Minions & Monsters | REVIEW

Minions & Monsters adalah film ketiga dari seri Minions yang juga merupakan prekuel dari seri Despicable Me. Film ini masih digarap oleh Pierre Coffin serta diproduseri Chris Meledandri. Film ini diisi suara oleh beberapa bintang kenamaan, antara lain Trey Parker, Allison Janney, Christoph Waltz, Jesse Eisenberg, Jeff Bridges, Zoey Deutch, serta tentu saja sang sineas sendiri yang secara reguler menjadi pengisi suara para Minions. Setelah sukses komersial fenomenal dua seri Minions sebelumnya, tak heran seri ketiganya diproduksi. Lantas petualangan, aksi konyol, dan polah apa lagi yang kini dilakukan para Minions?

Kisahnya kali ini tidak berkaitan langsung dengan dua seri sebelumnya dan bahkan karakternya bukan karakter Minions reguler Stuart, Kevin, dan Bob, tetapi Henry dan James. Dikisahkan para Minions masih terus mencari bos besar jahat di berbagai penjuru bumi, tetapi selalu gagal. Akhirnya, mereka terdampar di Hollywood yang kala itu tengah berada dalam era keemasannya. Dua produser besar melihat potensi para Minions sehingga mereka meminta sang sutradara, Max, untuk melakukan casting terhadap mereka. Hasilnya, para Minions pun menjadi superstar Hollywood, hingga akhirnya datang era film bersuara. Para Minions yang tak bisa berkomunikasi normal pun terdepak dari industri, walau James masih berambisi membuat film monster yang ingin mendatangkan monster sungguhan.

Kisahnya diawali dengan premis yang senada dengan sebelumnya, tetapi kini yang menjadi pembeda adalah latar waktu dan lokasinya, era sinema Hollywood klasik pada masa emasnya. Kisahnya 100% merupakan tribute terhadap sinema era 1890-an hingga 1950-an dengan menghadirkan puluhan karakter ikonik serta film-film klasik besar yang menjadi penanda tiap eranya. Entah bagaimana respons penonton awam (terasa senyap di bangku sekitar), tetapi bagi saya yang memahami betul sejarah sinema dari A hingga Z, ini adalah sebuah pengalaman menonton yang sangat bergairah dan menyenangkan.

Saya sudah menahan gelak tawa begitu hebat sejak para Minions hadir dalam film-film pendek legendaris karya Lumière Brothers, dari shot para buruh keluar pabrik hingga shot kedatangan kereta di stasiun. Dalam banyak momen, mereka hadir dalam beberapa pengadeganan ikonik para legenda komedian klasik, seperti Buster Keaton, Harold Lloyd, hingga Charlie Chaplin. Bahkan film-film bersejarah macam Casablanca, The Maltese Falcon, hingga Citizen Kane pun tak luput dari sentilan mereka. Saking banyaknya, tak bisa kita hitung lagi berapa banyak karakter, pembuat film, dan film yang menjadi target polah para Minions. Tentu yang paling dominan adalah robot Dort yang terinspirasi dari sosok Gort dalam The Day the Earth Stood Still. Para cinephile yang mengetahui persis semua referensi ini bakal menikmatinya.

Di luar tribute-nya yang begitu masif, plotnya sendiri berjalan ringan mengikuti sosok James dan Henry. Sosok sang monster cilik Goomi juga cukup mencuri perhatian dengan polahnya yang memanipulasi para Minions. Aksi-aksi dan polah para Minions masih sama: konyol, brutal, dan edan, senada dengan dua seri sebelumnya. Satu-satunya kelemahan terbesar adalah seberapa kuat daya tahan kita untuk melihat tontonan humor nonstop yang sedemikian intens di layar. Butuh energi prima. Saya sendiri, jujur, sudah terlalu lelah setelah satu jam berjalan karena tidak ada hentinya tertawa sepanjang durasi film. Film ini tidak memiliki muatan moral apa pun selain murni hiburan dan aksi konyol para Minions.

Konyol dan brutal seperti tradisi seri ini sebelumnya, Minions & Monsters adalah humor meta brilian yang memiliki tribute kuat terhadap sinema klasik Hollywood. Satu poin tegas dari pembuat film tersirat melalui sebuah dialognya, yang kurang lebih berbicara, “tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang pembuat film selain melihat penonton yang terisi penuh dan antusias dengan filmnya.” Pernyataan ini seolah mengajak kembali penonton modern untuk kembali ke bioskop di tengah persaingan hebat dengan tayangan digital dari berbagai platform yang kini semakin marak. Dari masa ke masa, medium film telah mengalami pasang surutnya, dan selalu mampu mencari jalan keluar dari situasi sulit. Kita lihat, apakah para Minions mampu mengembalikan kejayaan sinema di era klasik?

The post Minions & Monsters | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Konyol dan brutal seperti tradisi seri ini sebelumnya, Minions & Monsters adalah humor meta brilian yang memiliki tribute kuat terhadap sinema klasik Hollywood.
The post Minions & Monsters | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link