa terasa pretensius, tetapi keberanian formal dan ambisi naratifnya menjadikan Digger sebuah karya yang sangat berbeda dari film bencana besar lainnya.
Satu pencapaian karya eco-film terbaik yang pernah ada dan jelas bukan tontonan untuk semua orang, Digger adalah perpaduan genre dan inovasi naskah yang brilian, sinematografi dan set yang mengesankan, serta penampilan kuat para pemainnya, khususnya Cruise. Kedalaman tema ekologis berpadu dengan keberanian mengeksplorasi estetika sebagai bagian dari sentuhan khas Iñárritu. Di tangan sang sineas, isu lingkungan, politik, keserakahan manusia, dan absurditas kehidupan berpadu menjadi sebuah satir yang berlapis makna. Tom Cruise memberikan salah satu penampilan paling berani dalam kariernya, sebuah performa yang sangat layak diperhitungkan dalam perebutan penghargaan akting terbaik tahun depan.

The post Digger | REVIEW appeared first on montasefilm.
Satu pencapaian karya eco-film terbaik yang pernah ada dan jelas bukan tontonan semua orang, Digger adalah perpaduan genre dan inovasi naskah brilian, sinematografi dan set mengesankan, serta penampilan kuat para kastingnya, khususnya Cruise.
The post Digger | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




