Motor City | REVIEW

Motor City adalah film aksi crime thriller yang digarap oleh Potsy Ponciroli. Film ini dibintangi beberapa nama tenar, sebut saja Alan Ritchson, Ben Foster, Pablo Schreiber, Lionel Boyce, serta Shailene Woodley. Uniknya, film ini melakukan debutnya di Venice International Film Festival pertengahan tahun lalu, satu hal yang tak biasa untuk genre ini. Lantas, apa keistimewaan film berdurasi 103 menit ini dibandingkan film-film tipikal genrenya?

Kisahnya berlatar di kota Detroit pada 1977, ketika gangster menjadi penguasa kota dengan dukungan polisi korup. John Miller (Ritchson) adalah seorang pekerja pabrik yang tengah menjalani masa percobaan setelah beberapa lama mendekam di penjara. Ia kemudian bertemu seorang gadis muda, Sophia (Woodley), dan jatuh hati padanya. Suatu malam, ketika tengah berduaan, mereka diganggu oleh seorang pria bernama Reynolds (Foster) yang rupanya pernah dekat dengan Sophia. John pun terlibat konflik fisik dan melukai pria tersebut.

Rupanya, Reynolds adalah seorang gangster berpengaruh di Kota Detroit. Dengan bantuan polisi, ia menjebak John atas tuduhan kepemilikan heroin hingga akhirnya dijatuhi hukuman puluhan tahun penjara. Waktu berlalu. Reynolds yang terus mendekati Sophia akhirnya membuat sang gadis bersimpati dan tinggal bersamanya. Suatu hari, Sophia mendapatkan informasi tentang bagaimana John dijebak oleh Reynolds dan antek-antek polisi. Murka mendengar hal tersebut, Sophia kemudian diredam Reynolds menggunakan heroin untuk menenangkannya. Sementara John yang sudah habis kesabaran akhirnya memutuskan untuk membalas dendam, dan upaya pertamanya adalah melarikan diri dari penjara.

Jika kamu penikmat film crime-gangster, apa keistimewaan kisah di atas? Tak ada yang benar-benar baru. Inti kisahnya adalah aksi balas dendam dengan balutan plot gangster dan set tahun 1970-an. Sudah menjadi kelaziman film-film genre ini mengambil latar era silam, khususnya dekade 1920–1930-an ketika kejayaan gangster tengah berada di masa emasnya. Jika kamu mencari sesuatu yang baru dalam kisahnya, bersiaplah untuk kecewa. Namun, ada sesuatu yang membuat film ini memiliki keunikan tersendiri yang nyaris tidak pernah ada dalam film populer beberapa dekade silam, yakni ketidakhadiran dialog.

Seingat saya, sejak rutin menonton bioskop pada era 1990-an, hampir tidak pernah ada film populer (mainstream) yang nyaris sama sekali tidak menggunakan dialog. Cast Away bisa jadi film populer yang mendekati ini karena separuh filmnya hanyalah monolog. The Artist tentu berbeda konteksnya karena konsep film ini memang mengacu pada film bisu (silent era). WALL-E dan Flow tidak memiliki dialog karena protagonisnya nonmanusia. A Quiet Place menggunakan ketiadaan dialog sebagai bagian dari motif naratifnya untuk mengurangi risiko terdeteksi oleh monster yang sensitif terhadap suara. Sementara itu, pada Motor City, peniadaan dialog merupakan pilihan estetik yang disengaja.

Dialog sering kali ditenggelamkan oleh volume lagu atau musik yang lebih tinggi, shot dari jarak jauh, karakter yang membelakangi kamera, atau percakapan yang terdengar dari luar ruangan. Film ini memang tidak sepenuhnya meniadakan dialog. Beberapa kali dialog tetap dihadirkan, seperti satu kalimat pendek pada shot penutup, umpatan dan makian, serta beberapa frase pendek, yang semuanya tidak terhitung sebagai dialog utuh. Dalam beberapa momen, karena kita tidak terbiasa dengan pengadeganan semacam ini, pendekatan tersebut memang terasa sedikit melelahkan. Seluruh film terasa seperti satu rangkaian montage panjang yang tak berkesudahan.

Motor City adalah film crime-revenge biasa yang dikemas dengan gaya estetik tidak biasa. Walau bukan sebuah pencapaian istimewa, setidaknya sang sineas memiliki keberanian untuk meniadakan dialog dalam genre yang dikenal penuh dengan dialog. Uniknya, untuk menjembatani minimnya dialog, film ini menggunakan lirik lagu dan musik yang mewakili esensi setiap adegan. Ini merupakan pendekatan estetik yang menarik dan belum banyak digunakan dalam film populer. Bahasa visual pada dasarnya adalah inti dari medium film, dan Motor City mencoba menantang kita untuk merasakan hal tersebut melalui sebuah pengalaman sinematik yang menggugah.

The post Motor City | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Motor City adalah sebuah aksi crime-revenge biasa yang dikemas dengan gaya estetik tidak biasa.
The post Motor City | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link