Deep Water | REVIEW

Dua rilisan beruntun film bencana-serangan hiu menegaskan bahwa genre ini belum ada matinya. Deep Water kali ini didukung oleh sineas kawakan spesialis aksi Renny Harlin (Die Hard 2, Cliffhanger, Deep Blue Sea) serta nama-nama besar, seperti Aaron Eckhart dan Ben Kingsley. Dengan dukungan bujet sebesar USD 40 juta dan para talenta di belakangnya, akankah Deep Water mampu memberikan eksplorasi segar bagi genre dan subgenre-nya?

Satu pesawat komersial berpenumpang penuh lepas landas dari Bandara Los Angeles menuju Shanghai dengan pilot Rich (Kingsley) serta kopilot Ben (Aaron Eckhart). Sementara di bagasi, satu koper milik seorang penumpang nakal, power bank-nya menyala dan ini menyalahi regulasi penerbangan. Korsleting pun memicu api yang akhirnya membuat area bagasi terbakar hebat. Sekalipun sang pilot sudah berupaya maksimal, pesawat sudah tak mampu diselamatkan, dan mereka pun terpaksa mendarat di lautan lepas yang jauh dari mana pun. Pesawat terbelah dan ratusan nyawa pun tidak bisa diselamatkan. Belum lepas dari trauma dan shock, para penyintas harus berhadapan dengan ikan-ikan hiu ganas yang memangsa mereka.

Satu poin besar yang membuat fans aksi menonton film ini (di luar dua bintangnya), bisa jadi adalah Renny Harlin. Dekade 1990-an adalah era emas sang sineas yang memproduksi film-film aksi besar dengan bintang-bintang top. Sekuel pertama Die Hard dan Cliffhanger jelas bukan film aksi murahan, tetapi merupakan film aksi berkelas dengan segmen-segmen aksi spektakuler. Bahkan Deep Blue Sea, secara mengejutkan, menjadi salah satu film shark attack terbaik setelah Jaws. Namun, dalam dua dekade terakhir, Harlin berubah menjadi sineas kelas B yang memproduksi film-film B-movie berkualitas rendah.

Seperti kebanyakan film senada (bencana pesawat udara), plotnya langsung tancap gas sejak awal, tanpa banyak eksposisi. Bahkan sejak menit awal pun, penonton sudah bisa mencium gelagat sumber bencana dari ulah seorang penumpang. Sentuhan Harlin untuk membangun aksi dengan pelan tapi pasti masih bisa kita rasakan. Sisi sinematografi pun terlihat mapan seperti film-film box office kebanyakan. Proses aksi pesawat menghujam lautan juga terlihat begitu meyakinkan, terutama untuk pengadeganan di dalam pesawat. Jika ini dirilis di era ’90-an, segmen aksinya bakal dianggap sebagai salah satu aksi paling intens yang menampilkan crash landing. Setelahnya, film ini memperlihatkan wajah aslinya dan tak ubahnya film-film medioker kelas B.

Satu hal yang menjadi persoalan besar adalah set yang kurang meyakinkan. Sepanjang segmen di lautan, di dalam maupun di atas air (baca: kolam), film ini terlihat sekali dibuat di dalam studio, dari efek visual latar hingga pencahayaan yang tidak terlihat natural. Seluruh pengadeganannya terlihat artifisial dan ini yang menyebabkan kita tidak bisa merasakan ancaman yang seharusnya. Dalam The Devil’s Mouth (rilis minggu lalu) yang bertema sama, ketika satu karakternya tertinggal di laut, kita benar-benar bisa merasakan ancaman karena jelas terlihat aksi-aksinya dilakukan shot on location. Untuk membuat adegan shot on location dengan skala bencana macam Deep Water tentunya butuh bujet yang jauh lebih mahal. Ini kita belum bicara soal visual hiu-hiunya yang rasanya tidak perlu kita komentari lagi.

Deep Water didukung beberapa nama besar dan sineas kawakan, tetapi masih belum cukup kuat menaikkan statusnya selain hanya sebagai B-action movie. Jika saja Harlin memiliki bujet dan peralatan yang sama dengan produksi Die Hard 2 atau Cliffhanger, rasanya film ini bakal bisa memiliki kualitas lebih baik. Dengan kualitas visual macam ini, tentu sulit jika mengharap untuk bersaing dengan film-film besar garapan studio besar yang rilis di bioskop. Harlin terbukti memiliki sentuhan kuat, dan ia pun masih mampu menghadirkan bintang-bintang ternama dalam filmnya, sementara naskahnya pun sesungguhnya tidak buruk-buruk amat. Untuk film bencana berskala macam ini, salah satu kekuatannya adalah set yang meyakinkan dan ini yang tidak bisa dihadirkan filmnya. Rasanya tidak perlu membuang waktu menonton di bioskop karena tidak lama pasti muncul di platform digital.

The post Deep Water | REVIEW appeared first on montasefilm.

​Deep Water didukung beberapa nama besar dan sineas kawakan, tetapi masih belum cukup kuat menaikkan status selain hanya sebagai B-Action Movie.
The post Deep Water | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link