Vital | REVIEW

Film pendek berjudul Vital dibuka dengan teks yang cukup menarik: “Hanya ada satu negara di dunia yang melegalkan jual beli organ manusia.” Teks tersebut kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “Namun, hukum tersebut justru menginspirasi banyak orang untuk melanggar aturan tersebut.” Kedua pernyataan ini menjadi landasan utama premis ceritanya. Film berdurasi 14 menit ini telah meraih sejumlah penghargaan di berbagai festival film dan bahkan masuk dalam seleksi kategori film pendek untuk ajang Academy Awards tahun depan. Seberapa efektif film ini mengolah premis tersebut menjadi sebuah kisah yang kuat?

Vital merupakan film pendek hasil produksi bersama Kanada, Iran, dan Turki yang digarap oleh sineas Iran-Kanada, Amir Zargara. Sutradara ini sebelumnya juga mendapat pengakuan melalui film pendek A Good Day Will Come (2024), yang meraih sejumlah penghargaan di berbagai festival film dunia. Vital dibintangi sejumlah aktor Iran ternama, di antaranya Mahtab Servati, Reza Akhlaghirad, dan Hossein Soleimani. Saya cukup beruntung bisa menyaksikan film ini karena mendapat permintaan langsung dari tim produksinya untuk mengulasnya sebagai bagian dari kampanye mereka menuju Academy Awards tahun depan.

Dikisahkan seorang ibu bernama Fereshteh (Servati) memiliki seorang putri yang sakit keras. Ia bahkan telah menjual ginjalnya sendiri untuk membiayai pengobatan sang putri. Fereshteh hanyalah seorang buruh kebersihan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Di tengah keputusasaan dan tipisnya harapan hidup sang putri, ia mendapatkan tawaran lain: menjual organ tubuh putrinya kepada seorang penerima donor dari luar Iran, sebuah praktik yang dilarang. Sementara itu, di AS, Dariush (Akhlaghirad), seorang dokter asal Iran, tengah menghadapi masalah besar. Putrinya yang sakit membutuhkan donor organ sesegera mungkin, tetapi peluang mendapatkan donor di AS sangat terbatas akibat panjangnya daftar tunggu.

Dari ringkasan cerita tersebut, sudah terlihat ke mana arah plot film ini. Alurnya terbilang ringkas dan langsung menuju pokok persoalan. Seperti dalam kebanyakan film panjang produksi Iran, kemiskinan menjadi pangkal persoalan (di luar tekanan rezim pemerintah). Dilema sang ibu cukup jelas: ia tidak memiliki cukup uang untuk mengobati putrinya sehingga harus menempuh berbagai cara untuk mencari solusi. Berbeda dengan Dariush, yang sebenarnya memiliki kemampuan finansial untuk membeli organ yang dibutuhkan putrinya, tetapi pada akhirnya memilih menempuh jalur “ilegal”. Terus terang, saat menonton film ini, saya sempat tidak memahami sepenuhnya persoalan yang terjadi. Baru setelahnya saya menemukan informasi bahwa praktik jual beli ginjal di Iran hanya diperbolehkan bagi sesama warga lokal.

Bagi masyarakat Iran, informasi tersebut mungkin merupakan pengetahuan umum. Namun, bagi penonton asing seperti saya, hal ini merupakan informasi krusial yang menjadi salah satu kunci untuk memahami premis ceritanya. Sedikit saja penjelasan mengenai aturan tersebut melalui dialog sebenarnya sudah cukup untuk memberikan petunjuk kepada penonton. Informasi ini juga penting untuk memahami dilema etis yang dihadapi Dariush, yang sulit dimengerti jika aturan tersebut tidak disinggung sebelumnya. Pertanyaan lain pun muncul: jika praktik tersebut melanggar hukum, bagaimana mereka bisa melakukan operasi? Di mana operasi itu dilangsungkan? Jelas, semuanya dilakukan di Iran, tetapi film ini sama sekali tidak memberikan informasi mengenai hal tersebut. Bagaimana sebenarnya hubungan Dariush dengan fasilitas kesehatan di Iran? Ada cukup banyak informasi yang luput dari pemahaman saya, dan hal ini sangat mengurangi kekuatan pesan yang ingin disampaikan filmnya.

Dari sisi visual, film ini juga memiliki beberapa catatan. Latar cerita yang berpindah antara Iran dan AS tidak menghadirkan perbedaan visual yang kontras. Bahkan, keduanya nyaris tidak memiliki pembeda karena nuansa visual sepanjang film cenderung suram dan gelap. Rangkaian adegan menjelang akhir film bahkan terasa lebih bernuansa horor, berbeda dari bagian-bagian sebelumnya. Bisa jadi, semua ini memang disengaja untuk mendukung cerita dan tema yang diusung. Beberapa komposisi visual juga memiliki motif dengan makna dan kedalaman. Musik ilustrasi yang menyayat hati nyaris terdengar sepanjang film, meskipun penggunaannya terasa agak memaksakan emosi dan seolah ingin memberikan simpati tambahan kepada karakter-karakternya. Seluruh pemain juga tampil baik, sekalipun tanpa banyak dialog dan lebih mengandalkan ekspresi wajah. Meski demikian, ekspresi yang ditampilkan sebagian besar hanya berkisar pada kesedihan dan kegelisahan.

Vital jelas membawa pesan besar, tetapi minimnya informasi dan eksekusi cerita yang terlalu ringkas justru membuat isu yang diangkatnya kurang mengena. Adegan penutup memperlihatkan selebaran yang ditempel di tempat umum, menggambarkan banyak warga yang terjebak dalam tekanan ekonomi berat hingga akhirnya terpaksa menjual organ tubuh mereka. Di luar keterbatasan pengetahuan saya mengenai situasi tersebut di sana, keseluruhan cerita tetap terasa bercampur aduk dan saling bertumpang tindih. Durasi yang singkat tampaknya menjadi kendala bagi film ini untuk mengemas begitu banyak lapisan persoalan sekaligus. Kemiskinan, kesenjangan ekonomi, hukum yang tidak berpihak, perdagangan organ tubuh, hingga etika medis, semuanya dirangkum secara terburu-buru sehingga tidak meninggalkan kesan mendalam. Padahal, fokus pada kisah sang ibu dan putrinya saja sebenarnya sudah cukup untuk menyampaikan pesan utama film ini.

The post Vital | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Vital jelas membawa pesan besar, tetapi minimnya informasi dan eksekusi cerita yang terlalu ringkas justru membuat isu yang diangkatnya kurang mengena.
The post Vital | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link