Insidious: Out of the Further | REVIEW

Tak heran jika seri Insidious masih diminati produser karena seri terakhirnya, Insidious: The Red Door (2023), sukses luar biasa dengan bujet hanya USD 16 juta. Kombinasi produser top spesialis film horor berkumpul di sini, yakni James Wan, Oren Peli, Leigh Whannell, dan Jason Blum. Film ini kini digarap oleh Jacob Chase yang kita kenal melalui film horor Come Play (2020). Film ini dibintangi oleh Amelia Eve, Brandon Perea, Maisie Richardson-Sellers, serta bintang reguler serinya, Lin Shaye. Akankah seri ini masih mampu mencapai kesuksesan komersial seperti seri-seri sebelumnya?

Gemma (Eve) dan putrinya, Maya, masih tinggal di rumah warisan keluarga, meski masa lalunya meninggalkan trauma mendalam baginya. Suatu hari, Gemma mengalami sesuatu yang pernah dialaminya saat masih kecil, yakni kemampuan untuk berpindah ke dunia arwah (The Further). Sebuah entitas gaib rupanya mengincar Gemma karena ia memiliki kemampuan unik untuk memindahkan materi dari dunia arwah ke dunia nyata. Dalam situasi genting, Gemma diselamatkan oleh arwah Elise (Shaye). Dengan dibantu Elise, Gemma mencoba mencegah sang entitas yang berniat membawa semua roh jahat ke dunia nyata.

Dimensi roh The Further adalah sesuatu yang membedakan seri ini dari film-film horor lainnya. Di alam tersebut, semua roh dan iblis jahat berkumpul dan meneror manusia, sembari mencari celah untuk bisa hadir di dunia manusia. Selama ini, formula serinya selalu berfokus pada protagonis yang masuk ke sana untuk mengambil roh manusia yang tertawan. Premis tersebut kini dibalik. Sang entitas justru mencoba memanfaatkan seseorang yang mampu membawa mereka ke dunia manusia. Pertanyaan besarnya, mengapa mereka tidak melakukan ini sejak dulu atau baru sekarang? Meski agak dipaksakan, premisnya lumayan intens untuk menghasilkan ketegangan.

Satu hal yang menarik adalah sentuhan estetik sang sineas dalam memainkan premis ini. Perpindahan antara alam spiritual dan dunia manusia memberikan eksekusi visual yang menarik, dengan batas antara keduanya terasa tipis dalam beberapa momen. Satu segmen aksi horor di lorong-lorong sempit memperlihatkan talenta sang sineas yang brilian dalam memainkan adrenalin penonton melalui pergerakan dan posisi kamera serta editing. Segmen klimaks justru terasa lebih brutal dengan mengombinasikan banyak cross-cutting antara aksi di dunia nyata dan dunia arwah. Hasilnya jauh dari mengecewakan.

Insidious: Out of the Further adalah eksplorasi absurd sekaligus menarik terhadap konsep “dunia arwah” yang menjadi stempel serinya, plus sentuhan artistik sang sineas yang bertalenta. Secara cerita, bisa jadi premisnya sudah tidak banyak lagi yang bisa diolah setelah perjalanan panjang seri ini. Out of the Further lebih terasa sebagai ranah “superhero” akibat kemampuan supernatural yang bagi saya kelewat absurd. Sosok protagonisnya kelak bakal diincar seluruh iblis dan roh jahat dari seantero dunia. Namun, semua itu terangkat oleh talenta sang sineas yang sabar dan terampil dalam mengolah segmen-segmen horornya. Bagi penggemar horor yang ingin menonton film dengan banyak sosok seram, termasuk seluruh roh jahat dari film-film Insidious sebelumnya, film ini tidak bisa dilewatkan.

The post Insidious: Out of the Further | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Insidious: Out of the Further adalah eksplorasi absurd sekaligus menarik dari konsep “dunia arwah” yang menjadi stempel serinya, plus sentuhan artistik sang sineas yang bertalenta.
The post Insidious: Out of the Further | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link