A House of Dynamite | REVIEW

Diharapkan untuk menonton filmnya sebelum membaca ulasan film ini.

A House of Dynamite adalah thriller politik yang dibintangi sineas kawakan Kathryn Bigelow. Bigelow (73 tahun) kita kenal sebagai sineas perempuan brilian yang mengarahkan film-film thriller berkelas, yakni The Hurt Locker, Zero Dark Thirty, serta Detroit. Film ini dibintangi sederetan nama besar, antara lain Idris Elba, Rebecca Ferguson, Gabriel Basso, Jared Harris, Anthony Ramos, Greta Lee, hingga Jason Clarke. Film berdurasi 112 menit, dirilis oleh Netflix beberapa hari lalu. Bermodal sineas dan belasan talenta kastingnya, akankah film ini mampu bersaing dengan film-film terbaik sang sineas?

Di tengah situasi gobal yang makin genting, satu pangkalan radar milik AS menangkap sinyal adanya rudal balistik yang diluncurkan dari wilayan barat laut Perairan Pasifik. Seluruh aktivitas dan ororitas AS di beragam lokasi dan departemen mendadak panik luar biasa. Situasi menjadi semakin genting ketika rudal tersebut dipastikan akan menghantam wilayah Kota Chicago yang berpenduduk 10 juta jiwa. Kisahnya secara bergantian memperlihatkan respon dari beragam pihak dan otoritas, dari para pegawai senior di lapangan, menteri, para petinggi militer, para ajudan, hingga sang presiden AS sendiri.

Capt. Ramsey: God help you if you’re wrong.                                                         Hunter: If I’m wrong, then we’re at war; God help us all. 

(Crimson Tide, 1995)

Kisah yang menyajikan tensi politik dan ancaman global telah sering kita jumpai dalam banyak film. Dari film aksi populer berbujet besar, seri Mission Impossible dan James Bond, hingga drama thriller serius seperti Crimson Tide, Thirteen Days, hingga The Sum of All Fears. Crimson Tide adalah satu contoh thriller berkualitas tinggi yang mengisahkan bagaimana konflik (nuklir) dan ketegangan dapat dibangun dalam ruang kapal selam yang terbatas. Asumsi, mana yang benar dan salah, serta resiko, selalu dipertentangkan. Hal yang sama juga kita lihat dalam plot A House of Dynamite, tetapi kemasan cerita dan unjuk performa belasan pemain, serta  “resolusi akhir”, membedakan dengan film-film di atas.

Plotnya dibagi menjadi tiga perspektif berbeda yang disajikan secara nonlinier. Perspektif pertama menyajikan respon awal dari beragam pihak dari level bawah, kedua dari level atas, serta terakhir dari perspektif sang presiden dan orang-orang di seputarnya. Ketiganya menyajikan informasi dan intensitas plot yang sama. Sejak segmen pertama, kita sesungguhnya telah mendapatkan info yang cukup dan ekspektasinya tentu kita bakal mendapat jawaban yang memuaskan sepanjang pengembangan kisahnya. Rupanya ini tidak terjadi.

Poin tiap segmen hanyalah respon dari pihak-pihak yang berbeda. Tak ada yang kurang dan lebih. Naskahnya cerdik untuk memancing penonton dengan sama sekali tidak memasukkan beberapa karakter sentral dalam segmennya. Ketidakhadiran karakter Potus alias sang presiden adalah satu hal yang mencuri perhatian sepanjang prosesnya. Sang presiden pun tidak ditampilkan secara visual hingga segmen akhir.  Mengapa? Ekspektasi kita tentu mengharap sebuah kejutan besar yang mengubah alur kisah. Rupanya saya salah.

Walau bukan tema dan kisah baru bagi medium film, tetapi A House of Dynamite mampu menyajikan plotnya secara unik dan intens didukung kuat penampilan sederetan kastingnya. Di atas segalanya, film ini mampu merefleksikan betapa rapuh dan gentingnya situasi global terkini. Ini menjadi pesan terbesar filmnya tanpa harus memberi jawaban dalam plotnya. Kita tidak akan pernah tahu siapa dan pihak mana yang meluncurkan rudal? Apa motifnya? Apakah ini hanya lelucon ataukah skema penyerangan yang serius? Ataukah semua ini hanya untuk menguji respon AS dan reaksi rivalnya? Dalam dialognya, pernyataan ini seringkali disinggung secara gamblang.

Umat manusia belum pernah menghadapi kasus sepelik ini sebelumnya. Pada masanya, puluhan tahun lalu, hanya AS dan Soviet. Kini, banyak negara bisa meluncurkan hulu ledak nuklir. Dengan konflik global yang makin meruncing dan memanas, segala hal bisa terjadi. Tidak ada seorang pun yang menginginkan hal ini terjadi, tetapi jari tangan manusia kadang bisa melakukan hal di luar nalar. A House of Dynamite bukanlah film pertama dan terbaik yang mengemas topiknya, tetapi ini adalah, sekali lagi, bagaimana medium film mampu secara brilian merespon situasi global pada konteks jamannya.

The post A House of Dynamite | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Walau bukan tema dan kisah baru bagi medium film, tetapi A House of Dynamite mampu menyajikan plotnya secara unik dan intens didukung kuat penampilan sederetan kastingnya. Di atas segalanya, film ini mampu merefleksikan betapa rapuh dan gentingnya situasi global terkini.
The post A House of Dynamite | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link