
Seperti halnya film fiksi, film dokumenter juga terus berkembang. Massoud Bakhshi, sutradara asal Iran, salah satunya yang gemar bereksperimen dan menyuarakan kritik sosial melalui karya-karyanya. Lewat All My Sisters, ia coba sajikan isu sosial secara personal. Film ini tayang di gelaran 100% Manusia Film Festival 2026.
Film dokumenter naratif ini menonjolkan kehidupan dua saudari, Zahra dan Mahya Habibi. Selama 18 tahun, keduanya tumbuh dari anak-anak yang menggemaskan kemudian harus patuh mengikuti tradisi Iran, hingga kemudian gelombang protes para perempuan ikut menggerakkan hati mereka.
Keduanya, bersama si adik bungsu, Maleka Habibi ikut meneriakkan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” di atap rumah sebagai wujud dukungan mereka. Zahra dan Mahya tahu tindakan mereka akan membuat sang nenek marah besar, namun keduanya tidak gentar.
Selintas, apabila hanya melihat isunya, film ini seperti film-film karya Massoud Bakhshi pada umumnya yang sering membahas dinamika sosial politik pada Iran yang sebagian terinspirasi dari pengalaman hidupnya. Namun, jika kalian berkesempatan menyaksikan film ini maka kalian akan mendapatkan sesuatu yang berbeda dari film ini, yakni dedikasi, kesabaran, dan keintiman selama berproses menghasilkan film ini.
Ya, film dokumenter ini terasa begitu personal dan intim karena kedua sosok perempuan yang menjadi narasumber adalah kedua keponakan Bakhshi. Kamera Bakhshi mengikuti kehidupan kedua keponakannya yang kemudian hari bertambah menjadi tiga selama bertahun-tahun.
Melalui rekaman keluarga selama 18 tahun ini Bakhshi seolah-olah menunjukkan bahwa sumber penyusunan film dokumenter ini bisa berasal dari keluarga terdekat, dalam hal ini adalah kedua keponakannya. Di sini ia memilah video keluarga seperti ketika Zahra dan Mahya berulang tahun, ketika keduanya mulai diwajibkan mengenakan kerudung, dan ketika keduanya berbeda pendapat akan dosa ketika neneknya bertanya kepada mereka. Kamera juga merekam kegelisahan mereka ketika gelombang protes para perempuan makin menyebar di seluruh penjuru Iran.
Kadang-kadang Bakhshi bertanya kepada kedua keponakannya akan berbagai isu. Ia berhenti ketika salah satu dari mereka merasa terganggu. Di satu momen ia menggunakan fitur zoom dan trik pencahayaan agar wajah kedua keponakannya terlihat samar-samar karena menunjukkan rambut mereka. Ia juga menggunakan efek tertentu agar hasil fillmya nampak seperti film lawas padahal rentang waktu filmnya berkisar tahun 2007-2025.
Di beberapa titik nampak Zahra dan Mahya yang sudah dewasa menyaksikan tayangan rekaman video yang dibuat pamannya. Ekspresi mereka saat menonton adalah reaksi natural mereka.
Gaya dokumenter yang menggunakan keluarga sebagai narasumber ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sean Wang, sutradara Grandma, Grandma (Nǎi Nai & Wài Pó) juga menjadikan kedua neneknya sebagai pusat cerita dokumenter pendeknya dan berhasil masuk nominasi Oscar 2024. Bedanya, cerita akan kedua nenek ini personal dan hanya seperti potret keluarga Tionghoa. Pengambilan gambar dan durasi filmnya juga singkat. Tidak seperti All My Sisters yang pengambilan gambar berlangsung 18 tahun dan berdurasi sekitar 78 menit.
Menjadikan anggota keluarga sebagai narasumber dan pusat cerita dokumenter ini juga merupakan isu yang menarik sebagai bahan diskusi. Sejauh mana anggota keluarga layak menjadi bahan film dokumenter? Apakah ada dilema yang dihadapi sutradara ketika merekam keluarganya sendiri? Dan, apa bedanya film dokumenter ini dengan video rekaman keluarga? Eksperimen Bakhshi ini dapat menjadi bahan diskusi yang menarik bagi para pengamat film dokumenter.
Di luar isu tersebut, Bakhshi bagi penulis berhasil menggabungkan sesuatu yang bersifat personal- intim dan yang politis. Ia mampu menjadikan narasumber yang berasal dari keluarga sebagai potret perubahan sosial Iran. Tiga saudari tersebut masih relevan sebagai representasi generasi perempuan Iran yang tumbuh sebelum dan sesudah gelombang protes besar menyeruak.
Film produksi Austria-Iran ini sebelumnya diputar di Hong Kong International Film Festival 2026 dan meraih nominasi Golden Firebird Award. Film All My Sisters ini sendiri baru rilis di bioskop Austria pada 24 April 2026. Kalian bisa menyaksikan film ini di ajang 100% Manusia Film Festival di Jakarta, Yogya, dan Bali pada 6-15 Agustus 2026.
The post All My Sisters | 100 Persen Manusia Film Festival appeared first on montasefilm.
All My Sisters berhasil menggabungkan sesuatu yang bersifat personal- intim dan yang politis. Ia mampu menjadikan narasumber yang berasal dari keluarga sebagai potret perubahan sosial Iran. Tiga saudari tersebut masih relevan sebagai representasi generasi perempuan Iran yang tumbuh sebelum dan sesudah gelombang protes besar menyeruak.
The post All My Sisters | 100 Persen Manusia Film Festival appeared first on montasefilm. montasefilm



