Ain | REVIEW

“I deserved to be seen, heard, and valued.”

-Poster (Ain, 2026)

Fenomena menjamurnya film horor di industri sinema Indonesia belakangan ini kerap melahirkan tren produksi instan yang diharapkan mengejar momentum komersial. Efeknya tentu tanpa memedulikan kematangan dan kedalaman naskah. Hal ini terlihat jelas saat sebuah PH memproduksi Ain pada awal 2026. Mengangkat topik yang sering diperbincangkan di media sosial, yakni penyakit spiritual ain atau kutukan nonmedis akibat pandangan mata yang penuh kedengkian.

Ain (2026) rilis di bioskop pada 7 Mei 2026, bersama dengan The Bell: Panggilan untuk Mati (2026), Tumbal Proyek (2026), dan juga Silent Dance (2026). Namun, penulis masih ingat di masa tayangnya, penonton kita saat ini jauh lebih kritis menghadapi narasi yang cacat logika. Buktinya di linimasa sosial media muncul ragam tanggapan: baik yang pro, tapi banyak pula yang kontra.

Berdasarkan data resmi dari website Cinepoint, film ini hanya mampu menjaring 101.647 penonton di masa edarnya. Kegagalan komersial di bioskop ini lantas membuat film arahan sutradara Archie Hekagery tersebut kemudian dilempar ke platform digital Netflix pada 15 Oktober 2026. Lalu, apakah perpindahan medium ke layar streaming ini akan semakin menelanjangi segala kebobrokan logika cerita yang ada di dalamnya? Apa gagasan body horror yang coba ditawarkan sang sineasnya? Mari kita baca bersama.

Ain (2026) berpusat pada kehidupan Joy Putri (Fergie Brittany), seorang beauty influencer narsistik yang sangat terobsesi mengejar validasi digital. Dia bermimpi meraih sepuluh ribu penonton saat melakukan siaran langsung di TikTok. Obsesi ini berakar dari trauma masa lalunya saat SMA, di mana ia memiliki berat badan berlebih (overweight) dan selalu diabaikan oleh lingkungan sekitar. Meskipun sahabat dekatnya, Dini Haryanti (Putri Ayudya), berulang kali memperingatkan Joy untuk berhenti memamerkan kecantikan demi menghindari penyakit ain: Joy justru memilih bersikap tak acuh, menutup mata dan telinganya.

Malapetaka spiritual pun tiba ketika rentetan pujian serta pandangan hasad dari ribuan netizen anonim menjelma menjadi kutukan nyata. Tubuh glamor Joy secara perlahan mengalami pembusukan fisik dan mutasi mengerikan layaknya zombie yang mengancam nyawanya. Di tengah keputusasaan menghadapi kondisi tubuhnya yang hancur dan statusnya sebagai ketua panitia reuni SMA yang telanjur terbengkalai: Joy bersama Dini terpaksa menempuh cara-cara irasional. Dia mengadakan sayembara publik demi mengumpulkan air wudhu/air mandi bekas dari orang yang membencinya sebagai penawar instan.

Dari sudut pandang naratif, naskah yang juga ditulis oleh Archie Hekagery ini remuk total karena melanggar hukum sebab-akibat (causality) dan merusak suspension of disbelief penonton. Puncak keanehan cerita berada pada premis “sayembara air wudhu/air mandi bekas”. Berharap menghimpun air mandi dari ribuan netizen asing tanpa kejelasan verifikasi geografis adalah konsep konyol yang menolak akal sehat. Bagaimana Joy tahu air mana yang manjur jika pelakunya bisa saja akun anonim di luar pulau? Apa iya se-simple itu menaruh sosok antagonisnya di ending? Walau konsep dakwah dan temanya menarik, genre body horror yang jarang disentuh sineas kita, tapi mengapa justru dieksekusi seperti itu? Entahlah, penulis medioker seperti saya hanyalah penikmat film semata.

Ketidakkonsistenan karakter dan dialog-dialognya juga cukup kaku dan mengganggu. Dini, yang diperkenalkan secara megah sebagai seorang Profesor di bidang robotika, secara ajaib kehilangan nalar ilmiahnya. Misalnya, saat mendapati Joy nyaris sekarat, responsnya hanyalah menelepon suaminya secara kasual, daripada mengambil tindakan medis darurat atau meminta pertolongan ke tetangga. Lebih fatalnya lagi, film ini mengabaikan struktur keluarga dasar; tidak ada sosok ibu atau kerabat dekat yang peduli melihat Joy bermutasi menjadi zombie. Lah, bukankah dalam keadaan hidup dan mati, keluarga adalah kunci?

Penulis memang bukan sosok yang agamis dan si paling tahu soal agama. Namun, dosa naratif terbesar film ini adalah miskonsepsi logika religi yang diangkatnya sendiri. Dalam syariat Islam, penawar utama saat pelaku ain tidak diketahui adalah wudhu, salat, dan ruqyah mandiri. Naskah sengaja membuat Joy mengabaikan kewajiban fundamental ini demi memperpanjang durasi konflik body horror. Resolusi cerita pun terasa instan dan malas; setelah dicelup dan mandi air bekas, Joy langsung pulih mulus tanpa cacat, lalu mendadak “hijrah” tanpa adanya transformasi batin atau eksplorasi spiritual yang matang. Wow, berarti rekan-rekannya jadi reuni SMA dong?

Secara estetika visual, penata kamera Fahmy J. Saad dan penata rias Eba Sheba tampaknya hanya berfokus pada upaya mengeksploitasi elemen body horror semata. Transformasi fisik Joy dipresentasikan dengan efek kosmetik yang menjijikkan untuk memancing rasa ngeri instan dari penonton. Namun, visual yang destruktif ini tidak dibarengi dengan pembangunan atmosfer psikologis yang solid.

Desain produksi gagal menciptakan ruang yang mencekam; adegan krusial di danau yang seharusnya menegangkan justru terasa hambar akibat eksekusi editing tidak memiliki ritme ketegangan yang baik. Contohnya lagi, saat Joy sudah berubah mukanya seperti zombie karena ain, dia harus datang menemui teman SMA-nya, tetiba ditarik jilbab penutup mukanya karena terlalu mencolok. Yang terjadi? Yes, semburan darah kotor dengan efek CGI ke wajah teman-temannya. WHY? Musik latar yang juga digarap Harry Budiman dan Ganden Bramanto pun kerap kali berlebihan (overused): diharapkan membangun teror, justru terasa sedikit mengganjal dan komikal.

Sangat disayangkan melihat jajaran aktor berbakat seperti Putri Ayudya harus terjebak dalam naskah seperti ini. Putri Ayudya telah berusaha keras memberikan kedalaman emosi pada karakter Dini, namun karakternya dibatasi oleh dialog-dialog kaku dan keputusan plot yang irasional. Sementara itu, Fergie Brittany sebagai Joy hanya diberi ruang untuk berekspresi antara narsistik di awal film dan berteriak ketakutan di sisa durasi. Chemistry antar-pemain terasa artifisial, membuat penderitaan fisik Joy tidak pernah berhasil memicu rasa empati atau ketakutan yang organik dari penonton, bahkan di batin penulis sendiri. Sisanya? Silakan tonton dan nilai sendiri.

Ain (2026) adalah sebuah produk sinema religius yang membawa pesan dakwah yang baik, namun gagal total akibat naskah yang ditulis secara ceroboh dan terburu-buru. Digadang dapat menyajikan edukasi spiritual yang mendalam mengenai penyakit hati, film ini justru menjadikannya sebagai lelucon irasional lewat plot sayembara air mandi yang absurd. Ketika logika internal sebuah cerita diruntuhkan demi estetika visual body horror semata, film tersebut kehilangan marwahnya sebagai sebuah karya seni.

NB: Update pada 22 Oktober 2026, film ini menuai polemik tidak hanya pada kisahnya, tapi juga pada permasalahan hak cipta penggalan audio yang dipakai. Rating rendah disematkan bukan berarti penulis membenci sineasnya. Film ini tidak hanya gagal memberikan teror psikologis yang matang, tetapi juga memperlakukan akal sehat penonton dan esensi ajaran religi dengan sangat abai.

Platform Tayang: Netflix

Judul: Ain | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 50 Menit | Sutradara: Archie Hekagery | Penulis: Archie Hekagery | Produser: Raam Punjabi | Rumah Produksi: MVP Pictures dan Manara Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Fergie Brittany, Putri Ayudya, Bara Valentino, Clara Kaizer, Alya Putri, Dimas Putra, Iqbal Abdillah, Irmahayati Desmond, Agus Firmansyah, Amanda Gondowijoyo, Dinda Soediono, Cindy Purba, Julfikar Maha Putra, Aloysius Gonzaga Malau, Budibor, Roy Wenas, Ratna Suri, Fhika Rizky Meisandy, Maryam Supraba, Rizal, Mayxandra Nadine Azzahra, dan Annisa Luthfiani.

The post Ain | REVIEW appeared first on montasefilm.

​“I deserved to be seen, heard, and valued.” -Poster (Ain, 2026) Fenomena menjamurnya film horor di industri sinema Indonesia belakangan ini kerap melahirkan tren produksi instan yang diharapkan mengejar momentum komersial. Efeknya tentu tanpa memedulikan kematangan dan kedalaman naskah. Hal ini terlihat jelas saat sebuah PH memproduksi Ain pada awal 2026. Mengangkat topik yang sering
The post Ain | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link