Jangan Buang Ibu | REVIEW

“Tapi waktu dulu Ayah kecil, Eyang kerja sambil ngurus tiga anak. Kenapa tiga anak engga bisa ngurus satu Ibu?”

-Marsha (Jangan Buang Ibu, 2026)-

Fenomena alih wahana atau adaptasi karya literatur ke format sinema di industri film domestik kian hari semakin menunjukkan tren yang masif. Praktik mengubah materi buku, novel populer, biografi tokoh, hingga sekadar utas viral media sosial menjadi karya audio visual, kerap kali dipandang sebagai formula aman bagi para produser untuk meminimalisir risiko komersial. Pondasi adaptasi materi yang tentu memiliki basis pembaca loyal dinilai menjadi investasi instan demi mengamankan modal finansial pasar bioskop, sekaligus memicu atensi publik sejak tahap praproduksi dimulai. Jadi bagi penulis, hal ini terasa jamak akhir-akhir ini.

Kecenderungan yang lazim dari gelombang adaptasi layar lebar ini acap kali terjebak dalam zona kenyamanan komersial yang dangkal. Seringnya, sineas tanah air sekadar memindahkan teks narasi mentah secara harfiah tanpa menawarkan pembacaan baru melalui bahasa gambar ataupun pemaknaan budaya yang beragam. Hasilnya, tidak sedikit karya adaptasi yang justru terasa seperti pemindahan cerita dari satu medium ke medium lainnya, atau bahkan hanya menculik karakternya semata. Diharapkan muncul tafsir kritis yang memperkaya teks aslinya, sinema drama kita terlalu sering mendaur ulang formula kesedihan massal demi mengeksploitasi emosi penonton secara instan.

Di tengah ketatnya persaingan gedung bioskop sepanjang awal hingga pertengahan tahun 2026, produksi terbaru ini menorehkan angka performa komersial yang mencengangkan. Berdasarkan pencatatan data Cinepoint, film Jangan Buang Ibu (2026) karya sutradara Hadrah Daeng Ratu berhasil mendulang 3.356.577 penonton di layar lebar. Angka tersebut menempatkannya dalam jajaran atas tangga box office domestik, melampaui sejumlah judul arus utama seperti Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) dan drama keluarga Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? (2026). 

Di masa edar regularnya pada 25 Juni 2026, Jangan Buang Ibu (2026) ini juga harus berbagi jatah layar dengan judul lainnya, sebut saja Tanah Sengketa (2026) dan Tanah Runtuh (2026). Penulis baru berkesempatan menonton versi yang tayang di Netflix pada 25 Oktober 2026. Lalu alih wahana macam apa yang coba dibangun oleh sang sineas? Apakah hanya mencari butir-butir gumpalan air mata penonton semata? Mari kita baca.

Jangan Buang Ibu (2026) mengisahkan kehidupan Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang membesarkan ketiga anaknya: Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori), setelah ditinggalkan suaminya, Ridho (Dwi Sasono). Hidup dalam kesederhanaan, Ristiana bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Namun, perjuangannya ternyata masih menyisakan persoalan ketika ia mengetahui bahwa sang suami meninggalkan utang dalam jumlah besar. Situasi tersebut kemudian membuat Ristiana mengambil sebuah keputusan yang justru memicu pertentangan dengan ketiga anaknya.

Terusik dengan keputusan sang ibu, Tama, Dewi, dan Tria dihadapkan pada dilema masing-masing. Hubungan keluarga yang dahulu dekat, hangat, dan utuh perlahan mulai merenggang. Jarak yang semakin lebar membuat Ristiana harus menghadapi kerinduan terhadap anak-anaknya sendiri. Di tengah kehidupan yang terus berjalan, ketiganya dihadapkan pada persoalan mengenai tanggung jawab dan kesempatan untuk berbakti kepada ibu yang telah membesarkan mereka. 

Secara naratif, salah satu unsur menarik dari film ini terletak pada penggunaan alur cerita non-linier. Teknik kilas balik yang disisipkan di beberapa bagian cukup efektif memperlihatkan perbedaan kehidupan keluarga Ristiana pada masa lalu dan masa sekarang. Penonton diajak melihat bagaimana kehangatan hubungan ibu dan anak perlahan berubah ketika masing-masing individu mulai memiliki kehidupan sendiri. Ada kontras yang cukup terasa antara masa ketika ketiga anaknya masih membutuhkan kehadiran Ristiana dengan keadaan ketika mereka sudah tumbuh dewasa. Hubungan antargenerasi juga sesekali dibumbui humor mengenai kehidupan era digital, terutama melalui interaksi Ristiana yang gagap teknologi ketika berhadapan dengan cucunya, Marsha/Caca (Basmalah Gralind).

Film ini diadaptasi dari novel berjudul Jangan Buang Ibu, Nak (2014) karya Wahyu Derapriyangga. Kendati demikian, naskah alih wahananya sendiri digarap oleh Widya Arifianti. Naskah masih memiliki persoalan dalam membangun perkembangan karakter, terutama ketika memasuki paruh ketiga film. Perubahan sikap anak-anak yang semula abai kemudian mendadak diliputi penyesalan terasa terlalu terburu-buru. Seolah-olah film ingin segera membawa penonton menuju puncak kesedihan tanpa memberikan cukup waktu untuk memahami perubahan perasaan masing-masing karakter. Beberapa dialog juga terasa terlalu gamblang dalam menyampaikan pesan moral. Padahal, ada banyak situasi yang sebenarnya bisa dibiarkan bekerja melalui ekspresi, tatapan, ataupun keheningan tanpa harus selalu dijelaskan lewat percakapan panjang.

Bagi penulis, banyak sekali hal-hal yang seharusnya klise dan tidak make sense. Sejak awal, Ridho sebagai suami jelas bentuk nyata dari mokondo, tukang selingkuh. Tapi mengapa Ristiana selalu menerimanya? Dia melakukan itu semua demi siapa? Acap kali Ridho berbuat kesalahan, hilang gak jelas, lalu pulang ke rumah, tapi apa reaksi Ristiana? Ya, menerimanya. Sungguh itu sangat diluar nalar kemampuan berpikir saya sebagai penulis. Rasanya sangat mustahil, tidak ada pemicu yang jelas mengapa sang Ibu melakukan hal itu semua. Bahkan, boleh dibilang ini hanyalah kebodohan yang diulang untuk sekadar meraup air mata penonton, layaknya sinetron.

Penulis disini hanya akan membaca film ini semata, tanpa membandingkan interpretasi dari novel aslinya. Judul Jangan Buang Ibu pun menurut penulis rasanya janggal. Ini mau dibaca dari sudut pandang Ibu sendiri? Atau sudut pandang dari Tama, Dewi, atau Tria? Rasanya semua ingin kebagian porsi. Oke contohnya saat pernikahan Dewi yang ingin ayahnya hadir karena dialah wali yang berhak. Sang Ibu ditekan untuk mencari keberadaannya? Lalu apa? zonk. Kemudian di pernikahan Tria, sang Ibu harus membongkar tabungannya karena tuntutan sang mantu yang ingin berpesta dan meriah, lalu laki-laki macam apa Tria ini? Menikah tapi gak modal. Apa karena dia anak yang tidak mendapatkan kasih sayang Ayahnya sejak bayi?

Dan paling gongnya, saat menjelang pernikahan Tria, Ridho pulang ke rumah dengan kondisi tak berdaya. Dan ya, lagi-lagi Ristiana menunjukkan karakternya. Apasih sejujurnya yang dipikirkan Ibu ini? Dan bahkan rela jual rumahnya hanya untuk membayar hutang dari orang yang sudah menghilang dan sering menyakiti mereka? Endingnya? Zonk juga. Nah, sepanjang film, sudut pandang selalu berganti, tapi kita tidak tahu sudut pandang dari Ridho itu sendiri. Dan dimana letak membuang Ibunya? Dia sendiri yang menjual rumahnya, menginap di tetangga sementara waktu, hingga berharap tinggal bersama salah satu anaknya? Tapi berakhir di Panti Jompo? Lho?

Entah bagaimana saya harus melogikakan semua ini. Rasanya hanya memotret sudut pandang Ibu yang tertindas semata. Contohnya juga, kalau mereka tak mau berkumpul untuk membesuk dengan alasan sibuk, bukankah petugas panti jompo membantah argumennya? Ada pernyataan bahwa “hanya orang-orang luar Jakarta yang menitipkan orang tuanya disana“. Lalu ada momen Tama meluangkan waktu untuk datang, melihat sekilas sosok Ibu yang sedang olahraga, dapat pemberitahuan untuk kerja, dan menghilang lagi. Ini sebenarnya skala prioritas keluarga macam apa? Justru penulis emosi dengan logika ceritanya, bukan dari karakter para tokohnya. Dan masih banyak lagi hal semacam ini, maaf tidak bisa menuliskan semuanya. Silakan nilai sesuai kepercayaan masing-masing.

Dari sisi sinematografi, Fahmy J. Saad cukup berhasil membangun suasana melalui komposisi gambar yang memperlihatkan keterbatasan ruang gerak para karakter. Penggunaan pencahayaan low-key lighting dan palet warna lembut turut memberikan kesan intim sekaligus memperkuat suasana kesepian, khususnya ketika cerita mulai memperlihatkan kehidupan Ristiana di panti jompo. 

Editing yang dikerjakan Wawan I. Wibowo juga cukup mampu menjaga ritme penceritaan, terutama pada dua pertiga awal film. Perpindahan antara masa lalu dan masa sekarang tidak terasa terlalu mengganggu sehingga penonton masih dapat mengikuti perjalanan emosional keluarga tersebut. Bagi penonton awam, tanpa melihat rentang waktu, rasanya akan kelelahan mengikuti alurnya. Bagi penulis sendiri, visual baru benar-benar masuk ke judul di 20-30 menit akhir. Bahkan 1,5 jam di awal filmnya lebih sibuk memperlihatkan penderitaan para karakter yang porsinya tidak seimbang.

Sayangnya, departemen tata musik justru menjadi salah satu persoalan yang sedikit mengganggu. Aransemen musik garapan Andi Rianto terasa terlalu agresif dalam mengiringi hampir setiap adegan emosional. Ketika karakter mulai menangis, musik seolah tidak memberikan kesempatan bagi penonton untuk merasakan kesedihan itu sendiri. Padahal, ekspresi Nirina Zubir sebenarnya sudah cukup kuat untuk menyampaikan perasaan Ristiana tanpa harus terus-menerus dibantu oleh musik orkestra. Kebiasaan drama kita yang seolah takut penontonnya tidak menangis apabila tidak diberikan musik sedih ini kembali muncul. 

Hal yang paling mengganjal lainnya terletak pada persoalan tata rias prostetik, khususnya ketika karakter Ristiana diperlihatkan dalam versi usia senja. Hasil riasannya terasa kurang meyakinkan apabila dibandingkan dengan penampilan karakter Yanti yang terlihat jauh lebih natural. Kerutan buatan pada bagian dahi Ristiana justru tampak terlalu kentara, sementara bagian leher, pipi, hingga kakinya masih terlihat cukup kencang. Ada ketimpangan yang membuat penampilan karakter tersebut terasa seperti seseorang yang hanya diberikan tambahan kerutan untuk mengejar kesan usia 60 hingga 70 tahun. 

Kejanggalan serupa juga terlihat pada karakter Ridho versi tua. Wajah sudah dibuat sangat pucat dan renta, tetapi rambutnya justru masih terlihat begitu subur dan tebal badai. Agak sulit rasanya mengabaikan detail semacam ini ketika film berusaha meyakinkan penonton melalui perjalanan waktu dan perubahan usia para karakternya.

Berbicara mengenai akting, Nirina Zubir menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat film ini tetap menarik untuk diikuti. Ia mampu memperlihatkan kelelahan, keteguhan hati, sekaligus kerentanan seorang ibu yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membesarkan anak-anak. Penampilannya terasa cukup meyakinkan, terutama ketika Ristiana harus menghadapi kenyataan bahwa anak-anak yang dahulu selalu berada di dekatnya kini mulai menjauh. 

Kehadiran Basmalah Gralind sebagai Marsha/Caca, cucu yang masih memberikan perhatian kepada Ristiana di tengah kesibukan orang tuanya, justru memberikan sentuhan emosional tersendiri. Refal Hady dan Amanda Manopo juga memberikan penampilan yang cukup solid dalam membawakan karakter anak-anak yang memiliki persoalan masing-masing. Sisanya, silakan tonton film dan nilai sendiri.

Jangan Buang Ibu (2026) sebenarnya mengangkat persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari. Film ini memperlihatkan bagaimana hubungan anak dan orang tua dapat berubah ketika masing-masing mulai disibukkan oleh kehidupan dan tanggung jawab sendiri. Sayangnya, naskah dan logika ceritanya belum digarap lebih mendalam, terutama dalam menggambarkan perjuangan Ristiana sebagai seorang single mom. Film justru lebih memilih jalur melodrama yang relatif aman untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menyayangi dan menghargai orang tua. Hasilnya, film ini memang mampu mengundang kesedihan, tetapi belum cukup percaya diri untuk membiarkan penonton menemukan sendiri makna di balik setiap peristiwa yang disajikan.

Platform Tayang: Netflix

Judul: Jangan Buang Ibu | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 01 Jam 59 Menit | Sutradara: Hadrah Daeng Ratu | Penulis: Widya Arifianti | Produser: Agung Saputra | Rumah Produksi: Leo Pictures, Legacy Pictures, Narasi Semesta, Tix ID, dan Role Entertainment (II) | Negara: Indonesia | Pemeran: Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Dwi Sasono, Fadly Faisal, Erika Carlina, Saskia Chadwick, Farrell Rafisqy, Nunung, Ingrid Widjanarko, Mpok Atiek, Dewi Pakis, Diaz Ardiawan, Mira Desiana, Jared Ali, Humaira Jahra, Hasan Kumayl, Diana M. Putri, Chema Mahrey, Evelyn Hutani, Andri Aan, Joshua Boy, Bian Lahat, Daffa Saputra, Santi Schubert, Danty Istikha, Aura Prameswari, Aishwa Ayu, dan Cirilla Mecca S.

The post Jangan Buang Ibu | REVIEW appeared first on montasefilm.

​“Tapi waktu dulu Ayah kecil, Eyang kerja sambil ngurus tiga anak. Kenapa tiga anak engga bisa ngurus satu Ibu?” -Marsha (Jangan Buang Ibu, 2026)- Fenomena alih wahana atau adaptasi karya literatur ke format sinema di industri film domestik kian hari semakin menunjukkan tren yang masif. Praktik mengubah materi buku, novel populer, biografi tokoh, hingga sekadar
The post Jangan Buang Ibu | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link