Godzilla Minus Zero adalah sekuel dari film fenomenal Godzilla Minus One (2023), yang meraih kesuksesan luar biasa, baik secara kritis maupun komersial, di tingkat global. Minus Zero masih digarap oleh Takashi Yamazaki dan dibintangi sejumlah pemain dari film sebelumnya, yakni Ryunosuke Kamiki, Minami Hamabe, Hidetaka Yoshioka, Yuki Yamada, dan Kuranosuke Sasaki. Mereka kini didampingi sejumlah nama baru, seperti Min Tanaka, Masami Nagasawa, serta Jun Kunimura. Dengan durasi 135 menit, apakah sekuelnya ini masih memiliki kekuatan yang sama dengan film pertamanya yang dinilai begitu istimewa?
Dua tahun setelah peristiwa dalam film pertama, ketika Godzilla berhasil dibinasakan, Jepang kembali menikmati situasi yang aman dan damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Monster raksasa berwujud naga bernama Ghidorah muncul dan memorak-porandakan Kota Matsumoto. Biro Bencana Luar Biasa yang dipimpin Kenji Noda (Yoshioka), dibantu ahli biologi Kanji Murakami (Tanaka) dan ahli meteorologi Makoto Aoyama (Nagasawa), kemudian meminta bantuan Koichi (Kamiki), sang pilot pahlawan yang berhasil menaklukkan Godzilla.
Mereka akhirnya menyusun rencana untuk membunuh sang monster. Namun, upaya tersebut justru membuat kekuatannya meningkat berkali-kali lipat hingga ia berevolusi menjadi King Ghidorah. Pada saat bersamaan, kemunculan King Ghidorah rupanya membangunkan Godzilla dari tidur panjangnya. Menghadapi kenyataan bahwa satu monster saja sudah mustahil mereka binasakan, muncul gagasan untuk mempertemukan keduanya agar saling bertarung. Namun, rencana ini menyimpan satu persoalan baru yang berkaitan dengan sosok Noriko (Hamabe), istri Koichi, yang terpapar radiasi sel Godzilla dua tahun sebelumnya.
Berbeda dengan film sebelumnya yang menyajikan plot “Man vs. Kaiju”, kali ini ceritanya kembali pada formula khas serinya, yakni “Kaiju vs. Kaiju”. Meski manusia masih menjadi perspektif utama, sajian utamanya tetaplah pertarungan klimaks antara Godzilla dan King Ghidorah. Para penggemar berat serinya tentu sudah tidak asing dengan pertarungan dahsyat antara dua monster raksasa ini, terutama Godzilla melawan berbagai lawannya, baik dalam produksi Studio Toho (Jepang) maupun Warner Bros. Berbeda dengan versi Baratnya, dalam versi asli Jepang, Godzilla biasanya diposisikan sebagai ancaman bagi umat manusia. Meski demikian, dalam beberapa kisah, termasuk kali ini, aksinya justru tampak membantu manusia, meskipun ia tetap berada dalam posisi antihero.
Efek visual dengan pendekatan praktis masih menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Pendekatan tersebut sebelumnya sukses mengantarkan film pertamanya meraih penghargaan Efek Visual Terbaik di Academy Awards, meski hanya bermodal anggaran sekitar USD 10 juta. Hasilnya sungguh luar biasa, begitu pula dalam Minus Zero. Segmen pertarungan udara antara Ghidorah dan pesawat-pesawat tempur Jepang disajikan dengan sangat mengesankan dan meyakinkan. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah transformasi Ghidorah, yang awalnya berupa naga berkepala satu, menjadi King Ghidorah dengan tiga kepala. Proses transformasi ini ditampilkan begitu memukau dan terasa natural. Tentu saja, pertarungan klimaks menjadi momen aksi yang paling dinanti. Rasanya, ini merupakan salah satu pertarungan terbaik yang pernah saya tonton dalam serinya.
Seperti Minus One, sisi manusiawi dalam Minus Zero masih terasa, meski tidak sekuat film sebelumnya. Chemistry antara Koichi dan Noriko tentu mengalami perubahan karena kini mereka telah berstatus suami istri dan memiliki seorang putri kecil yang cukup mencuri perhatian. Noriko juga mendapatkan pengembangan karakter yang menarik karena kondisi fisiknya kini telah berubah, sekaligus menjadi pemicu kelokan utama cerita. Trauma perang kali ini justru dihadirkan melalui karakter baru, Prof. Murakami, yang tidak mampu melupakan tragedi bom atom Hiroshima yang merenggut nyawa istri dan putrinya. Sayangnya, persoalan traumanya terasa hanya menjadi selipan cerita yang kurang tergarap dan sedikit kabur menjelang akhir film.
Salah satu imajinasi paling menarik dalam film ini adalah ketika Godzilla menghancurkan Kota New York. Momen tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar sepanjang cerita. Apakah ini merupakan perwujudan keinginan untuk membalas dendam kepada Amerika Serikat? Film ini belum memberikan jawaban yang jelas. Intrik kecil di antara para tokohnya menjelang akhir cerita juga terasa sedikit membingungkan. Namun, jika memang ceritanya kelak diarahkan ke sana, hal ini menjanjikan sebuah sekuel dengan nuansa yang jauh lebih gelap.
Sebagai sekuel yang tampil lebih megah dengan plot khas Kaiju vs. Kaiju, Godzilla Minus Zero hanya kehilangan satu kekuatan penting dari film pertamanya, yakni trauma kolektif akibat perang. Strategi menghadapi para kaiju kini lebih dominan dibandingkan eksplorasi sisi humanis yang sebelumnya terasa begitu kental. Setidaknya, berbeda dengan versi Baratnya, Godzilla masih ditempatkan dalam wilayah abu-abu dan bukan semata-mata sebagai penyelamat manusia. Bagi para penggemar, sajian aksinya dijamin tidak akan mengecewakan. Sementara itu, potensi sekuel berikutnya yang mungkin mengangkat persoalan politik antara Amerika Serikat dan Jepang, lengkap dengan segala latar historis hubungan kedua negara, justru terasa bakal jauh lebih menjanjikan dibandingkan film ini.
The post Godzilla Minus Zero | REVIEW appeared first on montasefilm.
Sebagai sekuel yang tampil lebih megah dengan plot khas Kaiju vs. Kaiju, Godzilla Minus Zero hanya kehilangan satu kekuatan penting dari film sebelumnya, yakni trauma kolektif akibat perang.
The post Godzilla Minus Zero | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm





