Film zombi terhitung langka diproduksi di Indonesia dalam satu dekade terakhir, sebut saja Kampung Zombi, Reuni Z, hingga Zeta: When the Dead Awaken. Kali ini, Netflix merilis Abadi Nan Jaya (The Elixir) yang merupakan film zombi arahan sineas spesialis horor kita, Kimo Stamboel. Dalam enam tahun terakhir, sang sineas selalu konsisten menggarap film-film horor sukses, seperti Ratu Ilmu Hitam, Ivanna, Sewu Dino, hingga Badarawuhi di Desa Penari. Abadi Nan Jaya dibintangi oleh Mikka Tambayong, Eva Celia, Dimas Anggara, Marthino Lio, serta Donny Damara. Melalui sentuhan sang sineas, akankah film ini mampu mengangkat subgenrenya ke level yang lebih tinggi?
Kenes (Tambayong) bersama suaminya, Rudi (Anggara), dan putranya, Raihan, pergi ke tempat ayahnya, Sadimin (Damara) di wilayah pedesaan. Sadimin adalah pemilik perusahaan jamu tradisional yang berniat menjual usahanya yang didukung putri dan istri mudanya, Karina (Celia) yang juga bekas sahabat Kenes. Di momen ini, justru Sadimin menemukan resep jamu awet muda yang dibuktikan sendiri hasilnya setelah meminumnya. Ia pun membatalkan niat menjual yang mendapatkan penolakan keras dari istri dan putrinya. Namun, mendadak sesuatu terjadi pada Sadimin. Jamu yang ia minum memberi efek fatal, menjadikannya mayat hidup yang memakan daging manusia. Seseorang yang terkena gigitan dalam beberapa saat juga tertular. Bencana zombi pun merebak dengan cepat. Situasi aman dan damai seketika berubah menjadi chaos.
Bagi fans Kimo yang telah akrab dengan karya-karyanya, tentu saja memiliki ekspektasi tinggi dengan gaya ultra brutal yang menjadi cirinya. Sang sineas plus genre zombi, rasanya bakal menjadi kombinasi ideal bagi para fansnya. Ekspektasi pun tidak keliru. Aksi-aksi brutal dengan cipratan darah, potongan tubuh, hingga benda tajam menancap tubuh, nonstop disajikan. Sebuah mobil melindas tubuh zombi hingga truk yang menabrak belasan zombi disajikan begitu meyakinkan. Akhirnya, kita memiliki satu film zombi berskala kolosal yang secara visual sangat mapan.
Sang sineas tak hanya terampil mengolah adegan aksi brutalnya, tetapi capaian tata rias dan efek “zombi” begitu mengesankan. Dari detil luka di tubuh dan wajah, bekas gigitan luka, hingga warna bola mata disajikan begitu meyakinkan, tak berbeda jauh dengan apa yang kita lihat dalam film-film zombi di luar sana. Sineas juga sering kali menggunakan overhead shot melalui drone untuk menggambarkan area yang lebih luas dari ketinggian. Satu shot mengagumkan memperlihatkan bagaimana para zombi menaiki truk untuk menghabisi para warga yang kebanyakan perempuan dan anak-anak. Dari segi visual, segalanya tampak mengagumkan, tetapi rupanya bertolak belakang dengan pencapaian naskahnya.
Kualitas naskah, seperti kita tahu adalah menjadi masalah bagi kebanyakan film-film kita. Eksposisi dan motif munculnya zombi dalam banyak film bukan menjadi masalah, tetapi adalah reaksi dalam menghadapi masalah yang menjadi masalah. Logika dan akal sehat sering kali dikesampingkan dengan adegan-adegan aksi memaksa yang terlalu konyol untuk diperdebatkan. Tokoh-tokohnya seolah tidak memiliki kesadaran (nalar) tentang kemampuan sosok monster yang mereka hadapi. Lubang plot bertaburan dalam banyak momennya. Aturan main di awal jelas dan tegas, tidak berbeda dengan film lainnya. Mayat hidup memangsa manusia, mereka tidak mudah dibunuh, dan jika seseorang tergigit, maka bakal menjadi seperti mereka.
Tentu, tidak ada lagi waktu untuk berpikir selain untuk segera lari sejauh mungkin tanpa harus berpikir untuk masuk ke dalam bangunan yang sempit. Bagi fans zombi, tentu ini bakal membuat penonton gregetan. Tak habis pikir, bagaimana tokoh-tokohnya sering kali bertindak konyol dan berlama-lama tanpa bisa memahami resiko yang mereka hadapi. Dalam satu momen terlontar dialog:
“Tidak bisakah menghubungi pos polisi lainnya?”
“Lokasi pos polisi terdekat jauh, begitu tiba di sini semua sudah terlambat”.
Tidak dapat dipercaya, dialog macam ini bisa muncul pada adegan ketika pos polisi tersebut dikerubungi puluhan zombi yang sesaat sebelumnya telah memangsa beberapa polisi. Sambungan telepon pun belum mati. Bukankah seharusnya: “Get everyone here!!! Now, now, now!!!”. Jika tidak minta bantuan, lalu apa lagi yang bisa mereka lakukan? Polah dan aksi konyol macam ini tentu bisa dimaklumi jika film ini bergenre komedi, ataukah memang iya?
Naskah konyol dan jauh dari nalar, tetapi Abadi Nan Jaya menjadi pembuktian besar bahwa Kimo Stamboel memiliki potensi mengeksplorasi subgenre ini lebih jauh lagi dengan sentuhan estetik khasnya. Problem film kita secara umum masih saja sama, yakni lemahnya sisi penceritaan. Aspek ini yang membuat segala pencapaian visual luar biasa yang dilakukan sang sineas menjadi sia-sia. Secara teknis, kita sudah lebih dari mampu untuk membuat film zombi berkualitas tinggi, hanya saja mau sampai kapan kita masih terlena dengan situasi ini. Setidaknya, sudah ada usaha untuk memadukan tradisi genre monster barat dengan unsur lokal.
The post Abadi Nan Jaya | REVIEW appeared first on montasefilm.
Naskah konyol dan jauh dari nalar, tetapi Abadi Nan Jaya menjadi pembuktian besar bahwa Kimo Stamboel memiliki potensi mengeksplorasi subgenre ini lebih jauh lagi dengan sentuhan estetik khasnya.
The post Abadi Nan Jaya | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm





