Sirāt | REVIEW

Contain Spoiler: Disarankan untuk menonton filmnya terlebih dulu.

Sirāt adalah film drama produksi Spanyol yang digarap oleh Óliver Laxe. Sebelum rilis resminya, film ini telah sukses di beberapa ajang festival film, di antaranya meraih Jury Prize dalam Cannes Film Festival tahun ini. Film ini dibintangi oleh Sergi López, Bruno Núñez Arjona, Richard Bellamy, Stefania Gadda, Joshua Liam Henderson, Tonin Janvier, serta Jade Oukid. Sirāt juga menjadi film perwakilan Spanyol dalam ajang Academy Awards besok dalam kategori Best International Feature. Lantas seberapa istimewakah pencapaian film ini?

Luiz (López) dan putranya, Esteban (Arjona), pergi jauh dari negara asalnya, ke sebuah pesta musik di gurun terpencil di selatan Maroko, untuk mencari Marina, putrinya yang hilang. Setelah pesta bubar, Luiz mengikuti satu kelompok yang berniat pergi ke satu pesta lainnya, jauh di wilayah selatan dengan harapan bisa menemukan putrinya. Padang gurun bukanlah medan yang ringan, khususnya untuk kendaraan milik Luiz, tetapi ia mendapat dukungan dari rekan perjalanannya. Luiz dan Esteban pun lambat laun menjadi lebih akrab dengan mereka, hingga satu tragedi mengubah segalanya.

Kisah yang sederhana untuk diikuti karena plotnya hanya berisi perjalanan iring-iringan mobil di padang gurun. Tak banyak konflik berarti sebelum separuh durasi, di mana satu insiden terjadi. Setelah cerita berbalik pun, tak banyak pengembangan plot terjadi. Rasanya terlalu datar bagi penonton awam yang mengharap intensitas aksi dan sisi dramatik yang lebih. Penutup kisahnya pun diakhiri dengan resolusi mengambang. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif berbeda (subteks), kisahnya memiliki kedalaman yang tak ternilai. Sebuah perjalanan spiritual bagi para tokohnya.

Melalui opening teks di pembuka film, dipaparkan kalimat yang mengarah pada titelnya, “Sirāt”. Istilah berbahasa Arab dalam konsep Islam yang merujuk pada jembatan yang menghubungkan antara surga dan neraka, yang konon lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Dari kisahnya yang didukung set lokasi otentik menawan, memperlihatkan satu perjalanan darat yang ekstrem dan berbahaya, di tengah konflik perang, jalanan sempit di ketinggian dengan jurang yang mengancam, hingga padang gurun yang penuh ranjau.

Sementara dari sisi yang berbeda, plotnya diartikan sebagai perjalanan pendewasaan spiritual bagi tokoh-tokohnya yang dikemas secara brilian menggunakan konsep Islam. Tidak hingga akhir, konsep kisah ini dipaparkan secara tegas. Sosok sang ayah, Luiz menjadi sentral dalam konsep penceritaannya. Tujuan Luiz sederhana, ia hanya ingin menemukan buah hatinya. Dalam perjalanan yang demikian berat, ia justru harus kehilangan putranya secara tragis. Bisa dibayangkan, putrinya hilang dan putra kesayangannya kini tiada. Satu penderitaan lahir dan batin yang tiada tara. Bahkan kematian, bukan satu hal yang ia takuti, divisualisasikan secara brilian dengan Luiz yang berjalan melawan badai gurun.

Dalam kehampaan batin, Luiz dihadapkan realitas baru, bahwa mereka terjebak pada situasi tak terduga, terperangkap di area ranjau darat. Dua orang dari rekannya tewas secara tragis dan satu lagi menyusul. Dengan ketenangan batinnya (“lepas dari ikatan dunia”), Luiz mampu menyeberangi area ranjau darat dengan selamat. Begitu pun dua orang rekan perjalanannya. Dalam satu ending yang menggugah memperlihatkan mereka bertiga dalam satu perjalanan kereta api yang berisikan para pengungsi perang yang kurang lebih bernasib sama dengan mereka.

Sirāt adalah satu pencapaian drama langka yang menggunakan konsep religius dengan kedalaman, dipadu dengan penceritaan brilian serta sinematografi dan production value yang istimewa. Para kastingnya, khususnya Sergi López bermain memikat untuk peran yang tidak mudah dilakukan sepanjang kisahnya. Aspek sinematografi juga menjadi satu faktor pendukung penting melalui komposisi yang didominasi shot-shot jauh yang terukur, serta tentu, musik “elektro” yang menjadi “jiwa” kisahnya.

Di atas segalanya, kekuatan terbesar adalah konsep kisahnya yang merefleksikan situasi global terkini sekaligus menggambarkan betapa rapuhnya jiwa manusia dihadapkan dengan tekanan demikian hebat. Sirāt menawarkan resolusi untuk mencapai kedamaian batin melalui pesannya yang dikemas dalam estetika visual berkelas. Film ini adalah salah satu karya terbaik tahun ini dan salah satu film terbaik dengan tawaran konsep subteks religius yang terhitung langka dalam medium ini. Sayangnya, hanya segilintir bioskop di sini yang menayangkannya.

The post Sirāt | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Sirāt adalah satu pencapaian drama langka yang menggunakan konsep religius dengan kedalaman, dipadu dengan penceritaan brilian serta sinematografi dan production value yang istimewa.
The post Sirāt | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link