The Odyssey adalah salah satu film yang paling dinanti tahun ini dengan segala kontroversi netizen yang melingkupinya. Gaung film ini sudah terdengar beberapa tahun lalu, mulai dari pengumuman casting para pemain, proses produksi yang menggunakan kamera IMAX secara penuh, hingga pemilihan lokasi syuting. Tak banyak sineas selain Christopher Nolan yang mampu menciptakan “kehebohan” semacam ini. Film berbujet USD 250 juta ini dibintangi Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Samantha Morton, Zendaya, John Bernthal, serta Charlize Theron. Akankah The Odyssey kembali menjadi salah satu karya terbaik sang sineas?
Kisah klasik karya Homer yang telah berusia ribuan tahun ini sudah beberapa kali diadaptasi ke medium film pada era modern, sebut saja miniseri The Odyssey (1997), Troy (2004), hingga The Return (2024). Miniserinya boleh jadi merupakan adaptasi yang paling setia terhadap karya aslinya, sementara Troy dan The Return hanya mengisahkan beberapa penggal dari kisah panjang tersebut. Christopher Nolan kini mencoba menafsirkan kembali kisahnya secara utuh, meski banyak detail cerita yang terlewat. Tentu saja dibutuhkan durasi yang sangat panjang untuk mengadaptasi keseluruhan kisah aslinya. The Return, misalnya, menyuguhkan cerita yang jauh lebih rinci, sementara dalam film garapan Nolan, bagian tersebut baru muncul pada babak ketiga.
Kisah The Odyssey memiliki rentang waktu sekitar 20 tahun, sebelum dan sesudah Perang Troya. Inti ceritanya adalah perjalanan Raja Odysseus (Damon) kembali ke kampung halamannya, Pulau Ithaca, setelah meraih kemenangan gemilang dalam Perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun. Dalam perjalanan pulang, ia dan para pengikutnya mengembara selama bertahun-tahun dari pulau ke pulau, bertemu dengan berbagai entitas unik, di antaranya penyihir Circe, Cyclops, Sirens, dan makhluk-makhluk mitologi lainnya. Sementara itu di Ithaca, konflik perebutan kekuasaan terjadi setelah dua dekade sang raja belum juga kembali. Banyak bangsawan berusaha meminang Ratu Penelope (Hathaway), hingga akhirnya sang putra, Telemachus (Holland), memutuskan pergi untuk memastikan keberadaan ayahnya.
Apakah hal ini menjadi masalah bagi penonton yang belum mengenal kisah aslinya? Untuk penonton awam, bisa jadi ya. Namun, bagi penikmat film yang sudah akrab dengan gaya sang sineas, hal tersebut mungkin bukan persoalan. Ada baiknya memang penonton mengetahui kisah aslinya, setidaknya untuk memahami linimasa ceritanya. Nolan, seperti biasa, menggunakan gaya bertutur nonlinier yang telah menjadi ciri khas film-filmnya. Alur ceritanya bergerak maju-mundur, dan sebagian besar peristiwa dituturkan melalui segmen kilas balik yang tentu berpotensi membingungkan. Jika setidaknya mengetahui garis besar kisahnya, penonton akan lebih mudah menikmati ceritanya. Bagi saya, The Odyssey justru tergolong film Nolan yang paling mudah diikuti dibandingkan Oppenheimer maupun Tenet.
Seperti kebanyakan film Nolan, penonton hanya perlu bersabar dan tidak perlu memaksakan diri memahami seluruh alur sejak awal. Cukup nikmati setiap perjalanannya, dan sang sineas akan memberikan penekanan pada momen-momen penting yang menjadi kunci cerita. Bagi yang sudah menonton miniserinya atau setidaknya The Return, rasanya akan lebih mudah mengikuti kisahnya. Struktur cerita yang berupa perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain dengan panorama yang terus berganti membuat film ini nyaris tak pernah terasa membosankan. Setelah cukup lama berurusan dengan dunia mistik dan monster, segmen penghujung akhirnya menyajikan klimaks aksi yang teramat intens.
Fokus Nolan dalam The Odyssey tampaknya bukan semata pada kisahnya, melainkan pada pengalaman menonton melalui sajian visual dan audionya. Bila menontonnya di layar IMAX, pengalaman tersebut tentu akan terasa jauh lebih imersif. Kamera IMAX yang begitu besar ternyata tidak membuat komposisi shot terlihat statis atau kaku, tetapi justru mampu membawa penonton masuk ke dalam dunia kisahnya melalui komposisi gambar yang sangat terukur. Nolan yang kembali meminimalkan penggunaan efek visual digital membuat banyak adegan terasa lebih nyata, seperti pada kemunculan Cyclops, para prajurit raksasa, maupun ratusan mayat hidup yang muncul dari balik pasir. Tak kalah mengesankan adalah skor musik garapan Ludwig Göransson, yang kembali berkolaborasi dengan Nolan setelah Oppenheimer. Nuansa sekaligus hentakan musik khas komposer asal Swedia tersebut kembali terasa begitu kuat untuk mendukung intensitas adegannya.
The Odyssey adalah sebuah epik petualangan klasik yang diwujudkan dalam pencapaian audiovisual yang imersif dengan gaya penceritaan khas Nolan, didukung deretan pemeran yang memukau, serta mengandung pesan yang sangat relevan dengan situasi global saat ini. Di balik seluruh pencapaian teknisnya, film ini berbicara tentang penebusan dosa dan harga yang harus dibayar melalui perjalanan panjang serta penderitaan yang berkepanjangan. Melalui segmen penghujungnya, semua itu dijawab secara tegas dan menyentuh. Film ini bukan hanya menjadi salah satu karya terbaik Christopher Nolan, tetapi juga salah satu film antiperang terbaik pada masanya. Nolan sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah salah satu talenta paling langka yang dimiliki dunia sinema, dengan karya-karya besar yang akan terus kita nantikan. Menjawab semua kontroversi kasting yang ada dalam film ini, saya respon mengutip kata-kata Nolan sendiri, “semuanya tidak valid jika belum menonton filmnya”.
The post The Odyssey | REVIEW appeared first on montasefilm.
The Odyssey adalah sebuah epik petualangan klasik yang diwujudkan dalam pencapaian audiovisual yang imersif dengan gaya penceritaan khas Nolan, didukung deretan pemeran yang memukau, serta mengandung pesan yang sangat relevan dengan situasi global saat ini.
The post The Odyssey | REVIEW appeared first on montasefilm. montasefilm



