Tenzing | REVIEW

Tenzing adalah film biografi petualangan berbentuk dokudrama yang digarap Jennifer Peedom. Peedom adalah sineas dokumenter berpengalaman yang telah membuat sejumlah film dokumenter panjang, seperti Sherpa, Mountain, dan River. Tak tanggung-tanggung, film ini juga dibintangi nama-nama besar, seperti Tom Hiddleston, Willem Dafoe, Caitríona Balfe, serta aktor lokal asal Tibet, Genden Phuntsok, yang memerankan tokoh titularnya. Bermodal sineas berpengalaman dan deretan pemain tersebut, apa yang ditawarkan oleh biopik ini?

Sejak kecil, Tenzing Norgay (Phuntsok) telah berambisi mencapai puncak Gunung Everest, atau dalam istilah lokal disebut Chomolungma. Kesempatan itu datang beberapa kali ketika ia bekerja sebagai pemandu sekaligus pengangkut perlengkapan (sherpa) bagi para pendaki Barat yang ingin menaklukkan gunung tertinggi di dunia tersebut, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan. Hingga akhirnya, pada 1953, ia bergabung dalam ekspedisi pendaki asal Inggris yang dipimpin Kolonel John Hunt (Dafoe). Dalam rombongan tersebut, turut serta pendaki berpengalaman sekaligus tokoh penting asal Selandia Baru, Edmund Hillary (Hiddleston).

Rasanya baru kali ini sosok Tenzing Norgay, salah satu pendaki pertama yang mencapai puncak Gunung Everest, menjadi fokus utama sebuah film fiksi. Sejumlah film dokumenter tentang dirinya memang pernah diproduksi, tetapi di ranah fiksi, kisahnya relatif belum banyak diangkat. Entah apakah dominasi perspektif Barat menjadi penyebabnya, tetapi fenomena ini bisa dipahami dalam konteks industri film. Sementara itu, sejak bagian eksposisi, Tenzing lebih banyak berfokus pada perjalanan hidup Tenzing sejak kecil hingga dewasa, termasuk kehidupan rumah tangganya. Kisah masa lalunya kerap disisipkan melalui kilas balik di tengah perjalanan menuju puncak Everest bersama para pendaki Inggris. Pendekatan ini memberikan sentuhan manusiawi pada sosok legendaris tersebut, sekaligus menampilkan aspek budaya lokal yang membentuk kehidupannya.

Plotnya relatif datar tanpa dramatisasi berlebihan sepanjang cerita. Menonton film ini terasa seperti menyaksikan dokumenter biografi tentang sebuah ekspedisi. Sentuhan fiksinya justru terasa paling kuat melalui fragmen-fragmen kilas balik yang cukup dominan. Perjalanan mereka mungkin terasa ringkas, tetapi film ini tetap memberikan gambaran tentang proses pendakian yang sulit dan berbahaya. Penonton sudah mengetahui bagaimana kisah ini akan berakhir, tetapi cara perjalanan panjang tersebut disajikan tetap menjadi pengalaman sinematik yang mengesankan. Secara visual, baik pengambilan gambar dilakukan di studio maupun langsung di lokasi, semuanya tampak sangat meyakinkan. Desain produksi dan sinematografinya menjadi aspek yang paling menonjol, dengan pencapaian visual yang mengagumkan sepanjang film.

Para aktor seniornya, Hiddleston maupun Dafoe, tampil baik dalam peran masing-masing. Namun, bagi penikmat film yang telah mengikuti kiprah keduanya, penampilan mereka kali ini bukanlah sesuatu yang terbilang istimewa. Catatan menarik justru datang dari tiga aktor yang memerankan Tenzing Norgay pada periode usia berbeda, yakni Samdrup Dorje saat kecil, Tenzin Dalha saat muda, dan Genden Phuntsok saat dewasa. Ketiganya tampil meyakinkan dengan kedalaman karakter yang berbeda sesuai fase kehidupan Tenzing. Dalha, khususnya, tampil menonjol dalam sejumlah adegan emosional yang menggambarkan suka duka hubungannya dengan sang istri. Secara keseluruhan, ketiganya berhasil menghadirkan sosok Tenzing yang terasa hidup dan manusiawi.

Sebagai dokudrama yang membumi dan menyentuh, Tenzing didukung oleh kualitas produksi yang mengagumkan serta penampilan meyakinkan dari ketiga pemeran tokoh utamanya. Film ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan (tribute) kepada dua pelopor pendakian Gunung Everest, khususnya Tenzing Norgay. Bagi penikmat film bertema pendakian gunung, terlebih para pendaki, film ini wajib ditonton. Sayangnya, kita tidak bisa menyaksikannya di layar lebar, yang tentu akan menghadirkan pengalaman sinematik lebih membekas. Meski demikian, Tenzing tetap menjadi tontonan yang istimewa, bahkan hanya melalui layanan streaming.

The post Tenzing | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Sebagai dokudrama yang membumi dan menyentuh, Tenzing didukung oleh kualitas produksi yang mengagumkan serta penampilan meyakinkan dari ketiga pemeran tokoh utamanya.
The post Tenzing | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link