The Runner adalah film aksi-thriller yang digarap oleh Kevin Macdonald dan dirilis melalui platform streaming Prime Video. Satu hal yang menarik adalah sosok sineasnya, seorang spesialis dokumenter yang pernah menggarap film dokumenter istimewa, Touching the Void. Film ini juga dibintangi aktris populer Gal Gadot, bersama Damian Lewis dan Alfred Enoch. Bermodal pengalaman unik sang sineas dan popularitas sang bintang, akankah The Runner mampu memberikan sentuhan baru terhadap genre ini?
Maia Marten adalah seorang jaksa penuntut yang pada hari itu memiliki momen penting dalam kariernya, yakni menghadirkan seorang saksi kunci untuk sebuah kasus kriminal besar di London. Pagi harinya, ia masih sempat mengantar putra bungsunya, Noah, ke sekolah di sela rutinitas jogingnya. Tak lama setelah mengantar Noah, ia dihubungi seseorang tak dikenal yang mengaku telah menculik putranya. Pria misterius tersebut ternyata memiliki kaitan dengan kasus yang tengah ditanganinya dan menginginkan Maia membunuh sang saksi sebelum memberikan kesaksian di persidangan. Jika tidak, putranya akan dibunuh.
Premisnya mengingatkan pada film thriller Desperate Hours (2021), meski dengan motif cerita yang berbeda. Protagonis yang diperankan Naomi Watts kala itu tengah berjoging di kawasan hutan ketika mendapat informasi bahwa sekolah putrinya mengalami aksi penembakan. Satu-satunya alat komunikasi yang dimilikinya hanyalah smartphone, sementara ia harus berpacu dengan waktu untuk sesegera mungkin mencapai lokasi. Film tersebut begitu intens menyajikan ketegangan yang terus mengikuti sang protagonis tanpa sekalipun memperlihatkan peristiwa di sekolah. Walau memiliki kemiripan dengan The Runner, pencapaian keduanya sangat kontras, terutama dari sisi penceritaan dan pengolahan adegan.
Poin pertama adalah persoalan ceritanya yang tidak masuk akal dengan terlalu banyak motif yang terasa dipaksakan. Fakta dan informasi tersebut seluruhnya disampaikan melalui dialog dalam film. Di tengah momen sepenting itu bagi karier Maia, bagaimana mungkin ia masih berpikir untuk berjoging? Bagaimana pula sang antagonis bisa tahu persis bahwa Maia akan berjoging pada hari itu? Bahkan, kebetulan yang terlampau ajaib membuatnya tahu bahwa Maia tidak mengantar Noah masuk ke kelas. Lalu, dari sisi Noah, bagaimana ia bisa begitu saja percaya kepada pria yang sama sekali tidak dikenalnya?
Satu lagi yang cukup konyol, why oh why, sang antagonis justru menyuruh Maia berlari menuju lokasi saksi. Bukankah tindakan tersebut malah membuka kemungkinan terjadinya berbagai hal tak terduga yang dapat menggagalkan rencananya? Masih banyak lubang plot lain yang bisa dipaparkan, tetapi rasanya sudah tidak perlu. Poin besarnya, plot film ini terasa sangat dipaksakan. Hal ini berbeda dengan Desperate Hours yang jauh lebih rapi dalam membangun situasi dan ketegangannya.
Poin kedua adalah penampilan sang bintang yang kurang meyakinkan. Dalam sejumlah film yang pernah dibintanginya, kemampuan akting memang menjadi salah satu titik lemah Gal Gadot. Itu sebabnya Gadot cenderung lebih berhasil dalam genre yang menuntut banyak aksi, seperti seri Fast & Furious, Wonder Woman, hingga Heart of Stone. Dalam banyak momen di sini, ekspresi gelisah dan cemas sang aktris, termasuk ketika menyampaikan dialog, tampak kurang meyakinkan. Jika dibandingkan dengan Naomi Watts, seorang aktris watak berkelas, Gadot jelas bukan lawan yang sepadan. Dalam Desperate Hours pun, penampilan Watts bukanlah salah satu yang terbaik dalam kariernya, tetapi tetap lebih dari cukup untuk mendukung kisahnya.
The Runner adalah percobaan thriller yang gagal akibat naskah yang memaksa serta penampilan bintang utamanya yang kurang meyakinkan. Menggarap film thriller memang bukan perkara mudah. Modal utamanya adalah naskah yang solid serta pemain yang tepat. Dua hal inilah yang tidak dimiliki The Runner. Satu hal lain yang juga mengecewakan adalah sentuhan sang sineas. Kevin Macdonald, yang selama ini dikenal lewat karya-karya dokumenternya, tidak mampu membawa sentuhan estetik seperti yang ia lakukan dalam Touching the Void, terutama melalui subjektivitas dan perspektif psikologis tokohnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual. Film ini sesungguhnya dapat menjadi pengalaman berharga bagi sang sineas untuk mengeksplorasi pendekatan tersebut dalam genre thriller. Sayangnya, kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik.

The post The Runner | REVIEW appeared first on montasefilm.
The Runner adalah percobaan thriller yang gagal melalui naskah tak masuk akal, serta penampilan sang bintang yang kurang meyakinkan.
The post The Runner | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm




