Para Perusak, Para Perasuk (2026), dan Lentera Imajinasi Kolektif

Purwoko AjieMontase Film Independen

“Sambetan itu kan bikin kita ngerasain apa yang kagak bisa kita rasain di dunia nyata. Bisa bikin orang yang sedih jadi baikan gitu.”

-Bayu (Para Perasuk, 2026)-

Sebenarnya ada banyak ragam sebuah komunitas/masyarakat kehilangan dunianya. Tidak semuanya dimulai dari tindakan kekerasan. Sebagian datang melalui pembangunan, sebagian dengan alibi kemajuan, sebagian lagi sebagai perubahan yang dianggap wajar. Namun sebelum tanah benar-benar lenyap, sebelum bangunan diluluhlantakkan, dan sebelum tradisi berhenti diwariskan, ada satu hal yang biasanya lebih dahulu hilang: kemampuan untuk membayangkan masa depan secara kolektif.

Dalam Para Perasuk (2026), kegelisahan itu yang terasa paling kuat. Di balik dunia sambetan yang serba ambigu, penuh roh kupu-kupu, kutu kasur, bulus, dan berbagai makhluk mitologis yang mengundang tawa, film besutan Wregas Bhanuteja ini sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang selalu dekat dengan realitas kehidupan masyarakat hari ini: bagaimana sebuah komunitas/masyarakat mempertahankan harapan ketika dunia yang mereka kenal perlahan berada di ambang kehancuran.

Sebagai seseorang yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan televisi & film pada generasi yang relatif sama dengan kemunculan karya-karya Wregas Bhanuteja, penulis selalu mengikuti perkembangan filmografi-nya dengan rasa antusias. Penulis langsung teringat pada Prenjak (2016), sebuah film yang menunjukkan keberanian Wregas dalam menghadirkan tema-tema “tabu” yang nyaris jarang disentuh sineas Indonesia arus utama.

Ketertarikan tersebut membuat penulis datang menonton Para Perasuk (2026) dengan ekspektasi yang tidak kecil. Namun, yang paling menarik dari film ini bukanlah semesta akan kerasukannya, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul setelah film berakhir: mengapa sebuah komunitas masih membutuhkan ruang untuk membayangkan dunia lain ketika dunia yang mereka miliki sedang terancam hilang?

Bisa jadi semua itu karena pengalaman kesurupan tidak hanya berkaitan dengan cerita, melainkan juga dengan tubuh, suara, ritme, dan imajinasi yang bergerak secara paralel. Apa yang sulit dijelaskan melalui rangkaian kata justru dapat dialami melalui gambar bergerak. Sinema bisa menjadikan pengalaman yang bersifat personal berubah menjadi pengalaman kolektif; sesuatu yang tidak sekadar dipahami, tetapi juga dirasakan bersama.

Dari sinilah Para Perasuk (2026) menjadi menarik untuk ditonton dan dibaca; bukan semata sebagai kisah tentang kerasukan, melainkan sebagai upaya sinema menghadirkan ruang diskursus antara realita, ingatan, dan imajinasi. Sebab ketika sebuah komunitas mulai kehilangan ruang hidupnya, yang sering kali dipertahankan terlebih dahulu bukanlah benda atau tempat, melainkan kemampuan untuk terus mengimajinasikan dunia yang masih layak dihuni bersama.

Next: Para Perusak dan Dunia yang Nyaris Hilang

The post Para Perusak, Para Perasuk (2026), dan Lentera Imajinasi Kolektif appeared first on montasefilm.

​Para Perasuk (2026) bukanlah karya terbaik dari seorang Wregas Bhanuteja, tapi keberanian eksplorasi cerita dan visual yang absurd serta nyeleneh bisa jadi pembeda. Dan, boleh saya prediksi, film ini bisa jadi masuk dalam jajaran shortlist film panjang di FFI tahun 2026 ini.
The post Para Perusak, Para Perasuk (2026), dan Lentera Imajinasi Kolektif appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link