The End of Oak Street | REVIEW

The End of Oak Street menjadi film penutup produksi studio besar pada liburan musim panas tahun ini. Film sci-fi survival thriller ini digarap dan ditulis oleh David Robert Mitchell yang kita kenal melalui film horor berkualitas It Follows. Sineas kawakan J.J. Abrams duduk di kursi produser. Film ini dibintangi dua pemain besar, yakni Anne Hathaway dan Ewan McGregor, didampingi Maisy Stella dan Christian Convery. Akankah film bertema unik ini memberikan sentuhan segar bagi genrenya?

Berlatar cerita tahun 1982, Greg (McGregor) dan Denise (Hathaway) bersama dua anaknya, Audrey (Stella) dan Brian (Convery), tinggal di sebuah pemukiman nyaman di pinggiran kota. Dua anaknya menyadari bahwa kedua orang tua mereka telah memiliki pandangan hidup berbeda yang berada di ambang perpisahan. Suatu ketika, anomali tak wajar terjadi di pemukiman luas tersebut, diawali dengan cahaya terang di langit. Keesokan harinya, siapa menyangka binatang-binatang prasejarah berseliweran di lingkungan perumahan. Belum selesai rasa terkejut dengan situasi yang terjadi, mereka pun harus bertahan hidup dari para predator yang ingin memangsa mereka.

Premisnya sungguh mengejutkan dan terasa segar, ibarat kisahnya memadukan cerita Jurassic Park dan Jumanji dengan tone film-film fiksi ilmiah dan petualangan era 1980-an. Bukan alien yang datang ke Bumi, tetapi para dinosaurus yang datang dari jutaan tahun lalu. Bagaimana ini bisa terjadi? Pertanyaan ini bukan menjadi fokus kisahnya, tetapi bagaimana mereka bertahan hidup. Beberapa momen kisahnya mengingatkan The Last House yang rilis di Netflix minggu lalu. Bedanya, di dalam rumah pun bukanlah situasi yang 100% aman bagi mereka. Mau tak mau, mereka pun harus keluar dari rumah karena masih banyak warga di sekeliling mereka.

Berbeda dengan tiga dekade lalu, film ini rasanya mustahil eksis, tetapi kini, dengan teknologi efek visual saat ini, rasanya tidak sulit untuk dibuat. Dalam satu kisahnya, kita bisa melihat ragam dinosaurus dari ukuran mini hingga raksasa, sama banyaknya dengan seluruh dino dalam seluruh seri Jurassic Park (JP). Uniknya, desain dinosaurus pun agak berbeda dengan seri JP. Konon, kini lebih realistis (berdasarkan riset) dengan membuat kulit mereka banyak yang berbulu. Hasilnya mungkin terlihat aneh karena kita telah terbiasa dengan visualisasi dino dalam seri JP. Pergerakan mereka pun tak jauh berbeda. “Velociraptor” masih terlihat lincah dan ganas hingga T-Rex berukuran raksasa yang memburu mangsanya dengan persisten.

Aksi-aksinya pun terhitung intens dalam banyak momennya walau terasa agak repetitif (dikejar dino). Selera humor pun disajikan berkelas tanpa sisi komedi sengaja dihadirkan, tetapi melalui elemen visual. Misal saja, ketika T-Rex yang datang dari arah belakang tanpa disadari oleh karakternya, lalu “ular raksasa” yang masuk ke dalam rumah yang seolah panjangnya tak berujung. Aksi-aksi intens ini cukup memancing tawa seisi bioskop. Tercatat pula terdapat hal-hal mengejutkan yang tidak bisa kita antisipasi sama sekali. Penonton pasti mengira rating semua umur (SU) bakal mengabaikan aksi-aksi yang bersifat “brutal”, aturan ini rupanya tidak berlaku di sini. Satu momen mengenaskan dipaksa untuk hadir untuk memunculkan aksi di ending yang bagi saya menjadi masalah terbesar film ini. Sisi moral menjadi pertanyaan terbesar yang amat mengganggu selepas kisahnya berakhir.

The End of Oak Street adalah tontonan menghibur dengan sentuhan keluarga yang kuat. Kausalitasnya masih bisa ditoleransi, tetapi sayangnya, moralitas yang diabaikan di penghujung cerita justru merusak keseluruhan kisahnya. Kisahnya memiliki muatan keluarga yang amat kuat dan nilai etis menjadi fundamental dalam cerita semacam ini. Apa yang dilakukan karakternya di ending adalah satu bentuk egoisme tingkat tinggi yang mengabaikan konsekuensi moral dari aksinya. Bagaimana mungkin kita bisa bersenang-senang di masa depan jika masa lalu dikorbankan? Bisa jadi ini pesan utama filmnya (metafora karakter sang ibu), atau mungkin saya melewati sesuatu?

The post The End of Oak Street | REVIEW appeared first on montasefilm.

​The End of Oak Street adalah tontonan menghibur dengan sentuhan keluarga yang kuat. Kausalitasnya masih bisa ditoleransi, tetapi sayangnya, moralitas yang diabaikan di penghujung cerita justru merusak keseluruhan kisahnya.
The post The End of Oak Street | REVIEW appeared first on montasefilm.  montasefilm 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link