Boneka dari Indiana | FILM JADUL

Boneka dari Indiana (1990) adalah film komedi arahan dan tulisan sutradara spesialis komedi Nya’ Abbas Akup. Sang sineas telah dikenal sebagai sineas kawakan dan film ini tercatat sebagai karya terakhirnya. Film ini dibintangi beberapa bintang besar kala itu, Didi Petet, Lydia Kandou, Meriam Bellina, serta Ami Prijono. Dalam ajang Festival Film Indonesia 1991, film ini meraih penghargaan Aktris Terbaik (Lydia Kandou), Film Komedi Terbaik (Penghargaan Khusus), Sutradara (Penghargaan Khusus), serta nominasi untuk Cerita Asli dan Aktor Terbaik.

Egy (Petet) adalah seorang pimpinan perusahaan sekaligus suami yang patuh kepada istrinya, Cece (Kandou), yang begitu dominan dalam keseharian. Cece mencampuri segala urusan kehidupan suaminya, mulai dari uang, makanan, kantor, hingga masalah perempuan. Ayah Cece (Prijono), Yudho, adalah seorang pengusaha kaya raya sekaligus pemilik perusahaan yang dipimpin menantunya sehingga tak heran Egy hanyalah boneka pajangan yang tak punya daya sama sekali. Masalah muncul ketika Cece menginginkan rumah mewah di sebelah rumah mereka dan mengutus suaminya untuk melakukan penawaran. Rupanya, ia kalah bersaing dengan pembeli lain, Catleya alias Eya (Meriam Bellina), seorang perempuan muda cantik yang membuat Cece cemburu kalap. Belakangan diketahui bahwa perempuan tersebut adalah simpanan seorang miliuner ternama (Bob Sadino), sehingga Yudho pun menyuruh Egy mendekati Eya untuk mendapatkan proyek bernilai US$7 juta.

Mirip dengan Cintaku di Rumah Susun, kisahnya memiliki banyak subplot walau konflik utama hanya terfokus pada masalah Egy dan Cece. Bedanya, Cintaku di Rumah Susun memiliki ragam plot yang porsinya seimbang dan tidak memiliki konflik utama seperti Boneka dari Indiana. Alhasil, konflik lainnya menjadi selipan kecil yang sama sekali tidak memengaruhi plot utama, sebut saja polah centil sang asisten rumah tangga, urusan rumah tangga rekan kantor Egy, hingga dua rekan Cece yang menjual perhiasan. Semuanya memang menyinggung kritik sosial yang menjadi stempel sang sineas, namun tidak terasa ada gigitan yang membekas, layaknya Cintaku di Rumah Susun yang klimaksnya menggambarkan kekacauan hebat.

Sang sineas masih mengangkat topik yang menjadi ciri khas film-filmnya, yakni isu sosial, sembari sedikit menyentil masalah lingkungan. Selain relasi Egy dan Cece, kisahnya, walau selintas, menyinggung beragam masalah sosial, seperti kesetaraan gender, dana sumbangan sosial, loyalitas rumah tangga, tetangga usil, penadah dan jual beli barang curian, jalan pintas untuk mendapatkan proyek, hingga isu pencemaran. Sosok Egy menjadi kompas moral utama di tengah lingkungan sosial yang absurd, walau Egy sendiri bukan sosok yang terhitung alim dan suci. Di bawah tekanan sang istri, ia masih bisa mencari celah untuk memenuhi kesenangannya sendiri dengan berbohong kepada istrinya tentang Eya.

Dibandingkan dengan Cintaku di Rumah Susun yang memiliki ragam estetika visual unik, seperti set bertingkat yang beragam, sinematografi (long take dan crane shot), hingga motif editing, Boneka dari Indiana nyaris tidak memiliki apa pun yang serupa. Satu-satunya pencapaian unik hanyalah penggunaan teknik nondiegetic insert dalam pengadeganan dialog ketika isu lingkungan disentil, yakni dengan menghadirkan beberapa shot, seperti seorang ibu dan bayinya yang menggunakan masker serta situasi kelas yang memperlihatkan guru dan murid menggunakan masker oksigen. Ini pun masih tidak jelas konteksnya. Proyek apa yang sesungguhnya dibangun hingga limbahnya bisa mengancam manusia tidak pernah dijelaskan secara gamblang.

Sisi komedi, khususnya dialog yang menjadi andalan sang sineas, kini juga tidak memiliki spontanitas seperti dalam Cintaku di Rumah Susun. Dalam karyanya terdahulu, status sosial tokoh-tokohnya lebih heterogen dan cenderung berasal dari kalangan menengah ke bawah sehingga ceplosan-ceplosan konyol dan kasar terasa natural. Sementara dalam film ini didominasi kalangan atas sehingga bahasa terasa lebih formal dan intelek, membuat dialog pun mudah diantisipasi. Namun terdapat satu dialog menarik dalam sebuah momen kecil ketika ban mobil Eya kempis. Perbincangan mengenai pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender muncul akibat situasi tersebut. Dialog spontan dan berkelas macam ini nyaris tidak pernah hadir lagi setelahnya.

Menyoal akting para pemain, rasanya tidak ada yang dominan dan mencuri perhatian. Didi Petet, yang saat itu lebih dikenal dalam peran melambai sebagai Emon dalam Catatan si Boy, kini tampil sama sekali berbeda sebagai seorang suami yang takut istri. Lydia Kandou pun dalam seluruh pengadeganannya tidak terlihat memiliki peran sulit yang menguras energi akting besar. Jika dibandingkan dengan peran Eva Arnaz dalam Cintaku di Rumah Susun, jelas Arnaz jauh lebih mencuri perhatian. Meriam Bellina saat itu popularitasnya tengah mencuat setelah membintangi seri Catatan Si Boy (empat film) dan bahkan meraih Piala Citra melalui Taksi. Walau di sini tak banyak menguras kemampuan akting, chemistry-nya dengan Egy dalam beberapa momen terasa lebih kuat ketimbang dengan Cece. Bisa jadi kolaborasi mereka dalam seri Catatan Si Boy turut membantu penampilan keduanya.

Boneka dari Indiana adalah salah satu karya sang sineas yang terhitung tanggung jika dibandingkan dengan Inem Pelayan Seksi ataupun Cintaku di Rumah Susun. Walau ciri khasnya masih terlihat, sang sineas tidak mampu membuat satu benang merah yang lugas dari kritik sosial yang diusungnya. Sebagai komedi satir, film ini terasa kurang absurd dan chaos, sementara sebagai kritik sosial pun terasa kurang tajam dan menggigit. Porsi isu kedekatan relasi untuk mendapatkan proyek jelas menjadi kritik terhadap rezim kala itu, tetapi dalam kisahnya sang miliuner justru pro lingkungan. Ada tiga warna yang dominan dalam busana para tokoh perempuan sepanjang filmnya, yakni kuning, hijau, dan merah. Bagi generasi yang hidup dan mengenal masa Orba, ketiga warna ini tentu tidak sulit ditafsirkan. Hanya saja, hubungan ketiga warna tersebut dengan narasi dan pesannya tidak menunjukkan pola dan relasi yang jelas. Bisa jadi ada sesuatu yang terlewat, atau memang ketiga warna ini hanya kebetulan belaka.

The post Boneka dari Indiana | FILM JADUL appeared first on montasefilm.

​Boneka dari Indiana adalah salah satu karya sang sineas yang terhitung tanggung jika dibandingkan dengan Inem Pelayan Seksi ataupun Cintaku di Rumah Susun. Walau ciri khasnya masih terlihat, sang sineas tidak mampu membuat satu benang merah yang lugas dari kritik sosial yang diusungnya.
The post Boneka dari Indiana | FILM JADUL appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link