Sudah menjadi tradisi studio A24 selama ini merilis film-film yang unik dan nyeleneh. Demikian pula dengan The Death of Robin Hood, yang kisahnya mungkin bukan sesuatu yang menjadi ekspektasi banyak orang. Film ini digarap oleh Michael Sarnoski, yang kita kenal lewat Pig (2021) dan A Quiet Place: Day One (2024). Naskahnya diadaptasi secara lepas dari Robin Hood’s Death, sebuah kisah yang ditulis pada abad ke-17. Film ini dibintangi oleh Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgård, Murray Bartlett, dan Noah Jupe. Lantas, apakah film ini mampu memenuhi ekspektasi tinggi sebagaimana tradisi rilisan studionya?
Sang legenda, Robin Hood (Jackman), kini dikisahkan sebagai sosok kriminal yang diburu banyak orang akibat perbuatannya di masa silam. Ia memilih hidup menyendiri di tempat yang terisolasi. Sahabat lamanya, Little John (Skarsgård), meminta bantuan Robin untuk membebaskan seorang perempuan dan putrinya, yang suaminya dahulu dibunuh oleh John. Robin menyanggupi permintaan itu, tetapi mendapat perlawanan sengit dari pihak lawan yang rupanya ingin membalas dendam kepadanya. Robin terluka parah, lalu sang sahabat membawanya ke sebuah biara di pulau terpencil, tempat seorang biarawati merawatnya. Di sanalah Robin menemukan banyak hal yang membuatnya merenungi masa lalunya yang kelam.
Kisahnya bukan sesuatu yang lazim kita dengar tentang legenda Robin Hood selama ini. Sang pahlawan sekaligus pemanah ulung yang kita kenal sebagai penolong rakyat kecil dengan merampas harta para bangsawan justru digambarkan secara berlawanan. Pada versi ini, Robin adalah seorang kriminal keji yang membunuh orang secara brutal tanpa belas kasihan, bahkan perempuan dan anak-anak. Satu adegan brutal di babak pertama sudah cukup menggambarkan sisi gelap tersebut dengan sangat tidak nyaman. Bahkan seorang bocah pun tak luput dari sasaran anak panahnya.
Untuk melihat film ini lebih dalam, tentu tak lepas dari sentuhan dan gaya sang sineas yang memang menyukai olahan cerita semacam ini. Baik Pig maupun A Quiet Place: Day One menggambarkan seorang protagonis yang telah melewati masa emasnya, dengan kisah yang didominasi renungan atas masa lalu mereka. Robin Hood pun demikian. Hanya saja, kali ini sang sineas menunjukkan talenta estetiknya lebih jauh melalui sinematografi dan penataan latar yang sangat memukau. Dengan alur yang lambat, kamera berkomposisi solid dan terukur mengikuti Robin di tengah latar yang kelam, gelap, dan dingin; mulai dari kastel megah hingga pulau terpencil yang bernuansa mistis.
Nyaris semua adegannya secara visual memiliki nuansa yang sama, menggambarkan kondisi mental sang protagonis yang terluka begitu dalam. Dialog-dialog mengalir perlahan dan merefleksikan bagaimana para karakternya, termasuk sang biarawati dan lelaki tua penderita lepra, berusaha berdamai dengan masa lalu mereka. Kisahnya memang bukan untuk penonton awam yang mengharapkan aksi-aksi intens dan dinamis, justru sebaliknya. Baik cerita maupun kemasan estetiknya sama-sama mengusung konsep kontemplatif yang menjadi landasan perjalanan batin seluruh karakternya.
Adegan klimaks sekaligus penutup menjadi segmen yang paling menyentuh dan dikemas apik oleh sang sineas dengan sangat cermat. Bukan semata karena isi adegannya, melainkan kemasan visualnya yang begitu mengesankan ketika Robin menolak lukanya ditutup oleh sang biarawati. Secara elegan, adegan ini memberikan penghormatan kepada sosok ikonik tersebut melalui dialog dan rangkaian shot yang indah: Margareth kecil yang perlahan menarik busurnya, darah yang membekas di atas kain, hingga cangkir bekam yang mulai dipenuhi darah. Sang sineas mengeksekusinya dengan nyaris sempurna dari sisi teknis.
Brutal, kontemplatif, dan melawan tradisi kisah Robin Hood yang selama ini kita kenal, The Death of Robin Hood adalah tontonan yang mungkin terasa tidak nyaman bagi penonton awam. Namun, talenta sang sineas tidak bisa dianggap remeh. Baik studio maupun sutradaranya sama-sama menunjukkan konsistensi dalam menghadirkan film bertema unik dengan kemasan estetik yang tak kalah khas. Dari sisi box office, film ini jelas bukan calon sukses komersial. Namun, dari sisi eksplorasi cerita dan pendekatan genrenya, film ini terlalu menarik untuk dilewatkan. Walau belum selevel Pig, yang menurut saya jauh lebih superior, saya tetap menantikan dengan antusias karya sang sineas berikutnya.
The post The Death of Robin Hood | REVIEW appeared first on montasefilm.
Brutal, kontemplatif, dan melawan tradisi kisahnya, The Death of Robin Hood adalah tontonan yang tidak nyaman bagi awam, tapi talenta sang sineas tidak bisa dianggap remeh.
The post The Death of Robin Hood | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm





