GJLS Berapi-api

Setelah sukses dengan film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu, Amadeus Sinemagna bersama dengan GJLS Entertainment dan beberapa rumah poduksi lainnya, kembali memproduksi film yang dibintangi trio GJLS. Monty Tiwa kembali sebagai penulis naskah skenario dan sutradara. Apakah GJLS: Berapi-api ini akan mampu melampaui kesuksesan film pendahulunya?

Sebelum mengulas filmnya, penulis penasaran dengan makna GJLS dalam judul. GJLS dalam bahasa gaul merupakan singkatan dari gak jelas. Ini merujuk pada gaya komedi trio Rigen (Rigen Rakelna), Hifdzi (Hifdzi Khoir), dan Rispo (Ananta Rispo) yang absurd dan acak. Namun, GJLS juga merupakan nama kelompok komedi tersebut yang merupakan plesetan dari huruf pada nama mereka, Ri(g)en, Hi(j)dzi, Rispo(l) dan Se(s)uatu/Kita (s)emua.

Dikisahkan Rigenx Hifdzi, dan Rispo ingin menjadi petugas Damkar. Mereka pun mengikuti ujian tulis dan lulus. Sayangnya selama pelatihan, mereka gagal dalam beberapa tes, seperti tes fisik, bela diri, menyelamatkan satwa, dan formasi beregu. Bondan (Carissa Perusset), komandan regu Damkar yang menjadi pelatih pun berniat tidak meluluskan mereka.

Seperti judulnya, humor dalam film ini cenderung tidak jelas dan tidak lucu. Ada beberapa materi humor yang meleset, timing-nya tidak pas, dan punchline-nya tanggung sehingga leluconnya tidak berhasil mengguncang tawa penonton. Alih-alih menyusun premis, set-up, dan punchline yang cerdas, materi lelucon di film ini malah terkesan malas. Beberapa adegan malah dipenuhi dengan dialog saling meledek, marah-marah, atau teriak-teriak yang membosankan.

Lelucon yang sama juga beberapa kali diulang, padahal lelucon tersebut tidak lucu dan cenderung brutal. Adegan jamet terjepit pagar, misalnya. Bukannya lucu, adegan ini malah mengerikan. Apalagi ketika diulang-ulang. Tugas yang diemban Trip GJLS terutama di bagian akhir juga terasa berlebihan. Kesan heroik dan dramatisnya jadi berkurang karena ceritanya terkesan dibuat-buat.

Sisi positif dari film ini adalah isu filmnya yang relevan dan momennya pas dengan kondisi saat ini. Film ini ibarat apresiasi buat para anggota Damkar yang selama ini sudah banyak berkontribusi bagi negeri ini. Performa Carissa Perusset juga cukup menonjol di film ini. Aktingnya semakin terasah.

Lantas apalah film sekuel GJLS ini bakal melampaui kesuksesan film pertamanya? Oleh karena baru tayang empat hari maka pertanyaan ini sulit dijawab. Namun, apabila melihat perolehan angka penonton sebesar 79.143 hingga 7/11 yang dirilis oleh Cinepoint, maka agak sulit menyamai atau melampaui jumlah penonton film sebelumnya. Minggu depan sudah ada beberapa film seperti “Pasukan 1000 Janda”, “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”, dan “Ramayana” yang siap menghadang.

GJLS: Berapi-api memiliki isu yang potensial tentang Damkar. Sayangnya materi humornya banyak yang meleset dan berlebihan sehingga kurang berhasil mengguncang tawa. Narasinya juga terasa dibuat-buat sehingga efek dramatisnya kurang.

The post GJLS Berapi-api appeared first on montasefilm.

​GJLS: Berapi-api memiliki isu yang potensial tentang Damkar. Sayangnya materi humornya banyak yang meleset dan berlebihan sehingga kurang berhasil mengguncang tawa.
The post GJLS Berapi-api appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *