Dua Artikel Kritikus Montase Film Lolos Nominasi Sayembara Kritik Film DKJ 2026

JAKARTA – Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) resmi mengumumkan daftar 24 Nominasi Karya Terpilih dalam ajang Sayembara Kritik Film DKJ 2026 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dari 201 naskah yang tersubmisi, dan melalui proses penilaian intensif, salah satu penulis Montase Film, Purwoko Ajie (Puralexdanu Patjingsung), berhasil meloloskan dua artikel kritik sekaligus.

Kedua artikel karya Purwoko Ajie yang masuk nominasi bersaing bersama 22 naskah dari 20 penulis lainnya di seluruh Indonesia. 24 artikel nominasi karya terpilih ini disaring kembali oleh dewan juri untuk memperebutkan posisi 3 Karya Terbaik.

Acara puncak Malam Anugerah Sayembara Kritik Film 2026 kemudian diselenggarakan pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Selain prosesi pembacaan pemenang, perhelatan kebudayaan tersebut juga disemarakkan oleh pertunjukan hiburan sulap Obie Magic dan penampilan musik spesial dari grup band indie, Efek Rumah Kaca (ERK). Event ini dihadiri oleh perwakilan mOntasefilm, Andreai Budiman.

Berdasarkan hasil penilaian akhir dewan juri pada malam penganugerahan tersebut, Ratna Asih asal Semarang, Jawa Tengah berhasil keluar sebagai Juara Terbaik I lewat naskah kritiknya yang berjudul Andai Pengorbanan Ibu Tidak Dirayakan, Apakah Ayah Akan Tahu Arahnya Ke Mana?. Posisi Juara Terbaik II diraih oleh Agusto Simor asal Maumere, Nusa Tenggara Timur dengan karya berjudul Memanggil Yang Hilang Membaca Kamera, Jejak, dan Kehilangan dalam film SIE. Sementara itu, Anastasia Sijabat dari Jakarta Timur, DKI Jakarta menyabet gelar Juara Terbaik III melalui ulasan kritisnya yang bertajuk Ketika Realisme Menjadi Takdir: Membaca Ulang Daun di Atas Bantal.

Berikut adalah daftar lengkap 24 judul naskah Nominasi karya terpilih Sayembara Kritik Film DKJ 2026:

  • Agusto Simor – Memanggil Yang Hilang Membaca Kamera, Jejak, dan Kehilangan dalam film SIE.
  • Akbar Saputra – Jika Manusia Bisa Diulang: Prediksi dan Kendali dalam Film Sore: Istri dari Masa Depan.
  • Akhmad Idris – Para Perasuk Menghadirkan Ketakpastian, Membuka Keterjalinan, Membuktikan Kerentanan.
  • Anastasia Sijabat – Ketika Realisme Menjadi Takdir: Membaca Ulang Daun di Atas Bantal.
  • Anggi Gayatri Purba – Ketika Plot Merampas Agensi Perempuan dalam Women From Rote Island.
  • Beny Kristia – Mau Bersaing dengan Hollywood Pake Gaya Hollywood ala Kuldesak (1998).
  • Della Rosa – Perjamuan Terakhir Ketidakadilan dalam Nyanyi Sunyi dalam Rantang.
  • Edoardo Irfan – Pemicu Autopoiesis Sinema Animasi Indonesia: Mengapa Merah Putih: One for All Menjadi Penting.
  • Fadhal Fahma Ilmi Albama – Buruh dan Penari yang Menjadi Monster: Badut Gendong yang Melanggengkan Hororifikasi Seni dan Propaganda Orde Baru Anti-Komunisme.
  • Fadhal Fahma Ilmi Albama – FouFo (2026): Antara yang Canggih dan Malas Bagaimana Pendaratan UFO di Dunia Ketiga sebagai Residu Kolonialisme.
  • Febfi Setyawati – Cucian Orang Lain di bawah Mimpi Sendiri.
  • Khumaid Akhyat Sulkhan – Membangkitkan Tragedi 1965 Sebagai Mayat Hidup: Malam Para Jahanam Dan Film Horor Dalam Praktik Memori.
  • Lukas Deni Setiawan – Membaca Konteks Historis Nasib Petani di Film Dokumenter Negeri di Bawah Kabut (2011).
  • Mulya Irfani – Jebakan (Mindfulness) in the Age of Bad News: Sebuah Mediasi Bersama Film Para Perasuk.
  • Mulya Irfani – Show Trauma, Don’t Tell Trauma? Menimbang Ulang “Show, Don’t Tell” di dalam Arena Film Trauma.
  • Ni Luh Ayu Sukmawati – Mitos Keluarga Bahagia dalam Film Dokumenter My Therapist Said, I Am Full of Sadness.
  • Purwoko Ajie – Āloka Remang dalam The Period of Her (2026), Ketika Tubuh Perempuan Tak Pernah Sepi.
  • Purwoko Ajie – Fatamorgana Sinema: Rumah yang Tak Lagi Heimlich dalam Crocodile Tears (2026).
  • Raihan Khairunnisa – Hantu Itu Adil, Naskahnya Tidak: Membaca Ulang Tubuh Queer dalam Ghost in the Cell.
  • Ratna Asih – Andai Pengorbanan Ibu Tidak Dirayakan, Apakah Ayah Akan Tahu Arahnya Ke Mana?.
  • Syafiul Agung Siregar – Bagaimana Usmar Ismail Menguliti Borok dan Luka Sejarah Bangsanya Dengan Meminjam Estetika Neo-Realisme dan Film Noir di Lewat Djam Malam.
  • Sunlie – INDONESIA DALAM DISTOPIA: Rasisme dan Kerusakan Sosial dalam Pengepungan di Bukit Duri.
  • Teguh Tri Noor Lianto – Ketika Beton Tidak Mengubah Manusia: Membaca Modernitas, Ruang dan Perilaku dalam Cintaku di Rumah Susun (1987).
  • Vito Mursa – Ruang Sempit Berbentuk Persegi bagi Wanita dalam Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969).

The post Dua Artikel Kritikus Montase Film Lolos Nominasi Sayembara Kritik Film DKJ 2026 appeared first on montasefilm.

​Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) resmi mengumumkan daftar 24 Nominasi Karya Terpilih dalam ajang Sayembara Kritik Film DKJ 2026 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dari 201 naskah yang tersubmisi, dan melalui proses penilaian intensif, salah satu penulis Montase Film, Purwoko Ajie (Puralexdanu Patjingsung), berhasil meloloskan dua artikel kritik sekaligus.
The post Dua Artikel Kritikus Montase Film Lolos Nominasi Sayembara Kritik Film DKJ 2026 appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link