Mutiny | REVIEW

Jason Statham seperti tak pernah kehilangan pamor untuk beraksi dalam genre aksi, terlepas dari kualitas filmnya. Kini ia beraksi dalam ruang yang serba terbatas melalui Mutiny, yang digarap oleh sineas asal Prancis Jean-François Richet. Selain sang bintang, film ini juga dibintangi Anabelle Wallis, Jason Wong, dan Adrian Lester. Dengan bujet cukup besar, USD 40 juta, akankah film ini bisa menebus kegagalan film sang bintang sebelumnya?

Cole Reed (Statham) adalah mantan polisi yang kini bekerja sebagai bodyguard seorang taipan peti kemas di Bangkok yang memperlakukannya seperti saudara. Sang bos tengah berada di ambang menjual perusahaannya, tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Ia tewas dalam sebuah penyergapan brutal di jalanan Kota Bangkok. Reed mencoba mencari dalang di balik pembunuhan tersebut dengan menyusup sebagai kru kapal peti kemas yang berangkat malam itu juga. Di luar dugaan, dalam penyelidikannya ia menemukan puluhan korban perdagangan manusia. Seorang rekrutan kru, Angie Ellis (Wallis), terjebak dalam situasi yang kurang menguntungkan dan kemudian menjadi satu-satunya sekutu Reed di kapal raksasa tersebut.

Kisahnya memang begitu bergegas sejak protagonis naik ke dalam kepal dan sedikit membingungkan karena tidak dijelaskan relasi antara kejadian di Bangkok, terkait penjualan perusahaan, dengan apa yang terjadi di kapal peti kemas. Tak banyak membuang waktu, plotnya tancap gas dengan situasi ala Die Hard, ketika Reed dan Angie dipaksa berhadapan dengan belasan awak kapal bersenjata lengkap yang memburu mereka. Aksi kucing-kucingan pun terjadi, diselingi aksi-aksi gelut khas Statham. Walau tak banyak yang membekas, setidaknya kisahnya mengembalikan memori Die Hard dengan bermodal setting “labirin” kapal peti kemas serta aksi-aksinya yang intens.

Gelagat tribute terhadap Die Hard (1989) sudah terlihat melalui salah satu varian poster Mutiny (imdb.com) yang desainnya mirip dengan poster Die Hard. Alih-alih menampilkan gambar bangunan bertingkat, posternya menggantinya dengan kapal peti kemas dari sudut overhead shot serta separuh wajah sang jagoan. Plot senada, tetapi dengan latar kapal perang, juga terlihat dalam Under Siege (1992) yang dibintangi Steven Seagal. Dalam narasinya, protagonis juga harus melawan puluhan teroris dalam setting yang terbatas. Mutiny bahkan memperlihatkan adegan ala Die Hard ketika protagonis berada di dalam ventilasi udara dan diberondong peluru oleh para teroris. Mutiny jelas inferior dibandingkan Die Hard, tetapi cukup untuk mengobati kerinduan para penggemarnya.

Premisnya menarik dan Statham beraksi dalam formula Die Hard untuk pertama kalinya, tetapi sayangnya Mutiny tidak banyak menawarkan aksi yang benar-benar menggigit selain untuk para penggemar loyalnya. Harus diakui, Jason Statham sudah tidak lagi muda dan enerjik untuk peran aksi tipikalnya. Walau hasilnya jauh lebih baik daripada Shelter, tetap saja aksi-aksinya tidak mampu mengangkat kisah yang sudah terasa lemah sejak awal. Walau masih di bawah Wrath of Man dan The Beekeeper, Mutiny setidaknya masih menyisakan karisma sang bintang dengan peran heroik tipikalnya.

The post Mutiny | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Premisnya menarik dan Statham beraksi dalam formula Die Hard untuk pertama kalinya, namun sayangnya Mutiny tidak banyak menawarkan aksi yang benar-benar menggigit selain untuk para penggemar loyalnya.
The post Mutiny | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link