
Ketika menyaksikan trailer film Foufo, penulis mengira film ini akan menjadi salah satu film science fiction, genre yang jarang ditemui di khazanah film dalam negeri. Namun, sayangnya sosok alien ini tak banyak mendapat sorotan lampu panggung, hanya seperti gimmick. Meski demikian film ini memiliki berbagai lapisan yang menarik diselami, mulai dari ujian naik haji, pentingnya menunaikan amanah, hingga pandangan Islam terhadap makhluk luar angkasa.
Film Foufo yang naskahnya ditulis oleh Achmad Faishol dan disutradarai oleh Bayu Skak (Yowis Ben, Sekawan Limo) ini berlatar di perkampungan Madura di Surabaya. Banyak dari warga di perkampungan tersebut yang berprofesi sebagai pencari atau pengepul rongsokan sehingga disebut kampung rongsok atau rombeng. Salah satu warganya yang juga berprofesi sebagai pengepul rongsokan adalah Muslim (Tretan Muslim).
Selama 15 tahun, Muslim berupaya keras menaikhajikan ibunya. Namun, tabungannya tak kunjung cukup untuk melunasi biaya naik haji. Kuatir kesempatan naik haji untuk ibunya tak datang lagi, ia pun nekat mengajukan pinjaman. Namun sayangnya pengajuan pinjamannya ditolak.
Saat putus asa, Muslim diajak tetangganya bekerja. Rupanya pekerjaan yang dimaksud adalah mencuri besi rel. Saat hatinya resah antara menerima atau menolak, sebuah benda dari angkasa jatuh dan meledak. Rupanya benda itu adalah pesawat alien alias UFO (Unidentified Flying Object). Takut aksi pencuriannya ketahuan, mereka pun membawa pulang UFO beserta alien di dalamnya.
Sepertinya alien ini tidak datang secara kebetulan. Ia kemudian menjadi salah satu ujian bagi Muslim dan keluarganya.
Kental akan Nilai Kultural dan Representasi Suku Madura
Tidak banyak film tanah air yang kental akan nilai kultural Madura. Film bernapaskan Madura yang dikenal khalayak luas baru bisa dihitung dengan jari, di antaranya Basiyat: Bathe My Corpse With Wine tentang upacara pemakaman dan Marsiti dan Sapi-sapi tentang remaja perempuan yang ikut karapan sapi. Alhasil kehadiran Foufo dengan latar kampung rombeng ini sarat akan kultur Madura.
Sejak adegan pembuka, penonton diajak menyaksikan kemeriahan syukuran yang diadakan oleh warga Madura yang akan naik haji. Acara syukuran tidak hanya berupa pengajian dan makan bersama, melainkan juga disediakan doorprize dengan isian hadiah yang tak sembarangan dan juga tarian khas seperti tarian sufi dengan kopiah (peci) tinggi yang unik. Tarian bernama Tari Sholawat Badar menjadi identitas religiusitas dan kultur pesantren yang kuat di kalangan masyarakat Madura.
Penulis memiliki saudara ipar asli Madura yang keluarganya tinggal di Bangkalan. Ia bercerita bahwa haji adalah ibadah yang mulia dan prestis bagi orang Madura. Syukuran sebelum berangkat dan setelah pulang haji begitu meriah. Perayaan Idul Adha dan penyambutan warga yang pulang haji umumnya lebih meriah dibandingkan Idul Fitri, seperti pesta.
Selain syukuran akan naik haji yang meriah, kultur Madura juga bisa dilihat dari penggunaan bahasa Madura yang dominan di film ini dan keberadaan kampung rombeng. Rongsokan merupakan identitas kultural dan simbol perjuangan bertahan hidup orang Madura di perantauan.
Oleh karena pulau garam merupakan kawasan yang tandus, tak sedikit suku Madura yang merantau. Mereka melihat peluang bisnis barang bekas dan besi tua yang kerap dipandang sebelah mata. Usaha rongsokan ini memerlukan kerja keras dan ketelatenan yang mencerminkan karakter perantau Madura yang gigih. Pengelolaan bisnis rongsokan ini sering kali dijalankan melalui jejaring yang kuat antarperantau. Tak heran apabila ada banyak cerita mereka yang sukses bisa berangkat haji lewat usaha rongsokan.
Dari segi makanan, sate ayam dan olahan bebek juga sering dikaitkan dengan Madura. Bebek goreng yang awalnya hanya populer di komunitas Madura dan Surabaya, kemudian menyebar ke berbagai kota, hingga ke Jakarta. Usaha sate ayam dan bebek Madura ini juga menunjukkan etos kerja suku Madura di perantauan.
Kekhasan kultur Madura lainnya yang menjadi ikon film ini adalah kebiasaan orang Madura mengulang suku kata akhir menjadi suku kata depan. Tesate, tosoto, misalnya. Di film ini mereka menyebut UFO menjadi Foufo.
Pelekatan kebiasaan yang khas di kalangan warga Madura ini membuat film Foufo ini selaras dengan fungsi film yang tak hanya media hiburan, melainkan juga media untuk memotret, merekam, dan merefleksikan kehidupan manusia. Teori refleksi dalam film ini dipopulerkan oleh Siegfried Kracauer. Teori filmnya ini juga dikenal sebagai teori film realis.
Lewat bukunya From Caligari to Hitler (1947) dan Theory of Film: The Redemption of Physical Reality (1960), Kracaur beragumentasi bahwa film merupakan cermin dari masyarakat. Film dapat merefleksikan kondisi dan nilai-nilai sosial dan budaya pada sebuah tempat dan era. Fungsi utama sinema di sini adalah merekam dan mengungkap realitas fisik yang ada di sekeliling manusia, seperti menangkap momen-momen keseharian.
Film bagi Kracauer juga dapat merefleksikan kecenderungan psikologis kelompok masyarakat. Misalnya dalam film Foufo tampak dari pandangan warga kampung rombeng bahwa haji sebagai prestis sehingga mereka berusaha keras untuk segera mewujudkannya.
Film ini juga menyibak realita sosial di Surabaya yang dikenal sebagai kota multietnis. Di film tampak hubungan yang hangat dan harmonis antara komunitas Madura dengan keturunan Tionghoa yang diwakili oleh Mustofa (Rifqi Abdillah) dan Ika (Karina Afandi).
Tak luput dimasukkan kritik sosial dalam film ini, yaitu kritik gaji guru honorer yang minim dan beban sandwich generation yang dipikul anak laki-laki suku Madura. Karena gajinya minim sebagai guru honorer, Ipul (Fuad Sasmita) yang merupakan adik ipar Muslim, tak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Alhasil Muslim tak hanya tulang punggung yang menyokong kebutuhan hidup dirinya sendiri dan ibunya, melainkan juga keluarga kedua adik perempuannya, beserta kedua keponakannya.
Namun, film Foufo bukan hanya film drama kultural dan membahas psikologi orang Madura pada umumnya. Film ini juga kental akan nilai Islami, baik tentang ujian naik haji, pentingnya menjaga amanah, memuliakan ibu, menghargai setiap orang tanpa membedakan miskin kaya, tidak mengambil dan menggunakan milik orang lain tanpa ijin, dan pandangan Islam terhadap alien.
Mari kita bahas lebih mendalam di bab berikut.
Paralelisme Ketidakberdayaan Alien Sebagai Cerminan Tokoh Utama
Sosok alien dalam film Foufo ibarat sebuah gimmick visual apabila penonton memandangnya sebagai film fiksi ilmiah. Namun, sosok alien yang seperti badut pengamen di jalan dan tanpa teknologi mutakhir ini akan memiliki makna yang berbeda apabila penonton memandangnya sebagai simbol dalam film yang menunjukkan paralelisme ketidakberdayaan antara si alien dan tokoh utama.
Foufo dalam film ini hanyalah makhluk dari planet lain yang ringkih, fisiknya terus melemah, dan alat komunikasinya rusak. Ia hanya ingin pulang ke kapal induk.
Di sinilah terjadi paralelisme antara ketidakberdayaan Foufo dan Muslim. Ketidakberdayaan si alien yang terdampar jauh dari rumahnya seolah-olah memantulkan kondisi Muslim dan keluarganya. Muslim dan keluarganya mengalami ‘alienisasi sosial’, terasing secara ekonomi di kampung rongsokan karena tak kunjung mampu menghajikan ibunya. Hal yang serupa dialami oleh Mustofa yang karena miskin sering diremehkan oleh teman-temannya, meski ia sering menjadi perwakilan sekolah untuk ajang olimpiade.
Muslim tak berdaya menghajikan ibunya hanya dari tabungan. Ia juga seolah-olah berpacu dengan waktu karena khawatir ibunya tak lagi punya kesempatan berhaji tahun depan. Muslim hanya punya tekad kuat untuk bekerja lebih keras apabila mendapat dana pinjaman. Hal yang sama dirasakan Mustofa yang hanya mampu menangkis ejekan kawan-kawannya lewat prestasi akademiknya.
Foufo mengandalkan Muslim yang berjanji memperbaiki kapalnya. Sementara Muslim juga mengandalkan institusi peminjaman dan tempat mendaftar haji agar diberi kesempatan. Foufo yang sekarat rindu rumahnya di luar angkasa. Sedangkan ibu Muslim rindu akan rumah spiritualnya di Baitullah. Dari kesamaan nasib antarmakhluk yang tak berdaya, rindu ‘rumah’, dan saling bergantung inilah jalinan ujian spiritual dalam film ini dimulai.
Alien Sebagai Ujian bagi Muslim: Kepercayaan Islam akan Makhluk Luar Angkasa, Menjaga Amanah, dan Welas Asih
Alien di sini meski tidak banyak disorot menjadi ujian bagi Muslim dan keluarganya. Ia menguji bagaimana Muslim dan keluarganya menyikapi eksistensi makhluk luar angkasa (alien) dalam sudut pandang iman Islam. Serta, bagaimana Muslim menjaga amanahnya baik-baik memulangkan Foufo, dan bersikap welas asih kepadanya.
Islam dalam ayat suci Al-Qur’an telah memberikan gambaran bahwa alam semesta ini sangat luas dan Allah adalah Rabbul ‘Alamin (Tuhan Semesta Alam), bukan hanya Tuhan bagi manusia di bumi saja.
Secara eksplisit, istilah “alien” atau “makhluk luar angkasa” memang tidak disebutkan gamblang di dalam Al-Qur’an. Namun, para pakar sains Islam dan ulama tafsir kontemporer menemukan beberapa ayat yang memberikan isyarat kuat tentang adanya makhluk hidup di luar Bumi.
Yang pertama adalah Surah Asy-Syura ayat 29 yang isinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk melata (dabbah) yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki.” Ayat ini seolah-olah mengisyaratkan adanya makhluk bernyawa lain yang sengaja disebarkan Allah di luar angkasa.
Isyarat keberadaan planet lain yang layak huni selain bumi juga hadir dalam Surat Al-Jasiyah ayat 13 yang isinya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Melalui ayat-ayat tersebut di atas, Islam terbuka pada kemungkinan adanya makhluk luar angkasa karena Allah adalah Maha Besar dan Tuhan Semesta Alam. Hal ini sejalan dengan sikap keluarga Muslim yang awalnya takut dan bingung akan sosok Foufo kemudian menerimanya karena ia juga makhluk ciptaan Tuhan.
Foufo juga menguji Muslim akan amanah. Muslim telah berjanji membantu Foufo pulang. Namun, kemudian fokusnya pecah dan Foufo sekarat. Ibu Muslim mengingatkan putranya akan amanah tersebut. Ia juga menegaskan pentingnya selalu berbuat welas asih kepada sesama. Ia ikhlas dana haji digunakan untuk menolong Foufo.
Akhirnya Muslim dan seluruh keluarganya gotong-royong dan rela berkorban untuk menolong Foufo. Muslim mengorbankan keris warisan ayahnya yang ternyata mengandung logam yang bisa membantu memperbaiki pesawat Foufo.
Pentingnya menjaga amanah dan bersikap welas asih diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini juga terlihat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti Surat Al-Mu’minun ayat 8 yang isinya: “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”
Ayat lainnya yang dengan tegas memuat perintah tegas dari Allah Swt. untuk memenuhi segala macam perjanjian yang telah dibuat, baik kepada Allah maupun sesama manusia tercantum dalam Surat Al-Ma’idah ayat 1 yang isinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji (akad-akad)… ”
Rasulullah SAW juga bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya (diberi amanah) ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan pentingnya menjaga amanah.
Islam juga menekankan pentingnya nilai kemanusiaan, saling menolong, dan cinta kasih (welas asih). Hal ini bisa dilihat dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang isinya:…Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…
Welas asih sebagai jalan kebajikan juga tertera dalam surat Al-Balad ayat 17 yang isinya: “Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”. Ayat ini menganjurkan kepedulian sosial, kelembutan, serta saling mengasihi antarsesama makhluk, seperti Muslim dan keluarganya terhadap Foufo.
Meskipun awalnya Muslim sempat lalai menunaikan amanahnya menolong Foufo, akhirnya ia tersadarkan oleh nasihat ibunya bahwa merawat dan memulangkan makhluk luar angkasa yang terlantar adalah salah satu bentuk ibadah nyata.
Naik Haji: Antara Tradisi dan Kemampuan
Sejak awal penonton diajak menyaksikan benturan antara ujian naik haji dan paradoks panggung kultural masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari pisau bedah Teori Dramaturgi yang dicetuskan oleh Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life. Teori ini tentang sosiologi mikro yang melihat interaksi sosial manusia seperti sebuah pertunjukan teater. Dalam teori ini ada dua realitas yang kontras yang disebut panggung depan dan panggung belakang.
Bagi orang Madura, ibadah haji bukan sekadar kewajiban agama untuk memenuhi rukun Islam kelima. Ibadah haji bagi mereka juga rasa hormat (prestis) dan status sosial.
Pada panggung depan penonton melihat syukuran keberangkatan ke Baitullah yang dirayakan dengan mewah demi menaikkan status sosial dan prestis di mata tetangga. Saudari Muslim sampai mencuri uang Muslim untuk membeli makanan yang lumayan mahal untuk syukuran akan keberangkatan haji ibunya. Tetangga Muslim juga menyewa penari dan menyediakan doorprize pada saat syukuran.
Padahal ajang syukuran yang berlebihan ini bisa menjadi riya’ alias pamer. Sementara Islam melarang untuk berbuat riya’ karena termasuk mendustakan agama seperti dalam Surat Al-Maun ayat 6 yang isinya: “..yang berbuat riya.”
Tak hanya panggung depan, film ini juga berani membongkar panggung belakang yang rapuh. Adanya tekanan sosial berupa ledekan membuat Muslim terus berjuang menaikhajikan ibunya. Ia sampai berniat menggunakan dana pinjaman tanpa memikirkan bagaimana cara ia mengembalikannya kelak.
Niat Muslim untuk memuliakan ibunya sungguh terpuji. Sayangnya ia sampai melakukan berbagai cara hingga meminjam uang di mana sebenarnya melebihi kemampuannya.
Di titik ini, Foufo secara tidak langsung menunjukkan makna istitha’ah (kemampuan) yang termaktub dalam Surat Ali ‘Imran ayat 97 yang isinya: “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
Dalam ayat tersebut ditekankan bahwa Baitullah hanya bagi orang yang mampu. istitha’ah di sini bukan hanya mampu secara fisik, melainkan juga finansial. Namun, kemampuan ini juga jangan sampai dipaksakan hingga meminjam uang, apalagi meminjam uang di mana tempatnya bisa jadi riba, seperti yang dilakukan Muslim ketika terdesak.
Naik haji adalah ujian kebersihan niat, bukan panggung pamer kultural. Sang ibu mengambil keputusan yang meruntuhkan ego spiritualnya. Ia rela batal haji agar anaknya fokus memenuhi janji (amanah) untuk mengembalikan si alien yang sekarat. Menunda haji demi menegakkan amanah jauh lebih mulia daripada memaksakan pergi ke Makkah dalam keadaan membawa utang janji.
Evaluasi Sinematik: Kehangatan Budaya vs Formula Usang Bayu Skak
Bayu Skak berhasil membumikan konsep alien menjadi mahluk yang perlu dikasihani bukan yang menakutkan dan memiliki teknologi maju, sehingga emosinya tetap menyatu dengan drama lokal Madura yang hangat.
Penggunaan bahasa Madura serta pelibatan talenta lokal berdarah Madura yang dominan memberikan rasa otentik dan menguatkan latar Madura. Unsur budaya Madura juga kental dari makanan, tarian, hingga tradisi syukuran naik haji. Pesan religi dan moralnya juga kuat di antaranya memuliakan ibu, menegakkan amanah, ujian naik haji, menyucikan niat, menjauhi riya’, dan bersikap welas asih.
Minus film ini juga banyak. Kebiasaan Bayu Skak memasukkan sub-plot romansa anak sekolah yang tidak perlu, tidak pas dengan cerita dan terkesan dibuat-buat. Hubungan pertemanan tanpa unsur romantis malah menguatkan pesan persahabatan multietnis. Porsi humor dalam film juga kadang terlalu berlebihan sehingga mengaburkan substansi seperti dalam adegan yang dilakukan Benediktus Siregar yang mengolok kakak ipar Muslim.
Karakter tetangga yang dengki juga tampak diada-adakan dan tidak natural. Penokohan semacam ini klise dan dipaksakan.
Logika persyaratan dan waktu pendaftaran haji juga perlu dikritisi. Apakah mungkin mendaftar haji dan berangkat dalam waktu seketika di negeri ini karena masih perlu pemberkasan dan cek kesehatan.
Selain itu, penonton yang mengharapkan aksi Sci-Fi yang seru mungkin akan kecewa karena kualitas CGI yang buruk. Keputusan membuat alien ini “tidak bisa apa-apa” dan tidak banyak sorotan membuat elemen UFO-nya terasa seperti sekadar alat pemasaran alias gimmick.
Hal ini ditambah dengan teka-teki mengenai aspek legalitas hak cipta lagu The Adventure milik Angels & Airwaves yang muncu di akhir film. Apakah benar-benar menggunakan lagu tersebut secara legal atau meniru komposisinya. Apabila menggunakan yang nomor dua sifatnya masih abu-abu.
Penutup
Bayu Skak berani mempromosikan nilai religi lewat kemasan pop-kultur modern yakni alien, meski hanya berupa kulit luar. Ia berhasil menarik minat penonton muda untuk peduli pada pesannya.
Foufo bukanlah film tentang alien yang canggih, melainkan sebuah refleksi tentang moral dan religi. Ibadah haji memang penting. Namun, kebenaran sejati dari sebuah ibadah spiritual tetap kembali pada kemampuan manusia dalam menjaga amanah, membersihkan niat, dan menebarkan kasih sayang kepada makhluk yang paling tak berdaya.
Kendati memiliki kedalaman moral, sebagai sebuah karya sinema, Foufo tetap tidak luput dari catatan kritis di eksekusinya. Dialog mengggunakan bahasa Madura dan talenta lokal menguatkan latar cerita. Namun, kebiasaan formulaik Bayu Skak seperti humor dan selipan sub-plot romansa anak sekolah malah mengurangi substansi cerita.
Secara teknis, kualitas CGI alien yang kasar dan kurang menyatu dengan lingkungan live-action juga cukup mengganggu mata. Hal ini ditambah dengan teka-teki mengenai aspek legalitas hak cipta lagu The Adventure milik Angels & Airwaves yang digunakan di dalam film, serta aspek logika persyaratan dan pendaftaran naik haji.
Foufo bukanlah sebuah film fiksi ilmiah yang memamerkan kecanggihan teknologi luar angkasa. Meski demikian film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa jalan menuju naik haji tidak harus dipaksakan. Jalan menuju kebajikan lainnya sebagaimana perintah Tuhan Yang Maha Kuasa di antaranya menjaga kesucian niat, menegakkan amanah dan janji, serta menebarkan welas asih kepada makhluk yang paling tak berdaya.
Referensi:
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Garden City, NY: Anchor Books.Catatan
Kracauer, S. (1947). From Caligari to Hitler: A psychological history of the German film. Princeton University Press.
Kracauer, S. (1960). Theory of film: The redemption of physical reality. Oxford University Press.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2026). Qur’an Kemenag. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Diambil kembali dari https://quran.kemenag.go.id/
Penjelasan Makhluk Luar Angkasa (Alien) dalam Al-Qur`an. Diambil kembali dari: [https://mahad.uin-suska.ac.id/2015/01/24/makhluk-luar-angkasa/]
Petunjuk tentang Alien yang Tersembunyi dalam Surat-surat Al-Qur’an. Diambil kembali dari (https://sains.kompas.com/read/2018/05/18/041000523/petunjuk-tentang-alien-yang-tersembunyi-dalam-surat-surat-al-quran)
The post Ujian Naik Haji, Penegakan Amanah, dan Pandangan terhadap Makhluk Luar Angkasa dalam “Foufo” appeared first on montasefilm.
Foufo berhasil menyampaikan pesan bahwa jalan menuju naik haji tidak harus dipaksakan. Jalan menuju kebajikan lainnya sebagaimana perintah Tuhan Yang Maha Kuasa di antaranya menjaga kesucian niat, menegakkan amanah dan janji, serta menebarkan welas asih kepada makhluk yang paling tak berdaya.
The post Ujian Naik Haji, Penegakan Amanah, dan Pandangan terhadap Makhluk Luar Angkasa dalam “Foufo” appeared first on montasefilm. montasefilm



