Tren film bencana rupanya masih menjadi favorit para pembuat film. Kali ini, kisahnya didasarkan pada peristiwa nyata, yakni Badai Otis, badai Kategori 5 yang melanda kota wisata pantai Acapulco, Meksiko, pada tahun 2023 lalu. Surviving Hurricane Otis adalah film bencana produksi Meksiko yang disutradarai oleh Jorge Michel Grau. Film ini dibintangi sejumlah aktor lokal, yakni Benny Emmanuel, Kristyan Ferrer, dan Mónica del Carmen. Film berdurasi 96 menit ini belum lama dirilis di Netflix. Lantas apa yang ditawarkan film ini di tengah maraknya film bergenre serupa belakangan ini?
Seorang pemuda bernama Wirpul (Emmanuel) mendapatkan pekerjaan impiannya sebagai kapten kapal wisata hanya beberapa jam sebelum badai besar melanda wilayah tersebut. Wirpul mengajak Candi (Ferrer), sepupunya, untuk menjadi asistennya. Masalahnya, mereka berdua tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk pekerjaan tersebut. Seperti yang sudah diduga, badai pun datang dan meluluhlantakkan wilayah itu, termasuk kapal mereka. Menyelamatkan kapal bukan lagi prioritas utama, yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Film tentang badai di laut bukanlah hal baru. Ada puluhan film yang mengangkat tema serupa, sebut saja The Perfect Storm, The Finest Hours, All Is Lost, hingga film klasik The Poseidon Adventure. Bedanya, film-film tersebut mengambil latar di laut lepas, sementara Surviving Hurricane Otis sebagian besar berlatar di kawasan pesisir. Begitu dahsyatnya Badai Otis hingga dampaknya tak kalah mengerikan dibandingkan bencana yang digambarkan dalam film-film tersebut. Visualisasi badai, meskipun sebagian besar disajikan melalui perspektif kedua protagonis di dalam kapal, tetap terasa mengesankan dan meyakinkan. Penonton seolah turut terjebak di tengah amukan badai bersama mereka.
Satu hal menarik dari film ini adalah latar belakang masing-masing tokoh serta persoalan sosial yang menjadi bagian dari realitas kehidupan warga setempat. Aspek ini membuat ancaman badai seolah menjadi persoalan lain di tengah kesulitan hidup yang telah lebih dahulu mereka hadapi. Alih-alih berfokus pada upaya menyelamatkan diri, Wirpul dan Candi justru terlibat pertengkaran hanya karena perkara sepele. Kemiskinan dan tekanan sosial menjadi akar persoalan yang memaksa mereka bertahan hidup dengan segala cara. Namun, di tengah kekacauan tersebut, badai justru menghadirkan titik balik dalam kehidupan mereka. Ikatan persaudaraan menjadi sumber kehangatan sekaligus salah satu aspek paling menyentuh dalam kisahnya. Permainan akting apik kedua aktor muda ini menjadi faktor pendukung keberhasilan kisahnya.
Surviving Hurricane Otis mungkin bukan film terbaik maupun terburuk dalam genrenya. Namun, pesan tentang kecerobohan manusia dalam menghadapi gejolak alam tetap relevan hingga kini. Film ini memang tidak sebrilian Digger dalam mengemas isu dan menyampaikan pesannya. Meski demikian, dari perspektif ekologis, keduanya sama-sama menggambarkan kondisi bumi saat ini sekaligus kesombongan manusia yang merasa mampu menghadapi kekuatan alam, padahal kerusakan lingkungan yang ditimbulkan turut memperparah krisis tersebut.
Peringatan akan datangnya bencana mungkin telah disampaikan jauh sebelumnya, tetapi manusia kerap mengabaikannya. Film-film bencana telah berulang kali menyampaikan pesan yang tegas dan gamblang. Jika kita tidak mampu hidup selaras dengan alam, jangan salahkan alam ketika ia menunjukkan daya rusaknya. Kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Cukup tengok apa yang tengah terjadi di negeri kita sendiri.
The post Surviving Hurricane Otis | REVIEW appeared first on montasefilm.
Surviving Hurricane Otis bisa jadi bukan yang terbaik dan terburuk untuk genrenya, tetapi pesan konstan tentang kekonyolan manusia mengantisipasi gejolak alam masih relevan hingga kini.
The post Surviving Hurricane Otis | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm





