“Heh, Lo kalau ngomong jangan sembarangan, ya. Mentang-mentang temen gua ini tonggos. Upilnya keras, udelnya bau. Lo kudu inget, pembeli adalah raja. Gue rajanya, ini ani-aninya.”
-Kasino (Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!!, 2026)-
Mungkin sudah lebih dari 4 bulan penulis tidak berada di Solo. Hal ini karena untuk sementara waktu pindah dan stay dulu di kampung halaman. Maka, kalau ada yang tanya “kok gak update film terbaru bioskop bung?“, nah itu adalah salah satu jawabannya ya, wkwkwk. Itulah mengapa, banyak film yang sebenarnya sudah rilis di awal tahun di bioskop, baru penulis ulas di saat beredar di platform digital. Lah, bukannya di kampung halaman ada bioskop? Lho lho, kan sudah pernah dibahas, dan ini fakta lho ya, coba baca artikel penulis di mojok.co ini deh.
Kebetulan kemarin, 29 Oktober 2026, di Netflix baru saja merilis film Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! (2026). Sebelumnya film ini tayang regular pada 11 Juni 2026, harus bersaing dengan Dosa: Penebusan atau Penghakiman (2026) dan Garuda di Dadaku (2026). Jujur judul aslinya, sulit sekali ditulis ulang, bahkan selama mereview nanti, mohon maaf ya kalau ada salah atau kurang hurufnya. Nah, setidaknya berdasarkan data Cinepoint, film ini hanya meraup 493.810 penonton. Lalu, kekocakan apa yang dibawakan oleh Trio Dono, Kasino, dan Indro kali ini?
Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! (2026) berkisah tentang keputusasaan ekonomi yang melanda Dono, Kasino, dan Indro setelah kehilangan pekerjaan mereka akibat kecerobohan konyol. Tergiur oleh kehidupan mewah para selebritas internet dan potensi pendapatan AdSense yang melimpah, ketiganya nekat banting setir menjadi pembuat konten video di media sosial. Setelah berbagai eksperimen format video, mulai dari ulasan makanan (mukbang), social experiment, hingga aksi usil (prank), gagal menarik perhatian penonton, Kasino mencetuskan ide yang dianggap sebagai formula pasti viral bagi netizen Indonesia: menggabungkan horor mistis dengan drama keluarga bersimbah air mata.
Demi mewujudkan rencana tersebut, mereka bertolak mengunjungi Desa Daranggo untuk memproduksi video horor rekayasa atau settingan dengan berpura-pura digentayangi hantu leluhur. Sial bagi mereka, manipulasi yang direncanakan menggunakan properti jenazah setempat, justru berubah menjadi petaka nyata saat mereka diteror arwah penasaran yang menuntut keadilan atas tragedi masa lalu. Menariknya, video horor rekayasa yang dipersiapkan secara serius justru gagal total di pasaran. Sebaliknya, mereka mendadak terkenal setelah rekaman di balik layar yang memperlihatkan kepanikan dan kekonyolan justru meledak di jagat maya.
Secara naratif, film ini menawarkan premis yang menarik untuk membaca kegilaan masyarakat modern terhadap validasi digital dan fenomena viralitas. Penulis melihat adanya kritik sosial mengenai bagaimana algoritma media sosial seolah menjadi jalan pintas bagi masyarakat kelas bawah untuk melepaskan diri dari jerat kesulitan ekonomi. Keterlibatan sejumlah penulis asal Thailand, termasuk Banjong Pisanthanakun, turut memberikan fondasi horor-komedi yang terasa lebih tertata dibandingkan beberapa film reborn garapan Falcon Pictures sebelumnya. Perpaduan horor dan komedi situasi juga menawarkan kesegaran, terutama ketika film mulai memperlihatkan bagaimana batasan moral dapat dengan mudah dikesampingkan demi mengejar angka views.
Sayangnya, kekuatan narasi yang terbangun pada paruh awal perlahan kehilangan daya tariknya menjelang babak ketiga. Naskah mulai kedodoran ketika misteri masa lalu para arwah desa diselesaikan secara terburu-buru dan cerita justru beralih pada konflik drama keluarga yang cenderung konvensional. Humor politis dan sindiran sosial yang semula menjanjikan pun terasa hanya menjadi pemanis di antara rangkaian lelucon. Film ini seperti enggan mengambil risiko lebih jauh dan memilih jalan aman demi menyenangkan pasar arus utama. Akibatnya, potensi satire ala Warkop DKI untuk membongkar sisi gelap kultur digital kita, justru berakhir hambar.
Menurut penulis juga, Warkop DKI kali ini lebih kepada repetisi banyak scene ikonik dari era klasiknya. Misal saat Indro ingin merokok di luar ruangan hotel dan tetiba mendapatkan korek api secara misterius. Adegan ini jelas merupakan replikasi langsung dari gag horor-komedi legendaris dalam film Setan Kredit (1981). Begitu pula dengan adegan makan di meja makan putar di mana Dono selalu berakhir lahap menyantap nasi hanya bermodalkan semangkuk penuh sambal, yang mencerminkan kembali momen ikonis dari film Atas Boleh Bawah Boleh (1986).
Lalu ada pula sekuens wajib menari dan bernyanyi di pantai bersama barisan wanita seksi seperti formula wajib dari Soraya Intercine Films pada era 1980-an. Bahkan celotehan asbun ala Kasino di masa lalu seperti kata-kata sindiran khasnya juga banyak dibawakan kembali di sini. Tapi sekali lagi, melalui repetisi nostalgia tersebut, penulis tidak mendapatkan kedalaman karakter, atau setidaknya tertawa lepas oleh lawakannya.
Di bawah kendali Herwin Novianto, atmosfer horor-komedi dikemas dengan ritme yang cukup dinamis. Penulis mengapresiasi visualisasi pedesaan terpencil yang dibangun melalui penataan gambar dan pencahayaan yang cukup mumpuni. Kontras antara suasana mistis dan ruang komedi memberikan kesempatan bagi lelucon slapstick khas Warkop DKI untuk tetap bekerja tanpa sepenuhnya menghilangkan intensitas misteri. Sinematografinya juga cukup mampu menjaga perpindahan emosi penonton dari ketegangan akibat teror makhluk gaib menuju momen-momen komikal.
Kendati demikian, kenyamanan visual tersebut sesekali terganggu oleh eksekusi teknis pascaproduksi yang kurang maksimal. Penyuntingan pada paruh akhir terasa patah dan terburu-buru, seolah melompat dari satu sekuens ke sekuens lain tanpa transisi yang cukup mulus. Misalnya, saat mereka diusir dari desa karena mencuri 4 mayat. Dono, Kasino, dan Indro harus menginap di hotel. Nah, di hotel ini mereka mendapatkan ragam teror. Bahkan penjaga hotelnya yang diperankan Asri Welas, muncul disini. Lalu apa hubungannya dengan keluarga di masa lalu yang menolong Trio DKI ini? Kan nenek di rumah megah yang menolong mereka juga diperankan oleh orang yang sama? Rasanya sekuens ini, jika tidak dimasukkan ke dalam film, tidak akan mengubah apapun kok.
Penggunaan efek visual latar belakang atau green screen pada beberapa adegan luar ruangan juga masih kentara. Keterbatasan ini sedikit mengurangi kesan magis dari atmosfer pedesaan mistis yang sebenarnya telah dibangun dengan cukup baik sejak awal. Begitu juga prostetik atau make up mayatnya, terlihat cukup meyakinkan.
Dinamika performa aktor menjadi salah satu daya tarik film ini, sekaligus membuka ruang perdebatan tersendiri. Vino G. Bastian tampil dominan dengan kemampuan menghidupkan kembali gestur tubuh dan cara bicara Kasino yang tajam, sinis, serta ceplas-ceplos. Sementara itu, Deddy Mahendra Desta sebagai Dono menawarkan interpretasi yang cukup menarik. Ia tidak sekadar meniru karakter Dono klasik, tetapi mencoba meleburkan sifat naifnya dengan persona komedi modern yang selama ini melekat pada dirinya. Jujur, suaranya saja yang nyaris identik, namun visualnya belum.
Di sisi lain, Tora Sudiro sebagai Indro kembali hadir dengan porsi yang cukup untuk menjaga keseimbangan dinamika kedua rekannya. Kehadiran Indro Warkop, Marsha Timothy, hingga Asri Welas turut memberikan warna tersendiri. Begitu pula kemunculan Andre Taulany dan Ivan Gunawan yang menambah kelucuan situasi. Secara keseluruhan, jajaran pemain berhasil menjaga energi komedi film ini, meskipun tidak seluruh leluconnya selalu bekerja dengan maksimal.
Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! (2026) merupakan hiburan horor-komedi yang cukup menghibur dengan gagasan menarik mengenai fenomena viralitas di tengah masyarakat digital. Tapi gagal menerjemahkan naskah dan satire ala Warkop DKI yang membumi. Potensi kritik sosial yang ditawarkan sejak awal belum sepenuhnya digarap hingga tuntas. Film ini berhasil mengundang tawa, tetapi belum cukup berani untuk membuat penontonnya ikut menertawakan sekaligus mempertanyakan kegilaan dunia digital masa kini.
Platform Tayang: Netflix
Judul: Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! | Tahun Produksi: 2025 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 02 Jam 00 Menit | Sutradara: Herwin Novianto | Penulis: Theo Arnoldy, Dany Beler, Herwin Novianto, dan Daryl Wilson | Produser: Frederica | Rumah Produksi: Falcon Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Deddy Mahendra Desta, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Marsha Timothy, Asri Welas, Indy Barends, Ivan Gunawan, Andre Taulany, Dicky Difie, Fuad Idris, Chika Waode, dan Ingrid Widjanarko.
The post Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Heh, Lo kalau ngomong jangan sembarangan, ya. Mentang-mentang temen gua ini tonggos. Upilnya keras, udelnya bau. Lo kudu inget, pembeli adalah raja. Gue rajanya, ini ani-aninya.” -Kasino (Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!!, 2026)- Mungkin sudah lebih dari 4 bulan penulis tidak berada di Solo. Hal ini karena untuk sementara waktu pindah dan stay dulu di kampung
The post Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




