Street Fighter | REVIEW

Street Fighter telah menjadi salah satu gim populer di dunia sejak era 1990-an. Popularitasnya bahkan telah melahirkan beberapa adaptasi film yang gagal, baik secara komersial maupun dari sisi kritik. Dengan bujet produksi USD 80 juta, Capcom kini kembali merilis film Street Fighter yang disutradarai oleh Kitao Sakurai. Film ini dibintangi sejumlah nama yang relatif asing di layar lebar, seperti Noah Centineo, Andrew Koji, Callina Liang, dan Joe Anoa’i, serta beberapa nama yang lebih familiar, seperti David Dastmalchian, Curtis “50 Cent” Jackson, dan Jason Momoa. Mampukah film ini kali ini memenuhi ekspektasi para penggemar gimnya?

Setelah turnamen World Warrior yang dimenangi Ryu (Koji) berakhir, persahabatan Ryu dan Ken (Centineo) pun kandas, terlebih setelah guru mereka tewas di tangan entitas gelap bernama Akuma. Enam tahun kemudian, Bison (Dastmalchian), sang diktator tangguh, kembali menggelar turnamen yang sama. Sejumlah petarung tangguh turut ambil bagian, termasuk Ryu, Ken, Chun-Li, Balrog, Guile, dan Dhalsim, yang masing-masing memiliki motif personal. Sementara itu, Bison ternyata berencana menyerap energi Hado milik Ryu demi memperkuat dirinya.

Para penggemar gimnya tentu tahu persis apa yang mereka harapkan: aksi pertarungan spektakuler dari para petarung dengan gaya bertarung unik yang merepresentasikan berbagai negara. Saya pun termasuk penggemar gim ini sejak era 1990-an, ketika memainkannya melalui konsol Super Nintendo Entertainment System (SNES). Dari sisi tersebut, setidaknya secara visual, film ini memang tidak mengecewakan. Adegan-adegan pertarungannya disajikan secara mengesankan dengan gaya yang familier dan tidak jauh berbeda dari gimnya. Efek visual turut memperkuat sajian aksi tersebut. Sosok antagonis ikonik Akuma juga mencuri perhatian lewat penampilannya yang garang dan beringas, sebagaimana dalam gimnya. Menariknya, Film ini juga sering diselipkan segmen animasi yang mengesankan, seperti pada bagian awal. Jujur saja, melihat output kisahnya, format animasi terasa jauh lebih cocok untuk keseluruhan film ini.

Satu aspek yang terbilang sangat lemah adalah naskahnya. Plot film ini nyaris tidak memberikan eksposisi yang memadai untuk memperkenalkan masing-masing karakter. Banyaknya karakter mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Sejumlah momen terasa terputus, sementara beberapa lainnya terkesan dipaksakan atau berpindah terlalu cepat dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Akibatnya, alur cerita secara keseluruhan terasa tidak koheren dan sulit membuat penonton terikat secara emosional dengan para karakternya. Berbagai pertanyaan pun muncul, tetapi hingga film berakhir, tidak semuanya terjawab dengan memuaskan. Lantas, bagaimana penonton bisa peduli terhadap nasib para karakter, apalagi menantikan kelanjutan kisah mereka?

Street Fighter boleh jadi merupakan salah satu pencapaian visual terbaik dalam adaptasi gim ini ke layar lebar, tetapi tidak demikian halnya dengan naskahnya yang amburadul. Upaya memberikan porsi cerita yang relatif merata kepada semua karakter tampaknya justru membuat plotnya terasa tercerai-berai. Kisah persahabatan Ryu dan Ken serta konflik Chun-Li saja sudah cukup kompleks, tetapi film ini masih dijejali sejumlah subplot lain yang semakin memperumit narasinya. Jika ceritanya berfokus pada satu atau dua karakter utama, hasilnya mungkin akan jauh lebih menarik. Jika kamu berharap dapat menyaksikan satu turnamen utuh seperti dalam gimnya, jangan berekspektasi terlalu tinggi.

The post Street Fighter | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Street Fighter boleh jadi adalah pencapaian visual terbaik untuk adaptasi gimnya, tetapi tidak untuk naskahnya yang amburadul.
The post Street Fighter | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link