“Faktanya, cuma lagu ‘Just Like a Star’ yang nggak pernah dibawa main di atas panggung.”
-Shaka (Shaka Oh Shaka, 2026)-
Apakah kamu bagian dari Generasi Milenial yang tumbuh bersama rilisan fisik band-band indie lokal? Atau kamu yang menganggap mendengarkan musik hits era 2000-an akhir melalui kabel earphone yang kusut adalah sebuah ritual kemewahan? Nyatanya, pada masa itu, memiliki sebuah Apple iPod adalah penanda kasta sosial dan dianggap orang have bagi remaja kota. Memori kolektif dan artefak kultural inilah yang coba dirangkum oleh Jocelyn Suherman dalam novel populernya, Shaka Oh Shaka. Alih wahana dari halaman teks sebuah novel menuju layar lebar yang diproduksi oleh Starvision Plus ini diniatkan sebagai mesin waktu. Namun, membawa pesan nostalgia era “jamet” dan absurditas kultural masa lalu ke hadapan audiens modern selalu menyisakan ruang risiko: apakah ini akan menjadi memorabilia yang manis? Atau sekadar eksploitasi visual yang usang?
Film Shaka Oh Shaka (2026) yang disutradarai oleh Dinna Jasanti resmi dirilis di bioskop pada 7 Mei 2026. Penayangannya di layar lebar sempat berbagi jatah dengan The Bell: Panggilan untuk Mati (2026), Ain (2026), dan Crocodile Tears (2026). Hal ini membuat penulis melewatkan masa tayang teatrikalnya karena ingin fokus mengulas film kompetitornya, Crocodile Tears (2026). Namun, kehadirannya di platform Netflix sejak 7 September 2026 memberikan kesempatan kedua penulis untuk membedah sejauh mana romansa alih wahana ini mampu berbicara secara visual dan naratif dari kacamata kritik film.
Naskah yang digarap secara kolektif oleh Rino Sarjono dan Alim Sudio ini berkisah tentang Oxtella Ardialova alias Ocel (Arla Ailani), seorang mahasiswi biasa yang secara tak sengaja menjalin hubungan asmara dengan idola musiknya yang sedang naik daun, Shaka Antares (Kiesha Alvaro). Pertemuan tak sengaja di depan toilet festival musik mengubah relasi mereka dari sekadar idola-penggemar menjadi sepasang kekasih. Hubungan romansa ini nyatanya tidak berjalan mulus; selama rentang waktu 15 tahun, mereka harus bertumbuh di tengah benturan realitas industri hiburan, kehadiran orang ketiga, serta batas kabur antara rasa cinta dan kekaguman semata.
Secara naratif cerita, naskah film ini sebenarnya mencoba menawarkan kedalaman cerita yang berlapis. Durasi total sepanjang 123 menit menjadi bukti ambisi sang sineas untuk merangkum rentang waktu kisah dalam novelnya yang membentang lintas dekade. Struktur plotnya bergerak linier mengikuti dinamika naik-turun karier Shaka serta pergolakan batin Ocel yang terjebak di antara rasa kagum dan cinta. Dinna Jasanti tampak berusaha menjaga kerenyahan formula romantic-comedy (rom-com) standar ala Indonesia, di mana konflik cinta dua sejoli yang bertumbuh bersama selalu memiliki konsekuensi dramatis yang mudah diikuti. Sayangnya, elemen dramatiknya tetap bermain aman di lingkar konvensi tanpa adanya kejutan (plot twist) radikal yang mampu mengubah semesta film secara substansial.
Contohnya adalah konflik antar mantan kekasih baik Ocel dan Shaka. Mereka hanya di plot sebagai figur yang kurang mendukung kisah utamanya. Bahkan, perseteruan dan konflik keluarga yang terjadi di sisi Ocel, hanya sebatas konflik kerikil yang mudah diantisipasi. Lalu permasalahan sudut pandang pacar settingan yang digagahi Mama Shaka; tidak membawa konsekuensi cerita yang menantang. Justru kita sebagai penonton pasti akan menebak ending hubungan diantara mereka.
Kekuatan utama Shaka Oh Shaka justru berada pada departemen sinematiknya. Sinematografer film ini, Amalia T. S., secara sadar memilih palet warna soft yang penuh warna (vibrant) untuk mendominasi seluruh area ruang frame di sepanjang film. Desain pencahayaan dan komposisi gambar ini berhasil memberikan ruang detail yang manis, sekaligus mempertegas atmosfer romansa yang intim. Namun, keindahan visual ini tidak didukung oleh presisi detail pada mise-en-scene. Sebagai film yang bergerak di wilayah linimasa modern, keotentikan properti adalah kunci pembangun ruang realisme yang autentik.
Penulis menemukan banyak detail kecil yang meleset (miss). Penggunaan ponsel Nokia 3315 untuk latar tahun 2010 memang akurat secara periodisasi, namun visualisasi teks pesan di layar tampak terlalu rapi. Sang sineas sedikit abai terhadap realitas budaya ketik generasi kala itu yang gemar menggunakan singkatan ekstrem dan kombinasi angka demi menghemat batasan karakter SMS. Ketidaktelitian ini diperparah oleh aspek kontinuitas properti eksterior, seperti keberadaan mobil VW Beetle (mobil kodok) yang terparkir di depan studio tempat Shaka memulai karier awal. Mobil tersebut tetap berada di posisi yang sama, tak bergeser satu sentimeter pun, hingga cerita melompat 10-15 tahun kemudian dengan kondisi fisik, yang anehnya tetap kokoh tanpa memudar oleh waktu.
Anakronisme visual cukup mengganggu berikutnya beralih ke departemen tata rias (makeup). Mengikuti perjalanan hidup Shaka dan Ocel dari tahun 2010 hingga 15 tahun setelahnya, penonton disajikan visual wajah kedua aktor utama yang sama sekali tidak menua. Proteksi makeup yang terlalu aman membuat wajah mereka tampak awet muda secara tidak masuk akal, tanpa ada guratan kedewasaan fisik atau manipulasi kosmetik yang menandakan perubahan usia biologis mereka. Kompleksi wajah mereka terlalu “sempurna” untuk ukuran dua manusia yang dikisahkan babak belur dihantam realitas kehidupan karier dan pernikahan.
Hal ini sedikit mengurangi aspek akting dan pengembangan karakter. Meski Kiesha Alvaro dan Arla Ailani memiliki chemistry yang cukup manis, kelakuan serta gestur mereka tidak beresonansi dengan pertambahan umur di dalam naskah. Kedewasaan psikologis yang harusnya mengiringi fase transisi dari remaja menuju pernikahan gagal dieksekusi secara organik. Dinamika emosinya stagnan, membuat jatuh-bangun emosi mereka dari titik nol karier hingga fase berumah tangga terasa artifisial. Bagi pencinta genre rom-com yang menuntut kedalaman rasa, detail remeh yang absen ini jelas sangat mengganggu keterikatan emosional penonton.
Shaka Oh Shaka (2026) berakhir sebagai sebuah komoditas rom-com domestik yang renyah dan aman untuk dinikmati. Dinna Jasanti sukses menyajikan visualisasi memori era 2000-an sebagai pemuas dahaga nostalgia penonton. Namun, sebagai sebuah karya sinema, film ini sedikit miss dalam mengintegrasikan kematangan teknis, kejelian mise-en-scene, dan pertumbuhan karakter dengan derasnya arus waktu narasi. Ia menjadi monumen nostalgia yang cantik di permukaan, tetapi rapuh di dalam logika eksekusinya.
Platform Tayang: Netflix
Judul: Shaka Oh Shaka | Tahun Produksi: 2026 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 02 Jam 03 Menit | Sutradara: Dinna Jasanti | Penulis: Rino Sarjono dan Alim Sudio | Produser: Chand Parwez Servia, Mithu Nisar, dan Riza | Rumah Produksi: StarVision Plus | Negara: Indonesia | Pemeran: Kiesha Alvaro, Arla Ailani, Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adhiswara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amania, Altaaf Akavi, Sadana Agung Sulistya, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lamting, Ibrahim Khalil Alkatiri, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina Lukman, Alfian Phang, Farel Alvarez, Desthalia Florenza, Ayudhita, Ditta Gerarda, dan Bayu Pradhana.
The post Shaka Oh Shaka | REVIEW appeared first on montasefilm.
“Faktanya, cuma lagu ‘Just Like a Star’ yang nggak pernah dibawa main di atas panggung.” -Shaka (Shaka Oh Shaka, 2026)- Apakah kamu bagian dari Generasi Milenial yang tumbuh bersama rilisan fisik band-band indie lokal? Atau kamu yang menganggap mendengarkan musik hits era 2000-an akhir melalui kabel earphone yang kusut adalah sebuah ritual kemewahan? Nyatanya, pada
The post Shaka Oh Shaka | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm



