Apa yang terjadi jika suatu ketika, rumah yang kita tinggali tertutup rapat dan kita sama sekali tidak bisa ke luar? Premis ini yang melandasi kisah The Last House. Film sci-fi thriller ini digarap oleh Louis Leterrier yang pernah menggarap beberapa film aksi populer, sebut saja Transporter, The Incredible Hulk, Now You See Me, hingga seri terakhir Fast & Furious. Film rilisan Netflix ini dibintangi oleh Greta Lee, Wagner Moura, Arden Cho, serta Gabriel Barbosa. Bermodal premis uniknya, apakah film ini mampu memberikan sesuatu yang segar untuk genrenya?
Jason (Moura) bersama istrinya, Ann (Lee) dan dua anaknya, Ruth dan Graham, tinggal di sebuah perumahan pinggiran kota tak jauh dari laut. Hujan tak lama melanda wilayah tersebut, tetapi anehnya seluruh warga tidak bisa keluar dari rumah mereka. Jason mencoba cara apa pun, tetapi sia-sia seolah ada kekuatan tak terlihat yang tidak bisa ditembus. Waktu berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa mereka bisa keluar dari rumah. Problem utama mereka adalah persediaan makanan yang hanya cukup untuk beberapa bulan. Tanpa disadari mereka, saat hujan, sesosok monster mulai mengincar mangsanya.
Narasinya mengingatkan film-film karya M. Night Shyamalan, sebut saja Signs dan The Happening. Sejak pembuka, kisahnya begitu mengusik rasa penasaran penonton demikian hebat. Apa yang sesungguhnya terjadi, lalu apa yang menyebabkan semua ini, dan apa motifnya? Hingga waktu berjalan, misteri ini masih saja belum terungkap dan hebatnya, kisahnya tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Sepanjang durasi, kisahnya hanya semata bertahan hidup dan bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Akhirnya, seperti sudah diduga, mereka pun harus bertahan hidup dari para monster yang ingin memangsa mereka. Lantas apa motifnya?
Bagi penikmat film, kisah yang tak gamblang macam ini bisa berarti adalah satu hal. Bencana ini hanyalah simbol atau perwujudan dari sesuatu yang menjadi esensi dari masalah kemanusiaan. Pada momen awal, kisahnya mengingatkan kita pada pandemi COVID-19 yang melanda umat manusia beberapa tahun lalu. Lockdown diberlakukan dan kita pun dipaksa untuk tinggal di rumah dengan tidak bisa beraktivitas normal. Konsekuensi dari ini adalah keintiman keluarga karena selama beberapa waktu kita berkumpul bersama. Ini tercermin betapa hangatnya kebersamaan Jason dan keluarganya. Apakah benar plotnya adalah simbolisme pandemi baru lalu? Tidak juga karena dalam perkembangan ini ada kaitan dengan para monster yang memangsa mereka.
Disinggung dalam kisahnya, walau hanya spekulasi, para monster adalah “makhluk purba” yang menguasai bumi dan lautan sejak jutaan tahun lalu dan kini mereka telah kembali. Tetapi mengapa sekarang? Apa motifnya? Tak ada petunjuk sedikit pun dalam plotnya. Beberapa kejanggalan juga membuat lubang plot yang tidak terampuni. Belum jelas bagaimana mereka bisa menutup rumah hingga sekuat itu? Ilmu sihir atau apa? Jika mereka bisa masuk ke dalam rumah semaunya, mengapa mereka tidak kembali masuk dan menghabisi Jason dan keluarganya? Apa kekuatan dan kelemahan mereka? Tidak ada aturan main atau pola yang tegas, berbeda dengan monster dalam A Quiet Place yang melacak melalui sumber suara sekecil apa pun.
Motif ekologis menjadi argumen yang tampak masuk akal sebagai pesan kuat bagi kisahnya. Perumahan warga yang padat kini berubah menjadi hutan belantara yang mengembalikan alam dan para binatang seolah kembali ke habitat mereka. Tetapi semua ini tidak ada petunjuk yang mengarah ke sini dan apa salah manusia? Jika saja DVD yang mereka tonton adalah The Day After Tomorrow bukannya Air Force One, ini mungkin bisa memperkuat. Kisahnya membiarkan penonton berspekulasi dengan banyak alasan yang semuanya tidak pernah eksis. Semua serba absurd dan tak masuk akal. Jika motifnya adalah kekuatan “family”, kita pun tidak melihat adanya masalah dalam keluarga Jason sejak awal. Semuanya aman dan damai, kecuali pondasi rumah mereka yang semakin lama semakin amblas.
The Last House memiliki premis unik yang mengusik rasa penasaran dari waktu ke waktu, tetapi hingga akhir tak ada motif dan pesan yang cukup untuk membuat kisahnya setimpal untuk ditonton. Film ini ibarat menarik kita ke dalam sebuah labirin tanpa memiliki niat untuk mengeluarkan kita dari sana. Entah apa pun motifnya, pandemi, lingkungan, keluarga, atau hanya sekadar bertahan hidup, tidak ada sesuatu yang memikat kita untuk sekadar menikmati filmnya. Walau para kastingnya tidak ada yang mengecewakan, tetapi penonton butuh sesuatu yang mampu membuat kita bersimpati dan mengapa mereka harus hidup.
The post The Last House | REVIEW appeared first on montasefilm.
The Last House memiliki premis unik yang mengusik rasa penasaran dari waktu ke waktu, tetapi hingga akhir tak ada motif yang cukup untuk membuat kisahnya setimpal untuk ditonton.
The post The Last House | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm





