
Warning: Sangat disarankan untuk menonton filmnya sebelum membaca ulasan ini.
Collision Course adalah film crime thriller produksi Spanyol yang digarap oleh Daniel Sánchez Arévalo. Film berdurasi 106 menit ini dibintangi sejumlah nama tenar lokal, antara lain Laia Costa, Karra Elejalde, Luis Zahera, Tamar Novas, Álvaro Cervantes, hingga Lluís Homar. Film ini dirilis Netflix secara global pada 30 Oktober lalu. Film ini menawarkan sesuatu yang di luar dugaan untuk genre yang kini membeludak di pasaran. Apakah itu?
Empat orang polisi dan eks polisi, yakni Carla, Pedro, Tomás, dan Raúl, bersama seorang bankir bernama Ernesto, bekerja sama untuk merekonstruksi sebuah pencurian berlian dari brankas sebuah bank kecil di Kota Madrid. Semua berjalan sesuai rencana hingga mereka menyadari bahwa berlian yang dicari ternyata tidak ada di sana. Hal ini memicu gesekan di antara mereka sehingga kecelakaan lalu lintas pun tak terhindarkan. Pascakejadian, pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan menemukan sejumlah kejanggalan yang akhirnya mengarah kepada keempat orang tersebut.
Plot di atas terkesan tipikal dan sederhana. Namun, setelah menonton filmnya, segalanya berubah drastis 100%. Struktur ceritanya menggunakan pembabakan yang tidak hanya membagi kisah ke dalam sejumlah segmen nonlinier, tetapi juga menerapkan konsep “cerita paralel”. Bagaimana maksudnya? Titik balik kisahnya adalah momen ketika kendaraan mereka ditabrak hingga memakan korban jiwa. Masing-masing segmen plot merupakan kisah alternatif berdasarkan siapa yang tewas dalam kecelakaan tersebut. Misalnya, pada segmen pertama, “Pedro”, orang yang tewas adalah Pedro. Sementara itu, pada segmen “Raúl”, korbannya adalah Raúl. Jadi, film ini mengeksplorasi kemungkinan cerita: bagaimana jika masing-masing dari mereka menjadi korban, dan apa yang kemudian terjadi?
Konsep “cerita paralel” alias what if semacam ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru. Sliding Doors (1998), misalnya, membagi kisahnya menjadi dua alternatif cerita yang berbeda: ketika sang tokoh terlambat naik kereta (subway) dan ketika ia berhasil menaikinya. Kedua kisah tersebut kemudian berjalan bergantian sepanjang film hingga akhir. Run Lola Run (1998) juga membagi ceritanya ke dalam beberapa alternatif yang menggambarkan berbagai kemungkinan usaha Lola untuk menyelamatkan pacarnya. Collision Course lebih mengarah pada formula Run Lola Run, tetapi dengan pendekatan yang jauh lebih brilian dan kompleks.
Dua segmen awal menjadi kunci sekaligus berpotensi membingungkan penonton. Namun, seiring berjalannya cerita, kita tidak akan terlalu kesulitan memahaminya, meskipun tentu tidak semua penonton akan memiliki pengalaman yang sama. Uniknya, meskipun masing-masing segmen menyajikan alternatif cerita yang berbeda, entah bagaimana semuanya tetap memiliki kontinuitas dengan segmen sebelumnya. Kisahnya pun semakin berkembang dan kompleks seiring bermunculannya kejutan-kejutan baru. Hebatnya, meskipun tidak berlangsung dalam satu rangkaian waktu yang sama, naskahnya seolah mampu saling melengkapi dan menghadirkan twist yang brilian. Dijamin, tidak banyak penonton yang mampu mengantisipasi arah ceritanya. Satu hal yang patut dicatat, tidak ada satu pun segmen yang berakhir manis.
Mengapa kisahnya harus disajikan dengan struktur yang sedemikian rumit? Kuncinya ada pada pembuka film yang memberikan eksposisi cukup memadai. Dikisahkan bahwa pada 2013, yang menjadi latar waktu cerita, Spanyol tengah mengalami krisis ekonomi yang memberikan tekanan hebat kepada rakyatnya. Situasinya mungkin tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh, upah menurun, biaya hidup semakin mahal, tunjangan sosial dipangkas, sementara layanan kesehatan dan pendidikan turut terdampak. Semua itu semakin memperlebar kesenjangan sosial dan memicu ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah. Kondisi tersebut membuat berbagai upaya yang dilakukan rakyat untuk memperbaiki kehidupan mereka seolah menjadi sia-sia dan tidak pernah berakhir baik. Jika dikaitkan dengan plot Collision Course, bisakah kita melihat relasinya? Inilah sentilan sekaligus representasi isu sosial yang sangat brilian. Membahasnya tentu membutuhkan perdebatan panjang yang menarik untuk dikaji.
Collision Course memiliki naskah dengan struktur penceritaan yang brilian dan inovatif, sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan isu sosial yang diusungnya. Dari perspektif estetika dan visual, film ini sudah terbilang luar biasa, bahkan semakin istimewa berkat kedalaman kisahnya. Ya, dari sisi penceritaan, mungkin ada satu atau dua kejadian yang terasa terlalu kebetulan. Namun, hey, apa pun bisa terjadi di tengah situasi yang serba chaos. Dalam konteks yang sama, kita juga bisa melihat berbagai peristiwa absurd yang terjadi di negeri kita tercinta saat ini. Batas antara hitam dan putih semakin kabur. Apakah masih ada jalan keluar yang memungkinkan kita menatap masa depan dengan lebih cerah? Saya sendiri tidak berharap kita berakhir seperti para tokoh dalam film ini.
The post Collision Course | REVIEW appeared first on montasefilm.
Collision Course memiliki naskah dengan struktur penceritaan yang brilian dan inovatif, sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan isu sosial yang diusungnya.
The post Collision Course | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




