“Aku kayak gini gara-gara siapa? Sok gara-gara siapa? Ayah nggak tau, atau Ayah gak mau jawab?”
-Jati (Aku Sebelum Aku, 2026)-
Akhirnya, setelah lama tidak menonton film baru nan fresh yang rilis di Netflix, hari ini kembali membuka platform OTT dengan sumringah. Walau kondisi ekonomi makin sulit, ditambah perpolitikan dunia yang semakin ke sini semakin ke sana, rasanya menonton film kini menjadi sebuah kemewahan. Maaf curhat sedikit ya, karena nyaris dua bulan setelah resign dari pekerjaan, rasanya pusing tujuh semesta memikirkan banyak tagihan, wkwkwk. Imbasnya, belakangan ini penulis lebih banyak menulis untuk ajang Kritik Film daripada sekadar membuat review.
Oke, rilis pada 16 Juli 2026 di Netflix, film karya Gina S. Noer berdurasi 127 menit ini kembali mengguncang belantara sinema Tanah Air lewat karya teranyarnya berjudul Aku Sebelum Aku (2026). Nah, agar lebih mudah menulisnya, nanti penulis sebut saja ASA (2026), ya. Film ini bisa jadi merupakan “keresahan” sekaligus “uneg-uneg” sang sineas. Hal itu dapat dilihat dari premisnya yang secara gamblang mengajak penonton menelusuri masa lalu, masa kini, dan masa depan sepanjang film berlangsung. Lalu, seberapa tangguh film ini merefleksikan kisahnya? Mari, kita ulas!
Jati (Bima Sena) adalah seorang siswa berprestasi yang hampir selalu berhasil membawa pulang kemenangan dari berbagai kompetisi sains. Namun, di balik sederet pencapaiannya, ia memikul beban yang tidak ringan. Orang tuanya, terutama sang ayah, Pak Jaya (Ringgo Agus Rahman), menaruh harapan begitu besar hingga kasih sayang yang mereka berikan sering kali terasa lebih seperti tuntutan daripada dukungan. Tekanan yang terus menumpuk membuat Jati mulai mengalami serangan panik dan kesulitan menghadapi rutinitasnya: baik di rumah maupun di sekolah.
Keadaan berubah ketika Jati mendapat tugas sekolah untuk menyusun silsilah keluarganya. Tugas yang awalnya tampak sederhana itu justru membawanya menyusuri masa lalu keluarganya sendiri. Dari sana, Jati mulai memahami bahwa hubungan yang renggang dengan sang ayah bukan sekadar persoalan masa kini, melainkan berakar pada luka-luka lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perjalanan tersebut perlahan mengubah cara Jati memandang keluarganya, sekaligus dirinya sendiri.
Menonton ASA (2026) rasanya seperti tamparan keras bagi keluarga masa kini dalam mendidik buah hati mereka. Utamanya bagi kalian yang sudah punya anak, generasi Z, atau bahkan generasi setelahnya. Bagi penulis, film ini memiliki sentimental value yang sangat kuat. Bukan hanya karena narasi kisahnya yang jujur, tetapi juga sangat rapi, terukur, dan nyaris tak memiliki cela. Kepiawaian sang sineas dalam menulis naskah sekaligus menyutradarai film kali ini patut diacungi jempol. Cerita tentang kehidupan Jati yang selalu dirundung oleh teman sekolah lamanya dan sang ayah, Pak Jaya, yang perfeksionis serta straight to the point: rasanya mengingatkan penulis pada almarhum ayah di masa lalu. Bedanya, ayah saya tak sekejam itu, apalagi sampai menuntut prestasi. Lha wong dirinya saja bukan tipikal anak cerdas di masanya, wkwkwk.
Ya, secara narasi, hukum kausalitas yang dibangun dalam cerita ASA (2026) selalu menemukan resolusi dan konklusi yang jelas. Konflik yang dialami Jati dengan ayahnya; konflik di sekolah antara Asa (Widuri Puteri), Jati, dan teman-teman barunya; konflik Asa dengan keluarga besar ayah dan ibunya; hingga yang paling “gong” adalah permasalahan antara Pak Jaya dan Uwa Geni (Ronal Surapradja). Dengan menggunakan aksen bahasa Sunda, semuanya diramu dengan sangat menjanjikan. Bahkan perpindahan dari satu kisah ke kisah lainnya selalu memiliki benang merah yang menjembatani. Jadi, bagi penonton awam sekalipun, akan mudah mencerna poin penting dari film ini.
Tugas utama Jati adalah menelusuri satu per satu kepingan masa lalu ayahnya, masa kini yang sedang ia jalani, hingga bayangan masa depan yang menghantui dirinya. Film ini juga memuat pesan moral, satir, dan nilai-nilai agama, tetapi tidak sekadar berhenti pada ceramah. Semua diimplementasikan langsung melalui tindakan para karakternya. Lihat saja adegan permintaan maaf Jati kepada Asa, juga campur tangan Jati dalam mempertemukan kembali Pak Jaya dan Uwa Geni.
Jujur, penulis tidak menemukan cacat berarti dalam penulisan naskahnya. Walau, jika masih boleh mengkritik, anak kelas 9 SMP (sekitar usia 14-15 tahun) diberikan dialog-dialog yang rasanya tidak setara dengan usianya. Apa mungkin penalarannya bisa serapi itu? Meski demikian, hal tersebut bukan ganjalan besar bagi penulis. Pun kita tidak banyak disuguhkan latar belakang keluarga dari Ambu Asih (Prastiwi Dwiarti). Cerita justru memberi porsi lebih besar kepada subplot-subplot lainnya. Film ini bahkan lebih jauh menyinggung satir mengenai peristiwa 1998, tragedi 1965-1966, hingga sosok aktivis Munir. Why? Jika dicermati, sekitar setengah durasi film membahas ketegangan antara Jati dan ayahnya. Sementara setengah babak terakhir mulai membagi fokus ke berbagai kisah lainnya.
Urusan sinematik, visual sederhana tentang kehidupan keluarga, lengkap dengan suka dukanya keluarga Jati, dapat kita saksikan dengan jelas. Begitu pula gambaran Asa sebagai anak angkat yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas pula akar persoalan yang ia hadapi. Boleh dikatakan, desain produksi dari Ahmad Zulkarnaen terbangun dengan sangat baik. Pun tangan dingin sang Sinematografer, Deska Binarso, ada kalanya adegan Jati di masa kini menggunakan rasio anamorfik, lalu ketika membahas masa lalu Pak Jaya dan Uwa Geni berpindah ke rasio 16:9 atau 4:3 yang menghadirkan nuansa nostalgia. Apalagi di awal film kita sudah diperkenalkan dengan handycam yang digunakan Asa untuk merekam aktivitas sekaligus tugas kelompoknya.
Visual zaman pendudukan Jepang di dalam set goa ada yang terasa begitu autentik, lengkap dengan refleksi ayah dan buyut Pak Jaya. Walau harus diakui, tampilannya terasa terlalu bersih untuk ukuran kilas balik masa lalu. Ada pula refleksi goa buatan dalam proyek Asa dan Jati yang mencerminkan konsep Askala, berisikan rangkuman footage yang sudah di rekam, di kompilasi, dan diputar di scene klimaks. Long take 360 derajat juga dimanfaatkan untuk menjelaskan mengapa Pak Jaya dan Uwa Geni berseteru selama ini. Bisa jadi, seluruh bangunan cerita dan visual yang dihadirkan film ini akan masuk nominasi Festival Film Indonesia 2026. Menurut keyakinan penulis, lho ya.
Jujur, adegan favorit penulis adalah pantulan wajah Jati pada kaca refleksi berwarna-warni saat room tour di sekolah barunya, SMP Tunas Merdeka. Rasanya, satu adegan itu sudah mencerminkan keseluruhan kisah yang dibangun film ini. Bagi penulis, visual tersebut mengingatkan pada adegan di film Everything Everywhere All at Once (2022) yang begitu ikonik. Bahkan kalau kalian penggemar MCU, pasti paham apa yang penulis maksud mengenai dunia masa lalu, kemungkinan hidup lain, atau kisah yang seolah hadir di dimensi berbeda. Multitafsir, bukan?
Urusan tata suara, penulis menyukai beragam OST yang disajikan dalam film ini. Sangat indie, pas, mengena, dan terasa lahir dari relung hati yang paling dalam. Bahkan menjelang akhir film, sebelum adegan Pak Jaya dan Uwa Geni berdamai, sound design-nya terasa sangat mumpuni. Beberapa momen juga membuat penulis menangis, haru, dan begitu berkesan: terutama ketika film membahas bagaimana masa lalu selalu menghantui seseorang.
Urusan akting, Ringgo Agus Rahman sebagai Pak Jaya tampil sangat ciamik dan menghidupkan cerita. Ya, semenjak menjadi Duta FFI 2025, entah sudah berapa banyak film yang ia bintangi. Jangan berharap menemukan sosok ayah yang hangat dan mengayomi seperti dalam Keluarga Cemara (2018) atau Panggil Aku Ayah (2025). Di sini, ia hadir sebagai sosok yang perfeksionis, keras, dan kejam. Pun demikian dengan Bima Sena sebagai Jati. Dialah yang juga andil dalam menghidupkan keseluruhan kisah ini lewat penampilannya. Tanpa banyak gestur berlebihan, gejolak emosional yang ia bangun terasa rapi dan didukung oleh teman-teman sekolahnya yang saling menguatkan.
Hadirnya para alumni Extravaganza seperti Aming Sugandhi sebagai saudara kembar antara Pak Juned & Pak Zai, Ronal Surapradja yang kalem sebagai Uwa Geni, hingga vokalis Serious, Candil, sebagai Uwa Yayan: semakin melengkapi bumbu dramatik yang dibawa film ini. Bahkan Verdi Solaeman pun tak kalah mencuri perhatian sebagai ayah Asa. Penulis jadi merasa semakin sering melihat dirinya muncul di berbagai film akhir-akhir ini, ya, wkwkwk.
Aku Sebelum Aku (2026) bisa dikatakan sebagai salah satu karya Gina S. Noer yang paling berkesan bagi penulis sejauh ini. Dengan premis yang sederhana, kita diajak merefleksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui cara yang paling sederhana: berdamai dengan masa lalu. Tujuannya? Jelas bukan untuk mewariskan trauma yang pernah dialami orang tua, atau bahkan yang sedang kita alami hari ini, kepada generasi berikutnya. Dan sekarang, pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu?
Platform Tayang: Netflix
Judul: Aku Sebelum Aku | Tahun Produksi: 2025 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 2 Jam 07 Menit | Sutradara: Gina S. Noer | Penulis: Gina S. Noer | Produser: Anna Melani dan Sigit Pratama | Rumah Produksi: Wahana Kreator | Negara: Indonesia | Pemeran: Ringgo Agus Rahman, Bima Sena, Widuri Puteri, Prastiwi Dwiarti, Verdi Solaiman, Poppy Sovia, Aming Sugandhi, Ronal Surapradja, Nagief Alaydrus, Daan Aria, Awan, Drs. Budiman, Candil, Iis Carina, Aswin Dwiprakasa, Darin Fauzi, Muhammad Fikri, Ashila Husnia Fitriani, Keinaya Messi Gusti, Muhammad Ilham Hakim, Teddy Hidayat, Hide, Angelique Kirana, Delon Mercy, Firda Mutiara Mulyani, Yusuf Ozkan, Almeera Quinn, Farrell Rafisqy, Andri Rahmat, Siti Rahmawati, Juna Aditiya Ramli, Ankatama Ruyatna, Egi Sadewa, Madkhal Sadewa, Guzman Sige, Hisar Sitompul, Ira Maya Sopha, Atri Sulastri, Abdul Syawal, Shinichi Taniguchi, Saiful Hidayat Tulloh, Rachel Vennya, Ayu Wahyuni, Agus Wibowo.
The post Aku Sebelum Aku | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Aku kayak gini gara-gara siapa? Sok gara-gara siapa? Ayah nggak tau, atau Ayah gak mau jawab?” -Jati (Aku Sebelum Aku, 2026)- Akhirnya, setelah lama tidak menonton film baru nan fresh yang rilis di Netflix, hari ini kembali membuka platform OTT dengan sumringah. Walau kondisi ekonomi makin sulit, ditambah perpolitikan dunia yang semakin ke sini semakin
The post Aku Sebelum Aku | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




