Hope | REVIEW

Hope telah menjadi perbincangan sejak debutnya di Cannes Film Festival tahun ini dan masuk dalam seleksi Palme d’Or. Film aksi sci-fi produksi Korea Selatan ini digarap oleh sineas kawakan Na Hong-jin. Sang sineas dikenal melalui film-film thriller berkualitas tinggi, seperti The Chaser, The Yellow Sea, hingga The Wailing. Film ini dibintangi Hwang Jung-min, Zo In-sung, dan Jung Ho-yeon, serta menampilkan suara dua bintang besar Hollywood, Alicia Vikander dan Michael Fassbender. Bermodal nama besar sang sineas dan para pemainnya, apa sebenarnya yang menjadi keunggulan Hope?

Sebuah kejadian aneh menimpa Hope Harbor, kota kecil berzona bebas militer yang terletak di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Kepala polisi Ko Bom-seok (Hwang Jung-min) mendapat laporan dari warga sekaligus sepupunya, Ko Sung-ki (Zo In-sung), mengenai serangan hewan buas yang memangsa ternak di pinggiran kota. Sung-ki bersama beberapa rekannya kemudian melacak makhluk tersebut ke sebuah kawasan hutan, sementara Bom-seok kembali ke kota. Di sana, ia mendapati kota telah porak-poranda dan mayat-mayat warga bergelimpangan akibat serangan sesosok monster raksasa misterius. Aksi perburuan dan kejar-kejaran pun dimulai.

Untuk film berdurasi 156 menit yang nyaris seluruhnya berisi aksi nonstop dari awal hingga akhir, Hope terasa sangat tidak lazim. Kisahnya juga nyaris tidak memiliki eksposisi yang secara langsung menempatkan para tokohnya dalam situasi bertahan hidup, sementara motif di balik kejadian tersebut masih belum jelas. Bayangkan, sosok monster baru benar-benar terlihat secara utuh hampir setelah satu jam durasi. Dalam satu jam awal yang melelahkan, kita hanya mengikuti Bom-seok yang berusaha mencari sumber masalah di kotanya. Intensitas aksi yang terus meningkat dan rasa penasaran saling bertumpuk, bercampur dengan kelelahan akibat tensi adegan yang begitu tinggi. Rasanya, jarang ada film yang membangun plot dengan pola semacam ini, seolah-olah peralihan antarbabak atau titik balik cerita sengaja diabaikan.

Setelah 90 menit, kisah seolah mulai berangsur menemui titik terang. Motif sang monster yang mengamuk di kota mulai terungkap, meski hal tersebut tidak menjelaskan apa pun mengenai asal-usul mereka. Subplot Ko Sung-ki kemudian membuat sisi misteri semakin terbuka, sementara aksi bergeser ke kawasan hutan tempat mereka diburu oleh monster-monster lainnya. Rangkaian aksi ini berlangsung nonstop hingga sisa durasi dan, jujur saja, terasa sangat melelahkan. Sisi misterinya pun tidak pernah benar-benar terungkap, bahkan hingga adegan penghujung. Identitas dan asal-usul para monster masih menyisakan banyak pertanyaan, sementara sejumlah persoalan logika cerita sulit diabaikan begitu saja. Dua sosok pemimpin monster di hutan digambarkan begitu superior dibandingkan manusia. Lantas, apa sebenarnya motif mereka mengejar dan menghabisi manusia jika hal tersebut bukan menjadi prioritas mereka?

Dari sisi adegan aksi, Hope mungkin merupakan salah satu film dengan rangkaian aksi terpanjang yang pernah ada, dengan durasi lebih dari 2,5 jam. Kamera nyaris tidak pernah berhenti bergerak dan begitu dinamis mengikuti pergerakan para tokohnya. Salah satu keunggulan film ini adalah penggunaan set kota sungguhan yang begitu meyakinkan dan detail, dengan hampir setiap sudutnya terlihat porak-poranda. Tidak mudah menciptakan kota dalam kondisi semacam ini dalam skala yang begitu luas.

Sayangnya, pencapaian tersebut justru kontras dengan efek visualnya yang cukup mengecewakan. Kualitas visual monster dalam banyak adegan terlihat kasar dan kurang meyakinkan. Agak mengherankan hal semacam ini bisa terjadi pada produksi dengan skala sebesar ini. Hal lain yang cukup mengganjal adalah kecepatan lari sang monster yang terlihat sangat cepat, tetapi anehnya tidak mampu mengejar manusia atau kuda yang jelas-jelas bergerak jauh lebih lambat. Untuk satu atau dua momen, hal tersebut mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, cukup mengherankan bahwa persoalan serupa muncul hampir di sepanjang adegan aksinya.

Dalam hal pengadeganan aksi, Hope membuktikan bahwa sinema Korea Selatan telah menjadi salah satu yang terdepan. Namun, keunggulan tersebut tidak diimbangi dengan motif maupun absurditas naskahnya. Kisahnya tidak banyak memberikan penjelasan yang jelas mengenai identitas dan motif para monster. Bahkan hingga akhir, semuanya terasa menggantung dan seolah memberi indikasi bahwa kisah ini masih akan berlanjut.

Dari perspektif lain, tampak jelas bahwa sosok monster atau alien dalam film ini merupakan representasi dari ancaman sekaligus ketegangan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Latar kota Hope Harbor dan berbagai tulisan pada poster menegaskan pembacaan tersebut, termasuk kemunculan “bom atom” pada segmen penutup. Pengetahuan saya yang terbatas mengenai konflik antara kedua negara tersebut bisa jadi membuat saya melewatkan sejumlah petunjuk dan detail kecil yang mungkin penting. Namun, satu hal yang cukup jelas, dari perspektif penyutradaraan dan pencapaian keseluruhan, Hope masih berada di bawah kualitas The Chaser dan The Wailing, dua karya terbaik Na Hong-jin.

The post Hope | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Dalam hal pengadeganan aksi, Hope membuktikan bahwa sinema Korea Selatan telah menjadi salah satu yang terdepan. Namun, keunggulan tersebut tidak diimbangi dengan motif maupun absurditas naskahnya.
The post Hope | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link